Denpasar (Bali Post) , 16 Juni 2005

Ide pendidikan gratis masih memunculkan penafsiran berbeda. Direktur Pendidikan 
Menengah Kejuruan (Dikmenjur) Depdiknas Dr. Ir. Gatot Hari Priowirjanto 
meluruskan pengertian pendidikan gratis itu bukan berarti bebas segala-galanya. 

Ia menegaskan tidak semua biaya sekolah mampu ditanggung lewat dana subsidi BBM 
itu. Sekolah masih bisa memungut dari masyarakat sepanjang disetujui komite 
sekolah. ''Jadi, tak semuanya gratis. Ini yang perlu diluruskan,'' ujar Gatot 
usai acara peletakan batu pertama pembangunan lobi lab hotel di Politeknik 
Negeri Bali (PNB), Rabu (15/6) kemarin. 

Ia menegaskan, dari puluhan jenis pengeluaran sekolah, mungkin hanya lima poin 
yang bisa ditanggung oleh pemerintah. Selebihnya ditalangi sendiri oleh sekolah 
lewat dana masyarakat. Apalagi sekolah yang membuka kelas internasional dan 
percepatan tak mungkin digratiskan karena memerlukan biaya besar. 

Ia memperkirakan 5-10 persen sekolah dibiarkan otonom, sedangkan sekolah yang 
pelayanannya masih standar tetap dibantu pemerintah. Namun, bagi siswa miskin 
harus dilayani semua sekolah secara gratis. Ia menjelaskan, pemerintah dan DPR 
masih sedang membahas tentang pola dan distribusi bantuan tersebut. Bahkan ia 
mengusulkan 270.000 siswa SMK menerima beasiswa tahun ini karena mereka 
kebanyakan dari masyarakat menengah ke bawah.

Direktur PNB IB Sanjaya, S.E., M.M. langsung merespons program tersebut. Bagi 
10 besar dalam Pekan Kompetensi Siswa (PKS) SMK di PNB, langsung diterima di 
PNB. Bahkan jika nanti menjadi lima besar di kelas diberikan pendidikan gratis 
selama setahun. PNB, kata dia, juga memberi kemudahan kepada 11 SMK di Jatim, 
Bali dan NTB yang siswanya melanjutkan studi karena terkait dengan program 
Comunnity Collage.

Ketua Dewan Pendidikan Kota Denpasar Ir. Putu Rumawan Salain mengatakan istilah 
pendidikan gratis ini bisa menjebak masyarakat sehingga terkesan gratis 
segala-galanya. Usai memimpin rapat pleno Rabu kemarin, Rumawan menduga ini 
hanya program populis dan politis. 

Pengamat pendidikan, Wayan Geria juga sepakat istilah pendidikan gratis ini 
harus dirumuskan secara benar sehingga tak keburu diterima masyarakat serba 
bebas. Bahkan Konsultan Pendidikan, Drs. AA Gede Agung menilai pendidikan 
gratis ini bertentangan dengan program Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis 
Sekolah (MPMBS). MPMBS sebagai bagian desentralisasi pendidikan merangkul 
potensi masyarakat karena sekolah dianggap paling tahu keperluan dan 
potensinya. (025)


 

                
---------------------------------
Discover Yahoo!
 Find restaurants, movies, travel & more fun for the weekend. Check it out!
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke