SUNGGUH mengaggumkan hasil gemblengan Rasulullah SAW kepada para sahabatnya.
Abu Talhah, misalnya, mendapatkan pujian khusus dari Allah SWT sewaktu berhasil
dengan cemerlang membuktikan komitmen keimanannya.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, suatu ketika Rasulullah SAW
kedatangan seorang tamu. Rasa lelah dan rasa lapar, terpancar dari raut wajah
sang tamu yang tampaknya telah menempuh perjalanan panjang yang melelahkan.
Rasul pun meminta seorang sahabatnya untuk mengecek, adakah pada malam itu di
rumah istri-istri beliau tersedia makanan untuk menjamu tamunya.
Ternyata, di rumah istri-istri Rasulullah SAW, tidak ada makanan apa pun yang
bisa dimanfaatkan untuk menjamu sang tamu. Rasul pun menawarkan kepada para
sahabatnya, siapa yang bersedia menjamu tamunya untuk malam itu saja.
Seorang sahabat, yang tidak ingin didahului kawannya dalam berbuat kebaikan
(beramal shaleh), langsung menanggapi tawaran Rasulullah SAW seraya mengatakan,
"Saya yang akan menjamunya wahai Rasulullah," ucap Abu Talhah.
Talhah pun buru-buru pulang untuk menyiapkan perjamuan itu. "Apa? Menjamu
seorang tamu? Di rumah kita ini hanya tersedia sedikit makanan, itu pun hanya
cukup untuk anak-anak kita yang masih kecil itu," tukas istri Talhah
terperanjat menanggapi niat suaminya.
"Begini saja, kalau anak-anak kita ingin makan malam, lakukan sesuatu agar
mereka segera tertidur. Terserah kamu bagaimana caranya menidurkan mereka. Nah,
sekarang, matikan lampunya. Tidak masalah kan, kalau perut kita malam ini
lapar, tapi tamu kita yang tampak kelelahan itu bisa makan? Ucap Talhah sambil
buru-buru meninggalkan istrinya.
Talhah tampaknya telah berhasil menananmkan keimanan kepada istrinya. Wanita
yang telah memberinya beberapa anak itu, yakin betul bahwa apa yang dilakukan
suaminya adalah benar. Karenanya ia pun mendukung sepenuhnya upaya memuliakan
tamu, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW, walau keluarganya sendiri
sangat memerlukan makanan itu.
Dalam kondisi rumah yang gelap itulah Talhah menjamu tamunya Rasulullah SAW.
Sang tamu tampak makan dengan sangat lahap, sementara Talhah sendiri hanya
pura-pura makan di kegelapan itu, kendati perutnya juga keroncongan.
Paginya Abu Talhah menemui Rasulullah SAW. Rasul yang sangat bersahaja itu
menyambutnya dengan senyum dikulum. "Bagus Talhah, Allah senang dengan apa yang
kamu lakukan bersama istrimu," ucap Rasulullah SAW seraya menginformasikan
bahwa Allah SWT malam itu menurunkan firman-Nya yang dikutip di awal Mimbar
ini, artinya: "Mereka mengutamakan (saudaranya) atas diri mereka sendiri,
meskipun mereka sendiri memerlukan (apa yang mereka berikan itu)," (Q.S.
al-Hasyr [59]: 9).
Dengan hati berbunga-bunga, Talhah pun menyikapi keberhasilannya dalam ujian
keimanan yang dia lalui bersama istrinya. "Apakah manusia itu mengira bahwa
mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak
diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum
mereka, sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar, Dan sesungguhnya
Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (Q.S. al-Ankabuut [29]: 2 - 3).
Contoh-contoh mengenai keberhasilan pembuktian keimanan yang dilakukan oleh
para sahabat Rasulullah SAW cukup banyak jumlahnya. Lalu bagaimana dengan ujian
keimanan yang kita hadapi? Adakah kita telah mengerjakan "soal-soal" ujian itu
sebagaimana mestinya? Atau kita, dengan berbagai peristiwa yang ada di sekitar
kita, malah merasa tidak sedang diuji? "Maha Suci Allah yang dalam
genggaman-Nya segala kerajaan, Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, yang
menjadikan mati Dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang
lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (Q.S. al-Mulk
[67]: 2 - 3).
Kini cermati dengan seksama lingkungan di sekitar kita, adakah di antara
saudara kita yang mengalami kesulitan untuk makan (karena miskin). Adakah ada
di antara saudara kita yang menemui kesulitan dalam menyekolahkan anaknya
lantaran ketiadaan biaya?
Itulah sebagian "soal-soal" ujian kita yang betapapun tidak layak diabaikan
begitu saja. Paling tidak, bagi kita yang mengaku sebagai orang beriman.
Sejatinyalah keimanan kepada Allah, kerapkali dalam Alquran dikaitkan dengan
kepedulian seseorang menginfakkan sebagian rejekinya untuk membantu saudaranya
yang memerlukan bantuan.
Dalam mendeskripsikan akhlak orang-orang beriman, Allah SWT menegaskan,
"(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian
rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang beriman yang
sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi
Tuhannya Dan ampunan serta rejeki yang mulia." (Q.S. al-Anfaal [8]: 3 - 4).
---------------------------------
Yahoo! Sports
Rekindle the Rivalries. Sign up for Fantasy Football
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________