Assalamu'alaikum wr wb. Bismilahirrahmanirrahiim. Semoga kita semua di palanta koo mendapak hidayah ilmu yang benar dari Allah swt amin Kalau ambo marujuk sebuah hadist itu sahih atau tidak sahih, lamah atau palsu, hanya marujuk kapado kato2 yang diucapkan oleh Rasul(Wahyu) yang tatulis dalam Al Quran dan dijamin kebenarannya oleh Allah sampai hari kiamat, kan begitu? Sedangkan yang lain untuk manantukan sahih atau tidak sahihnya sebuah hadist yang sudah barada di tengah2 masarakat marujuk kepada perawi2, ulama zaman, dan yang dinaggap saleh. Disikolah latak masalah perbedaan ambo jo kawan2. Ambo hanyo beriman kepada Allah(al Quran nan esa dan tidak manyirikan dengan yang lain lain(perawi2.). Rasul mengikuti Allah(Al Quran) mengikuti Rasul artinya mengikuti Allah swt.Jadi mengikuti sunnah Rasul adalah mengikuti Al Quran, bukan sunnah yang berhubungan dengan budaya Arab. Jadi ambo selalu mengikuti nasehat orang tua dan guru2 ngaji ambo waktu kecil. Dan satelah ambo palajari patuah urang tua ambo dan guru2 ambo di surau dulu yoo banaa.untuk manyaring sahih atau tidaknyoo liheklah Al Quran. Kalau hadist itu untuk manjalehkan ayat2 Allah bararti hadist itu sahih, kalau tidak untuk menarangkan dohh, artinya bisa tidak sahih, bisa palsu dan menerangakn budaya Arab. Sdr.Ahmad, mari kito liek al Quran apokah hadits,"tuntutlah imu sampai kanagari China sekalipun" Rasul menyampaikan peraturan Allah kepada umatnya.QS.49:13,30:22 sebagai berikut. "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku(bermacam agama, budaya, dan bahasa) supaya kamu saling kenal mengenal. (saling belajar, dan saling berbuat kebaikan, saling kunjung mengunjungi)Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. 49:13.)Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. .(QS.30:22.). Jadi kalau kito bandingkan hadits diatas, jalehlah bahwa hadist itu sahih, tidak bertentangan, tapi menegaskan kembali bahwa umat islam wajib belajar kenegara2 lainnya walaupun kepada bangsa2 non islam. Menurut pengamatan, observasi saya selama ini, kenapa ulama2 Arab tidak mensahihkan hadist tersebut, karena ulama2 Arab menginginkan umat islam di dunia belajar kepada bangsa Arab semata. Pendapat ini wajar2 saja, dan mudah dimengerti. Namun Allah menjadikan manusia berbangsa bangsa yang satu dengan yang lain mempunyai kelebihan2 dan hendaklah kamu saling belajar dan saling kenal mengenal.(Tidak boleh di benci dan dimusuhi!) Sekarang ulama2 wahhabi moderat dari Saudi Arabia, mengirim ribuan pemuda2nya belajar ke Universitas2 di Amerika, Canada, Eropah. Pengiriman2 pemuda2 SaudiArabi ke Amerika di tentang keras oleh ulama2 Wahhabi yang koserfatif(Radikal). Hampir semua posisi2 penting di pemerintahan di Saudi Arabi di duduki oleh pemuda2 educated dari Amerika atau Barat. Sedangkan pemuda2 Arab yang tidak mau belajar dari ilmu Barat mereka mendapat posisi2 yang tidak penting, karena tidak ada ilmu lain selain al Quran,hadist, fiqih, dll. Kesimpulan peraturan2 Allah(wahyu) haruslah sama, saling menguatkan dengan hadist2 Rasul. Hadist2 itulah yang sahih. Jelas sekali Hadist selalu membawa perbedaan bukan?Kalau al Quran menjadi rujukan umat islam saya kira tidak banyak terjadi perpecahan2 seperti sekarang ini. karena ayat2 Allah itu jelas, terang, dan sempurna.(Ada sih satu2 ayat2 Allah yangbtidak jelas, maka perlu di jelaskan oleh Hadist2) Demikianlah pendapat dan keyakinan saya sdr Ahmad, walaupun berbeda dengan anda masalah hadist, tetap pendapat anda saya hormati.Semoga Allah jualah yang berkuasa membukakan pintu2 ilmu yang benar kepada kita semua di Palanto ko.Terimokasih. wassalamu'alaikum wr wb
Ahmad Ridha <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Bismillahirrahmaanirrahiim, Assalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh, Sebelumnya mohon maaf karena masalah ini pernah dikirimkan ke palanta sebelumnya. Namun melihat hadits "Tuntutlah ilmu ke negeri Cina" kembali didengung-dengungkan maka semoga ada manfaatnya disajikan lagi. Berikut informasi yang saya peroleh dari terj. Silsilatul Ahaadits adh-Dhaaifah wal Maudhu'ah (I/No. 416) (a) serta buku Hadits-hadits Dla'if dan Maudlu' susunan Abdul Hakim bin Amir Abdat (I/No. 103) (b) yang intinya adalah hadits tersebut sangat lemah bahkan dikatakan batil. Mohon maaf jika terlalu 'teknis' namun saya sampaikan di sini agar dapat lebih jelas. Sesungguhnya penentuan derajat hadits secara riwayat merupakan pengamalan perintah Allah subhanahu wa ta'ala (yang artinya): "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (QS. al-Hujuraat 49:6) Apalagi untuk urusan agama yang tentulah tidak pada tempatnya diatur oleh berita-berita dari orang yang tidak terpercaya apalagi pendusta. "Tuntutlah Ilmu walau ke negeri Cina" Dalam (a) disebutkan: ---------- Riwayat ini batil. Ini diriwayatkan oleh Ibnu Adi II/207, Abu Naim dalam Akhbar Ashbahan II/106, al-Khatib dalam at-Tarikh IX/364 dan sebagainya, yang kesemuanya dengan sanan dari al-Hasan bin Athiyah, dari ABU ATIKAH THARIF BIN SALMAN, dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu. Kemudian semuanya menambahkan lafadz fa inna thalabal ilmi faridlatun 'ala kulli muslimin. ... Kelemahan riwayat ini terletak pada Abu Atikah yang telah disepakati muhadditsin sebagai perawi sanad yang sangat dha'if. Bahkan oleh Imam Bukhari dinyatakan munkar riwayatnya. Begitu pula jawaban Imam Ahmad bin Hanbal ketika ditanya tentang Abu Atikah ini. ----------- Imam al-Bukhari yang dikenal sebagai Amirul Mukminin dalam ilmu hadits termasuk yang paling berhati-hati dalam memberi komentar. Ungkapan 'Munkarul hadits' bagi beliau menunjukkan posisi yang sangat lemah. Dalam (b) disebutkan: ------------ Berkata al-Imam Ibnul Jauzi di kitabnya al-Maudhu'aat (12/16), "Hadits ini tidak sah dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ... adapun Abu Atikah, telah berkata Bukhari: Munkarul Hadits. dan telah berkata Ibnu Hibban: hadits ini batil tidak ada asalnya. ------------ Dalam (b) disebutkan: ------------ Telah berkata al-Baihaqy di kitabnya al-Madkhal (hal. 242) dan di kitabnya Syu'abul Iman (4/291 dan ini lafadznya), "Hadits ini matannya masyhur sedangkan isnadnya dla'if. Dan telah diriwayatkan dari beberapa jalan (sanad) yang semuanya dla'if." ------------ Sedangkan mengenai jalur periwayatan di Kitab al-'Ilm karya Ibnu 'Abdil-barr dijelaskan oleh seorang teman saya. ---------------- [Ana katakan] Kitab Al-'Ilm oleh Ibnu 'Abdil-barr, lebih dikenal dengan Jami' Bayanil-'Ilmi Wa Fadhlihi, halamannya kurang lebih tepat, berada di Juz Pertama. Susunan sanadnya sbb : Ibnu ‘Abdil-barr berkata - mengabarkan kepada kami Ahmad, katanya, mengabarkan kepada kami Maslamah, katanya, mengabarkan kepada kami Ya’qub ibnu Ishaq ibnu Ibrahim Al-‘Asqalaniy, katanya, mengabarkan kepada kami ‘Ubaid ibnu Muhammad Al-Firyabiy, di Baitul-Maqdis, katanya, mengabarkan kepada kami Sufyan ibnu ‘Uyainah, dari Az-Zuhriy, dari Anas ibnu Malik, katanya, Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tuntutlah ‘ilmu walau ke negeri Cina, karena sesungguhnya menuntut ‘ilmu wajib atas setiap Muslim.” Hadits ini diisyaratkan Maudhu’ [palsu]. Karena terdapat seorang perawi pendusta bernama, Ya’qub ibnu Ishaq ibnu Yazid ibnu Hajar Al-‘Asqalaniy. Awal salin : Ibnu Hajar Al-‘Asqalaniy berkata [ketika menerangkan biografi Ya’qub ibnu Ishaq Al-‘Asqalaniy], dia adalah seorang pendusta. Dan telah meriwayatkan Ibnu ‘Abdil-barr, dalam Kitabil-‘ilm, menceritakan kepada kami Ahmad ibnu ‘Abdillah, menceritakan kepada kami Muslim ibnu Qasim, darinya [Ya’qub ibnu Ishaq], dan diriwayatkan dari selainnya [kepada Ya'qub], dari ‘Ubaidillah ibnu Muhammad Al-Firyabiy, dari Sufyan, dari Az-Zuhriy, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, marfu’, “Tuntutlah ‘ilmu walau ke negeri Cina, karena sesungguhnya menuntut ‘ilmu wajib atas setiap Muslim.” [Lisanul-Mizan no.1090 (6/304), oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalaniy] ---------------- -- Ahmad Ridha ibn Zainal Arifin ibn Muhammad Hamim (l. 1980M/1400H) _____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________ --------------------------------- Discover Yahoo! Find restaurants, movies, travel & more fun for the weekend. Check it out! _____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

