Assalamualaikum Wr. Wb.,

Batambah tugas Negara/umat ciek lai baa supayo sakolah ko gratis ?????,
agak banyak tando tanyo nyo stek karano, dari ma pitih nyo, tapi pitih
beberapa segelintir urang iyo lai banyak di Ina ko, apo rancak disita
sajo untuak umat ko.....
Wass, syb.


Edisi Selasa, 14 Jun 2005    
21 Ribu Anak Jadi Pelacur
* 4,18 Juta Putus Sekolah dan Jadi Pekerja 
Oleh admin padek 1 
Selasa, 14-Juni-2005, 10:36:22 13 klik   
 
 
Jakarta, Padek-Benar-benar mengejutkan. Ini data terbaru dari hasil
penelitian ILO (Organisasi Buruh Internasional) yang disiarkan, kemarin.
Sekitar 4,18 juta anak usia sekolah di Indonesia putus sekolah dan
menjadi pekerja anak.  
 
 
Jumlah itu 19 persen dari total populasi penduduk Indonesia berusia di
bawah 15 tahun. Lalu, yang lebih memiriskan, 21 ribu anak di bawah usia
18 tahun di lima provinsi di Pulau Jawa terlibat dalam bisnis seks
komersial. Jadi pelacur. 

Sayangnya, ILO tidak memiliki data nasional tentang anak-anak yang
dilacurkan. Meski demikian, data yang diperoleh ILO dari pihak ketiga
secara nasional menunjukkan, jumlah anak yang terjebak di bisnis
prostitusi sekitar 180 ribu jiwa. 

"Jumlah pekerja seks yang berusia di bawah 18 tahun diperkirakan 180
ribu orang atau sekitar 30 persen dari jumlah pekerja seks yang
diperkirakan sekitar 600 ribu," jelas Manajer Program Kampanye ILO Arum
Ratnawati kepada wartawan di Jakarta kemarin. Menurut ILO, jumlah
pekerja seks anak di tiga kota besar di Jawa menunjukkan peningkatan
signifikan pada akhir 2004. 

Di Semarang, 975 orang di antara 1.155 pekerja seks adalah anak-anak. Di
Surabaya, di antara 8.440 pekerja seks, ditemukan 2.329 anak. Dan, di
Jogjakarta, 104 orang di antara 575 pekerja seks adalah anak-anak. 

Untuk mengeliminasi peningkatan jumlah pekerja anak, termasuk yang
bekerja di industri prostitusi, ILO meminta agar pemerintah Indonesia
berkomitmen mematuhi Konvensi ILO Nomor 182/2000 yang telah
diratifikasi. ''Komitmen politik pemerintah yang terpenting adalah
mengeliminasi pekerja anak,'' tegasnya. 

Menurut Arum, Sulawesi Selatan merupakan provinsi dengan jumlah anak
putus sekolah yang terbesar di Indonesia. Penelitian ILO menunjukkan,
angka anak putus sekolah berbanding lurus dengan tingkat pendidikan,
tingkat kesadaran pentingnya pendidikan dasar, serta derajat kemiskinan
di kalangan orang tua. "Sekitar 39 persen orang tua di Sulawesi Selatan
masih berpikiran bahwa pendidikan dasar hanya sampai sekolah dasar
(SD)," ungkapnya. 

Direktur Eksekutif ILO Kari Tapiola menyatakan, 2.560.634 anak berusia
10-17 tahun bekerja di berbagai sektor. Jumlah itu cukup besar karena
berkisar tujuh persen dari total angkatan kerja di Indonesia. "Sebagian
di antaranya melakukan lima jenis pekerjaan terburuk bagi anak. Yaitu,
pekerjaan di anjungan lepas pantai dan penyelaman di air dalam,
pelacuran, pekerja tambang, industri alas kaki, serta narkotika dan
psikotropika," jelasnya. (noe/jpnn) 
 


_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke