KORUPSI DALAM HAJI
Jalaluddin Rahmat

Kawan saya, dosen perguruan tinggi, sudah lama
bercita-cita naik haji. Setiap tahun ia menabung,
tetapi tabungannya tidak pernah cukup untuk ONH. Tiap
tahun ONH naik. Kersaning Allah, alih-alih ke Mekkah,
ia berangkat tugas belajar ke Australia. Di sini, ia
mulai lagi menabung. Pada musim haji beberapa tahun
yang lalu, ia berangkat ke tanah suci bersama
rombongan jemaah tabligh. Sesuai dengan tradisi di
jemaah ini, ia berangkat dulu ke India. Dari India, ia
menuju tanah suci. Begitu datang di Jeddah, ia sudah
dijemput oleh pengurus haji lokal. Ia diantar ke
sebuah motel dekat Masjidil Haram. Ia tinggal bersama
lima orang kawannya dalam satu kamar ber-AC yang
lebar. Ada toilet dan tempat masak. Ia dapat memilih
makanan yang dikehendakinya. Di samping dapat
menyelesaikan ibadat hajinya, termasuk ziarah ke
Rasulullah saw di Madinah, ia juga dapat membawa
oleh-oleh sekedarnya untuk keluarga dan
sahabat-sahabatnya di Australia. Sepanjang perjalanan
suci itu, ia disertai pembimbing yang aksesabel setiap
saat. 

Dalam banyak hal, fasilitas yang diperolehnya jauh
lebih baik dari fasilitas yang diperoleh
rekan-rekannya yang membayar ONH di Indonesia; kecuali
ONH plus. Tahun yang lalu, Menteri Agama melakukan
sidak dan menemukan jemaah haji Indonesia dijejalkan
dalam kamar sempit seperti ikan sarden. Toilet tidak
memadai, sehingga banyak jemaah tidak dapat mandi.
Banyak yang menghemat makan agar bisa membeli
oleh-oleh. Tempat tinggal umumnya jauh dari Masjidil
Haram. Tidak ada lift, sehingga setiap kembali ke
rumah mereka berolahraga tambahan menyelusuri tangga,
yang seakan-akan tak berujung. Mereka punya
pembimbing, TPH namanya. Tetapi pembimbing itu sangat
sukar dihubungi. Banyak di antara anggota TPH baru
pertama kali itu haji. 

Kawan saya bersyukur lebih beruntung dari
saudara-saudaranya yang berangkat haji dari pelabuhan
embarkasi di Indonesia. Bukan semata karena fasilitas,
tetapi juga karena ongkosnya. Selama perjalanan 40
hari itu, berikut kunjungannya ke India, ia hanya
menghabiskan AUS $2500. Dalam kurs waktu itu sama
dengan Rp 3.750.000, padahal sahabat-sahabatnya dari
Indonesia membayar ONH resminya saja Rp 7.000.000.
Tidak terhitung pungutan-pungutan lainnya, yang
terdapat pada setiap kantor sejak kelurahan,
kabupaten, samapai ke pusat. Tidak terhitung juga
bekal tambahan selama di tanah suci.

Dalam kurs sekarang, kawan saya itu hanya membayar
kurang lebih Rp 12.500.000. Biaya itu mencakup
semuanya: visa, akomodasi, transportasi, makan, uang
saku, dan oleh-oleh. Tentu saja, dari Australia ia
tidak harus membayar fiskal yang satu juta itu.
Bandingkan dengan ONH sekarang Rp 21.000.000, setelah
sebelumnya ditentukan Rp 27.000.000. Dengan biaya yang
hampir setengahnya, kawan saya menempuh perjalanan
Melbourne- Jeddah via India, yang jaraknya sekitar dua
kali lebih jauh dari Jakarta-Jeddah, tidak via ke mana
pun. 

Walhasil, dengan perhitungan matematis SD saja, dengan
setengah ONH sekarang, Anda dapat melakukan ibadah
haji dengan fasilitas yang lebih baik. Kalau begitu,
kemana perginya setengah dari ONH itu. Tentu kepada
para pengelola; dalam hal ini, para pejabat yang
mengurus jemaah haji dan atasan mereka. Konon,
sebagian ONH itu masuk ke dalam dana kerohanian
Presiden. Ada juga yang masuk Garuda. Ada yang masuk
ke pejabat Depag dan Depdagri. Sebagian besar masuk ke
siapa saja yang berurusan dengan haji. 

Para jemaah haji Indonesia, bersyukurlah kepada Allah,
karena kalian telah membagikan rezeki kalian kepada
banyak orang.


_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke