Suai tu sanak Ahmad Ridha, 'ala kulli hal Ingkar Sunnah ko adolah sasek.
Mungkin rang Mu'tadzillah adolah repsresent nyo dalam Islam.

Sabanano inti tulisan ambo kapatang adolah untuak penguat bahwasonyo si
Malin adolah labiah sasek dari rang Ingkar Sunnah :)

Mohon maaf jiko ado salah pengertian.Injan rusuak bagai sanak Ahmad lai,
insyaAllah kito masih mamakai ushulul 'isysrin-nyo Imam Hasan Al-Bana
sebagai barometer (off course setelah al-Qur'an dan Al-Hadist) sebagai
filter.

Anyway, mokasih buaek repson sanak. Sampaikan sen salam ambo jo anak-anak
gonjong limo di Bogor yo.

CMIIW
Abu Fali :)

-----Original Message-----
From: Ahmad Ridha [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Saturday, June 04, 2005 8:55 PM
To: [email protected]
Subject: Re: Akhirnya kedok Malin(g) terbuka juga ----was>>RE:
[EMAIL PROTECTED] ( Nan ka 18.) Kunci sukses ukhuwah islam yang
hakiki.(Basambung)


JASMAN SAMSU wrote:

>Assalamu'alaykum Warahamtullahi Wabaokatuhu,
>  
>
Wa 'alaikumus salaam warahmatullahi wabarakaatuh,

>Cieklai nan paralu dicatat, beda urang ingkar sunnah jo Malin ko
adolah,jiko
>rang ingkar sunnah inyo indak sampai ka mangatokan urang Amerika sahabat,
>urang kapia (selain Islam) akan masuak sarugo, [pendek kato hanyo indak
>pacayo jo SUNNAH NABI]<---CMIIW.
>
Pak Jasman, inkar sunnah baik secara keseluruhan atau pun sebagian 
adalah pemahaman yang rusak dan tidaklah patut ada dalam diri seorang 
mukmin.

Sungguh kedustaan yang besar jika para pengingkar sunnah berkata bahwa 
mereka berpegang pada al-Qur'an karena Allah subhanahu wa ta'ala 
berfirman (yang artinya):

"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka 
menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian 
mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang 
kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS. an-Nisaa' 4:65)

Satu ayat tadi telah cukup menunjukkan kualitas iman para pengingkar itu 
sedangkan ada banyak sekali ayat-ayat al-Qur'an yang menunjukkan 
kewajiban untuk taat kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Allah azza wa jalla berfirman (yang artinya):

"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, 
niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha 
Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Aali Imraan 3:31)

Diumbarnya sebagian yang dikiranya mendukung penyimpangannya tersebut 
walaupun harus menafsirkannya dengan akalnya sendiri dan dilemparnya 
yang lain sambil mengira bahwa kebenaran akan tersembunyi. Dihinakannya 
sunnah dengan lidah-lidah dusta mereka; berita lemah dan palsu pun 
dipungutnya tanpa rasa malu seraya menginjak-injak as-Sunnah ash-Shahihah.

Cukuplah sebagai panduan bagi orang-orang beriman firman Allah subhanahu 
wa ta'ala (yang artinya):

"Katakanlah: "Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka 
sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir"." (QS. Aali Imraan 
3:32)

Setelah jelas betapa mereka meremehkan perintah Allah dan Rasul-Nya maka 
ada panduan untuk orang-orang beriman dari Allah azza wa jalla dalam 
firman-Nya (yang artinya):

"Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, 
maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang 
lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka 
janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang lalim itu sesudah teringat 
(akan larangan itu).

Dan tidak ada pertanggungjawaban sedikit pun atas orang-orang yang 
bertakwa terhadap dosa mereka; akan tetapi (kewajiban mereka ialah) 
mengingatkan agar mereka bertakwa." (QS. al-An'aam 6:68-69)

Nasihat telah diberikan, peringatan telah disampaikan. Mungkin memang 
sudah saatnya untuk 'berpisah tempat duduk'.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda (yang artinya):

“Berpeganglah dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang 
terbimbing, gigitlah dengan gerahammu dan hati-hatilah kamu terhadap 
perkara yang baru karena sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah sesat.” 
(HR. Ahmad, at-Tirmidzy, al-Hakim, al-Baghawy)

Imam Az Zuhry berkata (yang artinya):

“Berpegang dengan As Sunnah itu adalah keselamatan. Dan ilmu itu 
tercabut dengan segera maka tegaknya ilmu adalah kekokohan Islam 
sedangkan dengan perginya para ulama akan hilang pula semua itu (ilmu 
dan agama).” (al-Laalika-i dan ad-Darimy)

Wa Allahu a'lam. Semoga Allah menunjuki kita semua ke jalan yang lurus 
dan menetapkan kita di atasnya.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,

-- 
Ahmad Ridha ibn Zainal Arifin ibn Muhammad Hamim
(l. 1980M/1400H)




_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke