Dari Waspada Medan 6 Juni 2005 kito baco:
Berita - International
06 Jun 05 09:13 WIB
Bocah Aceh Jadi Jutawan
* Di Portugal Martunis Terima Rp. 460 Juta, Belum Termasuk Rumah, 22 Sofa,
30 Kursi
Lisbon, WASPADA Online
Laporan Wartawan Waspada dari Lisbon, Portugal
Tuan rumah Portugal berhasil mengalahkan Slovakia 2-0 dalam pertandingan
Grup 3 Kualifikasi Piala Dunia 2006 di Estadio da Luz, Lisbon, Minggu (5/6)
dinihari WIB. Namun pemenang utamanya pada malam itu adalah seorang bocah
"ajaib" dari Aceh yang berusia delapan tahun.
Martunisnama bocah itusedang menghadapi persimpangan nasibnya yang berbelok
tajam dari musibah tsunami menjadi jutawan cilik gara-gara memakai kostum
tim sepabola Portugal ketika ditemukan selamat di Banda Aceh, Januari lalu.
Ia kini berada di kota Lisbon, ibukota Portugal, di lingkungan "keluarga
baru" yang menerimanya dengan hangat dan penuh kasih.
Hari Rabu (1/6) lalu Martunis tiba di Lisbon, Portugal. Ia diterima
Presiden Federasi Sepak Bola Portugal (FPF, Federacao Portuguesa de
Futebol), Gilberto Madail yang lantas memberinya hibah uang senilai �40
ribu (Rp460 juta). Uang tersebut dipersembahkan secara simbolis dalam
bentuk cek sebelum pertandingan kemarin oleh Presiden FIFA, Joseph S.
Blatter, bersama Manuel Rui Costa, mantan pemain Portugal yang kini menjadi
legenda.
FPF membawa Martunis ke Lisbon bersama ayahnya, Sarbini, dan dokter
pribadinya, Teuku Taharuddin. Mereka berhasil lolos dari pengetahuan
seluruh media di Indonesia. Tak ada satu pun media dari Indonesia yang
meliput keberadaan Martunis kecuali Waspada. Kedatangan Martunis dibantu
oleh Duta Besar Portugal di Indonesia, Jose Braga Saints dan KBRI di Portugal.
Mereka juga didampingi Francisco Eusebio Paradise, pemain legenda Portugal
era 1960-an. Ini menjadi pertandingan besar di Lisbon. Selain kehadiran
Presiden FIFA, pertandingan malam itu turut disaksikan di hadapan Perdana
Menteri Portugal, Jose Manuel Durao Barroso, dan Presiden Portugal, Jorge
Sampaio. Pertandingan tersebut dipimpin oleh wasit terkemuka asal Italia,
Pierluigi Collina, yang terkenal dengan kepala plontosnya. Sebanyak 65 ribu
pendukung Portugal memadati stadion Estadio da Luz di kota Lisbon.
Uang �40 ribu tersebut belum termasuk hadiah sebuah rumah di Aceh yang
disumbangkan pelatih timnas Portugal yang berkewarganegaraan Brazil, Luis
Felipe Scolari (atas nama tim nasional Portugal). "Rumah itu untuk Martunis
yang harus melanjutkan hidup hanya dengan ayah dan kakeknya," ujar Scolari.
Untuk mengisi rumah tersebut, Martunis diberikan berbagai macam
perlengkapan rumah persembahan Pemerintah Portugal. Antara lain 22 buah
sofa, empat guling, 30 kursi, 9 lukisan, 14 meja, dua lemari sepatu, dua
tempat tidur, sebuah bar, 8 cermin, lemari buku, dan perlengkapan kamar mandi.
Hari Kamis (2/6) lalu Martunis berkunjung ke Oeiras, markas tim nasional
Portugal. Di sana ia bertemu dengan idolanya, Cristiano Ronaldo asal klub
Manchester United, yang kemudian memberinya sebuah kostum orisinal tim
nasional Portugal. Pada kostum itu tertulis "Martunis" dengan nomor
punggung 1 disertai tanda tangan seluruh pemain timnas Portugal. Lantas,
Martunis pun diberikan pelukan hangat oleh Cristiano Ronaldo. Bukan saja
Ronaldo yang kemudian bisa dijumpainya, tapi seluruh pemain asuhan Scolari.
Ada kapten Luis Figo, Deco Souza, Maniche, Ricardo Quaresma, Pauleta, Paolo
Ferreira, Deco, Alex, Ricardo, dan lain-lain.
Kemarin ini pengalaman baru lain bagi Martunis. Sebelum pertandingan
Portugal vs Slovakia di ajang kualifikasi Piala Dunia 2006, Martunis masuk
ke lapangan dengan digandeng kapten Portugal, Luis Figo. Ia kemudian
menyalami semua pemain Slovakia dan Portugal, termasuk kapten kesebelasan
Slovakia, Varga Stanislav.
"Kedatangan Martunis sudah kami janjikan sejak lama," ujar Gilberto Madail,
Presiden FPF kepada Waspada. "Martunis diberikan uang sebesar 40 ribu euro
untuk masa depannya. Sementara ini, Martunis dapat menikmati Lisbon."
Martunis sendiri kini menjadi inspirasi bagi semua pemain timnas Portugal
yang belum pernah juara Piala Dunia. Kepada Waspada, Cristiano Ronaldo
menambahkan, "Saya merasa bangga menjadi pemain idola Martunis. Ternyata
dia suka melihat aksi saya di Manchester United."
"Apa yang dialami Martunis adalah mukjizat. Kini ia dapat menjadi inspirasi
bagi kami, karena dia adalah tipe orang yang tak mudah menyerah."
Kehilangan hampir seluruh keluarga tentu pengalaman paling pahit dalam
hidup Martunis. Namun, di balik kekelaman itu, Martunis mendapat
penghiburan lain dari sebuah bangsa yang terpisah ribuan kilometer jauhnya
dari Aceh.
Kisah Martunis
Kisah Martunis bermula dari bencana tsunami di Nanggroe Aceh Darusalam, 26
Desember 2004. Saat gelombang besar datang, rumah keluarga Martunis musnah.
Namun, Martunis selamat karena tersangkut di sebuah batang pohon bangka.
Berpakaian kaus tim nasional sepakbola Portugal, ia bertahan selama 19 hari
di sebuah pantai kecil dengan hanya minum air hujan dan sisa-sisa makanan
seperti mie instan kering yang kebetulan terapung di sekitarnya. Siswa
kelas tiga SD Desa Tibang Banda Aceh itu hanya mengalami luka kecil akibat
terkena goresan kayu di perut dan kulitnya mengelupas akibat terus-terusan
berada di laut siang dan malam.
Pada 15 Januari 2005, Martunis ditemukan oleh penduduk Pantai Kuala dalam
kondisi lemah. Kebetulan saat itu, kru sebuah televisi dari Inggeris
meliput di kawasan itu. Gambar Martunis pun beredar di seluruh stasiun
televisi Eropa. Ia menjadi salah satu korban tsunami di Aceh yang bertahan
hidup setengah bulan lebih. Serta-merta, Martunis menjadi perbincangan
dunia. Para pemain sepakbola Portugal pun bersimpati kepada Martunis,
demikian juga pengurus persatuan sepakbola Portugal.
Seandainya hari itu Martunis tidak mengenakan kostum tim nasional Portugal,
kemungkinan hanya air mata dan duka yang masih tercecer hingga sekarang
dari bencana besar tsunami. Kostum tim nasional Portugal bernomor punggung
10 yang biasa dipakai Manuel Rui Costa telah mengubah nasib Martunis dan
keluarganya yang masih tersisa.
Martunis sendiri yang ditanyai Waspada mengaku memang penggemar berat Rui
Costa. "Kalau beli baju bola, Tunis selalu minta nomor punggung 10, yang
lain tak mau dia," ujar Sarbini. Inilah barangkali hikmah yang sedang
memayungi anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Sarbini dan Salwa dari
Desa Tibang Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh.
Salwa, ibu Martunis dan dua saudara laki-laki dan perempuannya, Nurul A'la
(12) dan Annisa (2), tersapu tsunami, bencana yang memakan korban tewas
lebih dari 217.000 dan jutaan orang kehilangan rumah di Propinsi Aceh. Kala
itu, Scolari mengatakan, "Seorang anak kecil selamat dari tsunami dengan
mengenakan kostum kebanggaan kita. Ini luar biasa."
Tak lama kemudian, para bintang Portugal seperti Cristiano Ronaldo, Nuno
Gomes, Luis Figo serta Ketua Federasi Sepakbola Portugal, Gilberto Madail,
turut memberikan perhatian istimewa terhadap bocah lelaki hitam itu.
Sarbini menjemput anaknya setelah mendengar kabar dari orang lain. Sarbini,
seorang buruh tambak, bersama ayahnya dan Martunis berkumpul kembali tanpa
isteri dan dua anaknya lagi.
Menurut Sarbini, Martunis meminta dibelikan kostum berwarna merah dan hijau
itu saat demam piala dunia melanda dua tahun lalu. "Saya sangat menyukai
kostum itu, dan selalu saya pakai ke mana-mana, terutama kalau sedang
bermain sepak bola dengan teman-teman," ujar Martunis malu-malu. (Bima
Prameswara)
(am)
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Anti-Virus.
Version: 7.0.323 / Virus Database: 267.6.2 - Release Date: 6/4/2005
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________