Assalamu'alaikum wr wb.
Terima kasih banyak Ima atas keterangannya. Inilah gunanya kita di palanta ini saling berbagi. Sangat sangat bermanfaat, meskipun saya hanya seorang umat bukan pejabat. Mereka gersang, kita subur. Mereka bisa kita tidak, apa yang salah dikita. Untuk kita renungkan bersama sama

Wassalam
Isna

Rahima wrote:

Waalaikumsalam.Wr.Wb.

Bunda Isna, mak darul dan dunsanak semuanya, semoga
dirahmati Allah.Agar kita bisa berbagi tugas dan agar
pembahasan saya tidak panjang-panjang. dalam hal
hukumnya, mungkin dik Ahmad Ridha yang berciri khas
akan dalil naqalnya, atau sanak Arnoldison yang
mempunyai banyak simpanan artikel2 pendapat ulama,
bisa lebih menjelaskan pada kita.

Saya hanya akan mengomentari bagaimana kondisi
penceramah di Mesir.

1). Hampir rata-rata di Mesir penceramah kehidupannya
di tanggung oleh pemerintah. Saya memang belum
menemukan di Mesir ini penceramah dikasih amplop.

2 ) Kehidupan penceramah di Mesir memang sederhana,
yang kelihatan mewah itu hanyalah para pejabat, itupun
tidak mewah2 amat, tinggal segedung dengan kita bukan
di villa tersendiri.

3 ). Lantas biaya mereka darimana, sekolah anaknya
dsbgnya.

Sekolah sudah saya ceritakan gratis, namun mereka
menyekolahkan anaknya sampai ke LN( Eropah, bila akan
ambil magister atau doktoral, maka di Mesir ini tak
heran banyak pada doktoral dan profesor baik bidang
agama apalagi umum kebanyakan dari Eropah, juga jepang
dllnya).

4) Kehidupan dan biaya primer di mesir relatif
sangat-sangat murah, bayangkan saja untuk gas dapur
yang kita sudah masak dr pagi- sore tiap hari kita
sering bayar sekitar Rp 5000 maximal Rp 10.000,
perbulannya.10.000 itu bagi pedagang kali yah, kalau
saya paling 5-7 ribu saja perbulan. Ini bayangan saja
dan hampir disemua sektor murah, kecuali elektronik.
Dalam hal ini tentu mereka bisa nabung buat biaya anak
sekolah ke LN kelak bila kuliyah.

5 ), Korupsi ada sih ada, tetapi sangat jarang, kalau
ketahuan bisa gawat. Uang sogokpun ngak pernah mereka
terima, hanya saja sering sekali kita dari Indonesia
ataupun malaysia, Asia lainnya yang mengajar mereka
memberi sogokan duit agar cepat selesai urusan. Kadang
ada pegawai yang terima, ada yang menolak
mentah-mentah.

6). Untuk penceramah memang sudah dijamin kehidupannya
oleh pemerintah, bukan yang mendengarkan penceramah
yang kasih duitnya. Dan mereka berceramah benar2
banyak intinya ketimbang leluconnya. Ayat dan hadist
saja yang sering disampaikan, jarang pendapat-pendapat
manusia, kecuali persoalan tertentu.

7). Darimana penceramah, guru/dosen menerima tambahan
biaya? Dari buku. Para dosen sudah doktor dan profesor
jadi terbiasa menulis buku. Dari penjualan buku2
itulah banyak didapatkan hasilnya. namun kalau ada
yang mengkopy silahkan saja, mereka tidak marah, bukan
seperti di Indo, copyan buku dilarang. Disana tidak
ada, karena itu adalah ilmu, yang wajib disampaikan.
kaya miskin bisa membaca bisa dapatkan ilmunya

Demikian untuk sementara keterangn selanjutnya
silahkan yang lain menambahkan.

Wassalam. Rahima.




_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke