http://www.padangekspres.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=405& PHPSESSID=633dc0aae2af13f25e8c37b216b2a949
Khairiansyah Salman SE * Lawan Korupsi Secara Berjamaah Oleh admin padek 1 Minggu, 29-Mei-2005, 11:16:26 30 klik Ranah Minang yang pernah tercoreng di pentas nasional dengan "kasus korupsi berjamaah" yang dilakukan para wakil rakyat, kini boleh berbangga. Selain daerah ini menjadi "kiblat" bagi pengusutan kasus korupsi APBD di seluruh Indonesia, kini satu lagi generasi muda Minang tercatat aktor utama pembongkar kasus korupsi besar di negeri ini. Khairiansyah Salman (35), pembongkar kasus korupsi KPU merupakan rang awak yang berasal dari Padusunan Kabupaten Padangpariaman. Meski sudah sering terekspos media, namun belum banyak yang tahu, jika Khairiansyah Salman sebenarnya merupakan putra asli Minang. Anak muda yang dilahirkan di Kota Medan, 14 Juli 1969 bapak ibunya berasal dari Padusunan, Padangpariaman. Demikian juga dengan istrinya yang berasal dari Lubukbasung Agam. Berikut petikan wawancara Auditor BPK yang juga instruktur khusus Audit Investigatif dan Anti Penyuapan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) ini dengan Alfitra dari Padang Ekspres yang menemuinya di sela-la Whorshop Anti Fraud Course di Hotel Bumiminang Padang, pekan lalu. Bagaimana tanggapan Anda setelah sukses membongkar upaya penyuapan oleh Mulyana dan korupsi di KPU secara keseluruhan? Biasa-biasa saja. Ndak ada yang istimewa. Kebetulan saja, media mem-blow up kasus ini. Bagi saya pribadi, tak ada yang istimewa. Karena memang sebagai auditor di BPK, saya diberi amanah dan tugas untuk melakukan audit investigatif guna mencari tahu ada kerugian negara atau tidak. Mungkin, karena yang kebetulan terlibat itu Mulyana dan kawan-kawan di KPU, yang selama ini dikenal sebagai akademi dan aktivis LSM yang cukup vokal menentang penyimpangan. Itu saja. Lantas bagaimana kelanjutan kasus ini? Ya, tugas saya bersama kawan-kawan dari BPK dan sudah selesai. Secara lembaga, hasil audit sudah kita serahkan ke KPK maupun DPR. Ya, kabarnya kasusnya akan segera dilimpahkan ke pengadilan. Ndak usahlah kita bahas itu (soal Mulyana dan KPU). Biarlah prosesnya berjalan. Kalau awakko kan badunsanak, soal Mulyana atau KPU, ndak usahlah dulu. Bialah KPK nan manuntaskan. Bialah KPK nan ma-ekspos. Yang lain sajalah. Meski menurut Anda, membongkar beragam korupsi tersebut merupakan hal biasa, tapi bagi warga Sumatera Barat, memiliki nilai tersendiri. Setidaknya Anda dianggap sosok generasi muda Minang yang kembali mengangkat marwah Ranah Minang di pentas nasional. Bagaimana tanggapan Anda? auditor Ya, alhamdullillah. Tapi jangan terlalu dibesar-besarkan. Saya malah merasa mampu memberikan apa-apa terhadap Sumatera Barat, kampung halaman saya. Kalau dibilang, tindakan saya mampu meningkatkan citra Ranah Minang di pentas nasional, sebenarnya masih banyak lagi tokoh-tokoh Minang jauh berbuat yang lebih besar terhadap negeri ini. Namun belum terekspose saja. Dari pengalaman Anda membongkar beragam korupsi, apa yang sebenarnya menjadi penyebab maraknya korupsi negeri ini? Bicara korupsi tidak akan pernah habis-habisnya. Korupsi itu berawal dari kecurangan, atau asing Fraud. Fraud atau kecurangan dapat terjadi dimana saja, di perusahaan, instansi pemerintah, dan organisasi lainnya. Yang pasti dari kecurangan tersebut atau korupsi tersebut ada yang dirugikan dan ada yang diuntungkan. Dalam undang-undang korupsi, tolak ukur korupsi biasanya selalu ada kerugian negara atau lembaga penyelenggara negara, mulai dari lembaga pemerintahan terendah hingga badan usaha milik negara. Penyebabnya, banyak hal. Dalam teori GONE, ada Greede, Opportunity, Need, dan Expose. Greede, korupsi berawal dari greede, sikap yang tamak, rakus dan sejenisnya. Akibat keinginan untuk memiliki barang yang lebih, penghasilan yang lebih, ingin cepat kaya, ini yang sering kali menjadi orang lupa. Akibatnya, untuk mendapat hal tersebut dilakukan jalan pintas. Sikap yang rakus, makin lancar dengan adanya kesempatan atau opportunity. Inilah yang banyak terjadi. Kadangkala, sistim yang membuka kesempatan seseorang untuk berbuat curang atau korupsi. Kemudian, need, kebutuhan. Korupsi itu dilakukan karena memang untuk pemenuhan kebutuhan. Artinya artinya penghasilan seseorang tidak mencukup memenuhi kebutuhan keluarganya. Kemudian ekspose, atau pengungkapan kasus korupsi yang masih minim. Dari teori GONE, terlihat bahwa korupsi tersebut merupakan suatu rangkaian. Kadang kala dalam organisasi penyelenggara negara, korupsi itu malah tidak hanya dilakukan satu individu saja. Atau dengan kata lain korupsi itu merupakan tindakan ramai-ramai. Makanya ada istilah korupsi ramai-ramai. Bagaimana untuk memberantasnya? Mengungkap kecurangan atau fraud, seperti korupsi, merupakan pekerjaan berat. Apalagi kecurangan tersebut pada umumnya dilakukan atau melibatkan para petinggi atau top manajer yang memiliki otoritas pengambil kebijakan di lingkungan organisasi tersebut. Atau istilah, tergolong white collar crime (kejahatan berkrah putih). Namun tak tertutup kemungkinan juga dilakukan para bawahan atau dikenal dengan blue collar crime. Hanya satu kata, lawan korupsi. Caranya, jika korupsi itu berjamaah, maka juga harus dilawan secara berjamaah. Mari kita ramai-ramai melawan korupsi. Itu hanya bisa dilakukan, jika ada niat, ada keberanian, dan betul-betul sadar, korupsi itu pastilah merugikan. Dari teori GONE tadi, kita bisa melakukan antisipasi. Misalnya, untuk menghilangkan sifat tamak, rakus, dan sejenisnya, maka mentalitas setiap individu harus diasah untuk selalu dekat Allah SWT. Sehingga sedikitnya saja berbuat salah, kita sadar ada hukuman yang lebih besar dari yang Maha Pencipta. Kemudian untuk opportunity, maka harus ada itikad baik dari eksekutif dan legislatif, untuk membuat produk hukum, untuk lebih memperketat pengawasan. Sehingga tidak peluang sedikit pun untuk korupsi. Kemudian untuk need, pemerintah harus meningkatkan penghasilan para PNS. Jika gaji pokoknya cukup, maka para penyelenggara negara tidak ada alasan untuk berbuat korupsi. Terakhir, expose atau pengungkapan kasus korupsi harus benar-benar tuntas, Artinya bagi yang berbuat benar-benar mendapat hukuman yang berat. Sehingga ada efek jera. Bagi yang tidak berbuat juga diberikan penghargaan. Yang terberat sebenarnya melakukan pembuktian. Maka dibutuhkan stragi untuk pengungkapkan. Untuk itu, prinsip kehati-hatian dan selalu ada dokumentasi, mulai dari rekaman pembicaraan, telepon SMS, hingga rekamanan kamera. Kemudian keberanian untuk menegakkan kebenaran. Prinsipnya asal ada fraud, pasti ada aksi, ada proses, dan ada hasil. Pasti ada yang dirugikan dan ada diuntungkan. Dalam konteks Sumatera Barat, menurut Anda bagaimana penerapan tadi? Ya sama saja. Untuk penanaman akidah agama yang kuat, maka penerapan filosofi adat basandi syara', syara' basandi kitabullah (ABS SBK) sudah sangat tepat. Tinggal implementasinya bagaimana. Realisasinya seperti apa, yang tergatung siapa pemimpin. Ibarat ikan mati, jika dibiarkan begitu saja, maka yang akan busuk pertama kali bagian kepalanya. Terus menjalar ke bagian tubuh yang lainnya. Maka pemberantasan korupsi itu, termasuk di Sumbar harus dimulai dari pemimpinnya. Jika pemimpin benar-benar bersih, maka akan mudah membersihkannya. Jika pemimpinnya busuk, maka akan busuk semuanya. Terakhir, apakah Anda tidak pernah khawatir atau takut dalam mengungkap kasus-kasus korupsi? Kalau saya pribadi, saya anggap setiap kerja merupakan jihad. Jadi saya tak pernah ragu. Apalagi didukung penuh keluarga. Saya akui, selama menjalankan tugasnya, selain banyak godaan suap, juga ancaman fisik pun sekali-kali . Soal ancaman tersebut, kami sudah