Tiada yang kekal di dunia ini. Raja tidak senantiasa jadi penguasa, juara pun
tidak terus bisa jadi jagoan. Kadangkala, hilangnya kekuasaan atau sirnanya
keperkasaan berlangsung secara tragis.
Masih terngiang ditelinga kita , nyanyian tukang cerita dari Aceh, yang
muncul dalam iklan layanan masyarakat di TV pasca Tsunami, yang mengimbau agar
manusia berguru pada alam. Mike Tyson adalah alam mikrokosmos, yang mungkin
bisa dipakai referensi, seperti Isaac Newton menjadikan apel sebagai guru yang
mengajarkannya ilmu gravitasi. Kegarangan dan kevulgaran Tyson di atas ring
pada awal karirnya, memang berhasil mengantarkannya ke puncak tangga.
Kemiskinan, intoleransi serta diskriminasi yang dialaminya sebagai warga
keturunan Afro Amerika, membuat dia balas dendam di atas ring. Dengan keringat,
darah dan kebringasan, dia berhasil menghalau kemiskinan, lalu merebut
toleransi penggemarnya di seluruh dunia, sekaligus mendobrak diskriminasi
dengan mengubah statusnya menjadi golongan elite.
Sayang, setelah jadi "raja", dia lupa mengubah sikap, meskipun watak tidak bisa
diutak-atik. Kegarangan dan kevulgarannya di atas ring pindah ke masyarakat,
malah ditambah arogansi, sehingga tidak pernah terbayang di benaknya kalau
karirnya berakhir secara tragis, seperti Sabtu, 11 Juni itu. Kegarangan dan
kevulgaran Tyson, juga tangga yang membuatnya jatuh terhempas.
Bila saja para pemimpin, yang tentunya memiliki intelektualitas di atas Tyson,
memakai kisah hidup si Leher Beton itu sebagai referensi, jabatan tinggi atau
posisi puncak akan berusia lebih lama kendati tidak langgeng dan kedudukan pun
akan ditinggalkan secara terhormat. Hal-hal yang menyebabkan Tyson cepat jatuh
jangan ditiru, semangat dan kegigihannya untuk meningkatkan harkat dan
martabatnya agar sejajar dengan bangsa kulit putih, diteladani.
Kesewenang-wenangan yang biasanya digunakan untuk mencari kekayaan, wibawa dan
kenaikan pangkat dengan topeng undang-undang dan peraturan, diganti dengan
keramahtamahan, pelayanan yang baik serta sosialisasi kebijakan atau aturan
yang tidak dimengerti masyarakat secara cerdas dan transparan.
Terlepas dari apakah itu hanya retorika, Rubag menilai Tyson cukup cerdas dan
bijak untuk memutuskan mengundurkan diri dari dunia tinju. Dia paham akan
batas-batas kemampuannya dan tidak mau bersembunyi terus menerus di balik
tampangnya yang "seram". Usianya yang mencapai 39 tahun pada 30 Juni mendatang
telah menggerogoti kekuatan fisiknya. Buktinya, berkali-kali kepalannya
mendarat telak di berbagai bagian tubuh McBride, tidak membuat petinju Irlandia
itu bergeming. Tyson tentu telah berhitung, kalau dia tidak berhenti di ronde
keenam, bisa jadi kekalahannya lebih fatal atau mungkin ditandu ke luar ring
dengan cedera otak berat.
Andaikan saja pejabat-pejabat yang tidak mampu sebagai pemimpin mau meniru
Tyson, potensi demonstrasi dan kerusuhan akan berkurang. Tapi siapa sih yang
mau meninggalkan kedudukan empuk, padahal tak terhitung jumlah uang yang
dihamburkan untuk meraih kedudukan itu? Apalagi dalam kondisi sulit lapangan
kerja ini, banyak orang yang bisa disewa untuk melakukan demo tandingan.
Sediakan beberapa truk, nasi bungkus, uang rokok dan jaminan perawatan bila
cedera dalam bentrokan, beres! ( * )
( * ) Dikutip dari obrolan bale banjar koran Balipost tulisan Aridus .
---------------------------------
Yahoo! Sports
Rekindle the Rivalries. Sign up for Fantasy Football
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________