Saya bukan orang Aceh. Tetapi orang tidak perlu menjadi orang Aceh utuk ikut merasakan derita dan nestapa Aceh, bagian dari bagian yang tidak terpisahkan dari Republik tercinta ini yang di awal-awal Republik ini telah memberi apa saja bagi Republik yang masih lemah ini, namun masyarakatnya menderita hampir tiada henti. Yang penting hati nurani yang masih peka.

Tetapi rutinitas, banyaknya persoalan yang dihadapi bangsa ini, pengangguran, kemiskinan sistemik, busung lapar---diperhalus jadi gizi buruk---wabah ini, wabah itu, terbunuhnya orang-orang tidak bersalah oleh teror bom yang disebarkan oleh manusia-manusia angkara murka, bisa menyebabkan rekonstruksi Aceh dan Nias yang merupakan pekerjaan yang mahabesar dan mahasulit kehilangan fokus.

Tadi malam saya menerima email dari rekan saya Sambas yang bekerja untuk LGSP (Local Government Support Project) – USAID, mengenai cerita singkat dari pelaksanaan tugasnya di Aceh yang cukup menyentuh perasaan. Dengan izinnya dan sedikit editing emailnya itu saya kopikan di bawah ini.

Wassalam, Darwin

=================================================================

Pak Darwin, Yth

Berita Aceh yang paling menggetirkan tetapi mulai berangsur senyap dari liputan media masa adalah tentang Kabupaten Aceh Jaya yang beribukotakan Calang. Di sinilah sebetulnya kejadian paling mencekam dan menggetarkan. Bupatinya sendiri. Ir. Zulfian Ahmad kehilangan 4 anak dan istrinya, yang sampai sekarang belum ditemukan rimbanya. Di sini 25 ribu penduduk meninggal. Di kota Calang sendiri, 60 persen penduduk yang meninggal, mayatnya hilang.

Menurut penuturan Bupati Aceh Jaya yang kehilangan seluruh orang yang dicintainya lebih dari pada hidupnya sendiri itu, dirinya adalah bagian dari yang tersisa-bertahan hidup dalam kegelapan tanpa listrik, empat hari hanya minum air kelapa. Baru hari kelima ada Indomie yang bisa masuk Calang. Di hari kelima itulah mereka yang tersisa hidup baru dapat makan sekedar penawar lapar. Sekarang ini 40 ribu penduduk Aceh Jaya masih hidup di tenda-tenda pengungsi.

Saya sebagai bagian dari donor merasa tidak enak, meski sama-sama tinggal di tenda tapi tenda kami tersebut dilengkapi internet-listrik dan ber-AC sumbangan dari Estonia. Sementara penduduk yang menderita tinggal di tenda-tenda darurat UNHCR dan badan lain.

Sudah enam bulan bencana Tsunami berlalu, tapi recovery sangat jauh dari tuntas, entah sampai kapan. Dan entah sampai kapan para pengungsi bertahan, sementara gaung musibah tsunami semakin melemah... masyarakat luar Aceh sepertinya sudah mulai melupakan bencana dahsyat ini.

Dari LGSP-USAID baru saya, pak Robert dan Pak Sri Probo yang masuk Calang dengan heli. Itu pun harus dengan melompat karena heli tidak menyentuh tanah, tetapi hanya mendekatinya dan terbang lagi.

Majalah TEMPO menurunkan jurnalisnya untuk liputan khusus 6 bulan Pasca Tsunami. Mereka menjadikan kami bertiga sebagai salah satu sumber berita yang terbit 27 Juni nanti.

Kelambatan pemulihan Aceh membuat kita malu sebagai bangsa...dan saya semakin menyadari begitu kecil dan tak berartinya yang dapat saya lakukan untuk sesama.

Regards, Sambas


_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke