dunsanak sadonyo ,sekedar tambahan ttg hal tsb ; pak Jalaludin Rahmat ( salah seorang guru ngaji ambo di banduang ) , dalam bukunya Psikologi Agama menyatakan bahwa dari sisi psikologis praktek keagamaan seseorang bisa di ukur dg peta yg dikenal dg nama Psikografi keberagamaan, yg pernah juga diteliti di luar negeri (US).
Menurut Psikogram yang dikembangkan Golck, perilaku beragama seseorang dapat diukur dari 5 dimensi. Ke-5 dimensi itu adalah : 1. Ideologis, mereka yang beragama pada dimensi ini, meletakkan agama sebagai fundamen dasar kehidupannya. Agama menjadi dasar dalam menentukan misi dan visi hidupnya. 2. Ritualistik, mereka yang beragama pada dimensi ini, meletakkan agama sebagai sebuah rangkaian kehidupan ritual. Semisal, orang Islam yang meletakkan Islam sebagai kegiatan shalat, zakat, puasa dan haji, atau orang katolik yang meletakkan kekatolikannya sebagai misa tiap ahad. 3.Eksperensial, keberagamaan yang didorong dan dimaknai oleh serangkaian pengalaman religius semisal mengalami tsunami, selamat terus jadi saleh, dsb 4. Konsekuensial, agama dipandang sebagai persoalan hukum. Agama adalah pengatur boleh tidaknya sebuah perilaku dilakukan. 5.Intelektual, agama dipandang sebagai sebuah kajian pengetahuan. Persoalan-persoalan keberagamaan harus disandarkan pada serangkaian kajian pengetahuan yang mungkin harus ilmiah. Seorang yang beragama secara paripurna (kaffah) diharapkan memiliki ke-5 dimensi ini secara seimbang dalam kehidupan beragamanya. Secara hipotesis dapat diduga kelompok rasional lebih kuat dimensi intelektualnya dalam beragama dibanding dimensi lain. Kelompok sufistik lebih menekankan pada aspek eksperensial dan konsekuensial, Masyarakat muslim tradisional (pesantren ) lebih menekankan pada aspek ritualistik, dsb Resume hasil kajian pada sebuah komunitas muslim di Indonesia , menunjukkan bahwa terjadi ketimpangan dimensi dalam pengamalan keberagamaan ( hanya kuat pada satu sisi, lemah pada sisi lain ) mayoritas masyarakat Indonesia (misalnya orang Jawa ) , hanya kuat pada dimensi Ritual , lemah pada sisi lain, antara lain pada dimensi praktikal sehari hari , khususnya dimensi konsekuensi , komitmen diri , yg berkait erat dg perilaku Korupsi. pada sisi lain orang minang , kuat pada dimensi intelektual , kalau mahota agamo, yo sabana hebat, tapi pada sisi pengamalan keagamaan ( ritualistik ) ,beko dulu.:-( ambo taringek , dulu waktu naik bis ANS pulang kampuang, saat subuh , supir bis manyuruah penumpang nya utk sholat, tapi inyo surang malah lalok... sampai ada pandangan stereotype, pokoknyo kalau urusan pengetahuan agamo,tiok urang maraso "aden" nan paliang santiang, tapi ketika beribadah dan amal keagamaan lain nya , ia sangat jauh... salam HM --- In [EMAIL PROTECTED], Arnoldison <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Agama dan Korupsi > Oleh Muhamad Ali > INDONESIA adalah bangsa religius sekaligus bangsa terkorup di Asia. > Agama iya, korupsi juga iya. Seperti disinggung Albert Hasibuan, Bung > Hatta pernah mengatakan, "Korupsi telah menjadi seni dan bagian dari > budaya Indonesia." (Kompas, 10/6/02) --cut-- _____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