terbiasa. Risiko sebagai auditor memang tidaklah kecil, termasuk risiko penyuapan. Yang penting berjihad melawan korupsi. Saya kan tidak sendiri. Untuk mengungkap kasus dugaan korupsi di KPU, misalnya, ia didukung oleh sejumlah teman. Pokoknya Korupsi berjamaah harus diungkap secara berjamaah. Saya, istri, dan anak-anak sudah siap menghadapi. Kami akan menggunakan segala daya dan upaya untuk bisa bertahan. Ini jihad kami. Tak kalah penting, saya mendapat dukungan teman-teman kantornya sesama auditor laporan keuangan KPU. Dia berkeyakinan bahwa auditor-auditor BPK yang bertugas mengaudit KPU termasuk "auditor putih" yang menginginkan setiap tindak pidana korupsi diungkap agar pelakunya mendapat ganjaran. * Miko Kamal SH LLM: Basmi Korupsi, Rapatkan Barisan Komitmen Khairiansyah Salman dalam membongkar dan turut berpartisipasi memberantas prilaku koruptif, mendapat appriciate dari praktisi hukum, Miko Kamal SH LLM. Ia menilai, sosok Khairiansyah sebagai figur yang berani dalam dunia yang telah mengalami keanehan. Jika ada 10 orang gila dan satu orang waras, maka orang waras itulah yang gila. Artinya, Khairiansyah kini menjadi orang aneh didunia yang kian aneh. Walau tidak kenal secara pribadi, namun saya salut ia akan membalikan paradigma dan kembali pada perubahan yang positif, ungkap Miko. Apalagi, lanjutnya, kalau berfikir secara pragmatis, tindakan yang dilakukan Khairiansyah sangat membahayakan dirinya. Kita memang membutuhkan sosok seperti Khairiansyah ini, tambahnya. Menurut Miko, untuk mendobrak prilaku-prilaku koruptif memang dibutuhkan seluruh komponen yang konsen dengan anti korupsi, merapatkan barisan bersama-sama. Baik akuntan yang komit dengan etiknya, para penasehat hukum maupun para penyelenggara negara. Kebersamaan pola pikir dan pola tindak ini tidak akan tercapai, jika tidak didukung oleh semua pihak. Sebab, jika ingin memberantas korupsi jangan dilakukan setengah-setengah, dalam artilain harus sampai pada akarnya, tandas Miko. (vinna melwanti) * Dr H Irwan Prayitno PSi MSc Dt Bandaro Basa * Bertemu Dalam Satu Idealisme Sesama tokoh muda Minang di perantauan, sosok Khairiansyah Salman di mata anggota Komisi VIII DPR RI, Dr H Irwan Prayitno PSi MSc Dt Bandaro Basa merupakan pribadi yang militan, religius, dan penuh idealisme. Komitmen yang tinggi untuk melawan berbagai tindak penyimpangan dan serta membongkar berbagai kasus korupsi, merupakan bukti Khairiansyah layak dijadikan figur generasi Minang muda yang patut diteladani. Sudah saat, masyarakat beserta pemimpin Minang, baik di rantau maupun di kampung memberikan penghargaan dan dukungan penuh kepada Khairiansyah Salman. "Saya sudah lama kenal dan dekat dengan Khairiansyah. Jauh sebelum namanya mencuat sebagai pembongkar kasus penyuapan oleh Mulyana dan korupsi di KPU. Kami seringkali terlibat diskusi bersama, pengajian bersama, hingga memikirkan berbagai upaya untuk membongkar habis kasus-kasus korupsi. Istilah, kami bertemu dalam satu idealisme. Hingga sekarang saya juga tetap berkomunikasi dan berdiskusi dengan Khairiansyah. Saya juga dekat dengan keluarganya, pernag beberapa kali berkunjung ke rumah orang tuanya yang kini menetap di Bandung," papar Irwan, Putra Kuranji Padang itu.. Dalam kapasitas Irwan sebagai salah seorang Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS), ia juga sering berdiskusi dengan Khairiansyah. Meski bukan seorang kader PKS (karena Khairiansyah PNS), Kharinsyah banyak memberikan masukkan kepada DPP PKS, tentang peran yang harus dilakukan kader-kader PKS baik yang duduk di legislatif maupun eksekutif, untuk bersama-sama membongkar kasus korupsi. "Yang tak kalah pentinya dalam sosok Khariansyah, berbagai upaya yang dilakukannya dalam membongkar kasus korupsi dengan tugasnya selaku auditor BPK, tak pernah ada motif lain. Apalagi kepentingan politik. Ada orang suka mengungkap kasus korupsi, namun ada kepentingan lain, di balik pengungkapan tersebut. Sehingga begitu terekspose, sudah tak ada tindaklanjutnya hingga tuntas. Khairiansyah tidak, ia berupaya mengungkap hingga tuntas," tukasnya. (alfitra) * Sederhana dan Selalu Berjihad Melawan Korupsi Tak banyak yang tahu, jika putra Minang ini merupakan sosok sederhana, pemeberani, dan sangat religius. Namanya tiba-tiba ramai dibicarakan di media massa. Khairiansyah Salman aktor penting di pentas nasional. Dengan keberaniannya, korupsi di Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang beranggotakan para intelektual dari peruguruan tinggi dan tokoh LSM yang selama ini dikenal sebagai anti korupsi berhasil ia bongkar. Aktivis dan akademisi sekaliber Mulyana W. Kusumah pun berhasil dijebaknya. Khairi, demikian panggilan akrabnya, adalah auditor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang ditunjuk sebagai ketua subtim audit investigatif pengadaan barang KPU. Pria kelahiran Medan, 14 Juli 1969, ini lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (S1) dan Universitas Bina Nusantara (S2). Ketika duduk di bangku kuliah, ia aktif berorganisasi; sempat menjadi Ketua Senat mahasiswa STAN (1990). Menurut Dr H Irwan Prayitno PSi MSc Dt Bandaro Basa, Khairiansyah merupakan sosok yang sangat idealis. Ia dikenal sebagai pemuda yang alim dan mengisi pengajian. Sebagai auditor di BPK, sejak 1998 ia kerap mengikuti pelbagai pelatihan audit investigasi. Pengalamannya membongkar kasus dugaan korupsi pun bukan baru sekali ini. Tahun lalu ia menguak korupsi puluhan miliar rupiah dalam penyelenggaraan haji di Departemen Agama. Sejak itulah Ikatan Akuntan Indonesia memintanya untuk mengajar audit investigasi dan anti-penyuapan bagi para akuntan muda. Risiko sebagai auditor memang tidaklah kecil, termasuk risiko penyuapan. Tapi simpatisan Partai Keadilan Sejahtera pantang menyerah untuk berjihad melawan korupsi. Ia tidak sendiri. Untuk mengungkap kasus dugaan korupsi di KPU, misalnya, ia didukung oleh sejumlah teman. "Korupsi berjamaah harus diungkap secara berjamaah," tegas Khairi yang suka memberikan khotbah salat jumat di kantornya ini. Gara-gara kasus penangkapan Mulyana, ia menghadapi ancaman sanksi oleh Ketua BPK, Anwar Nasution, lantaran Khairi dianggap melakukan pelanggaran prosedur. Di lingkungan perumahan tempatnya tinggal, lelaki sederhana ini biasa memberikan pengajian di Musala Al-Hurriyah. Pria yang gemar mengenakan baju gamis ini mahir berkhotbah dalam tiga bahasa sekaligus: Indonesia, Inggris, dan Arab. Menikah dengan Yulida, asal Lubuk Basung Agam-mantan aktivis sebuah LSM-Khairi bapak enam anak. Beruntunglah sang istri memahami dan mendukung perjuangannya. "Saya dan keluarga sudah biasa berjihad," ujarnya. Kesederhaan Khairiansyah juga terlihat dalam kehidupannya sehari-hari. Setidaknya hal itu terlihat dari tempat tinggalnya di Perumahan Pamulang Permai II, Tangerang. Di kompleks perumahan di kawasan selatan Jakarta itu,keluarga Khairiansyah tinggal sejak 2000. Rumah hanya tipe 45, bukan rumah mewah. Ia pun hanya sebuah Kijang biru tua bernomorpolisi B 2319 RI berada di garasinya. Mobil keluaran1996 itu adalah alattransportasi Khairiansyah dari rumahnya ke Kantor BPK,Jalan Gatot Subroto,Jakarta. Selain itu, keluarga ini memiliki mobil Honda Civic 1997. Mobilya yang satu lagi digunakan isterinya pergi menunggui toko di Pasar Ciledug, Tangerang . Saking sederhana, Khariansyah juga tidak pernah mengaku-mengaku bekerja sebagai auditor di BPK. Para tetangganya lebih banyak mengenal sebagai simpatisan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dibanding sebagai seorang auditor BPK. Keseharian keluarga Khairiansyahdikenal sangat taatberagama. Khairiansyah lebih sering terlihatmenggunakan baju gamis,sementara istrinya menggunakan jilbab. _____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

