Jumat, 24 Juni 2005, (  Jawa Post)

Oleh Zuly Qodir*


Tim Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tim Tastipikor) menetapkan pejabat 
tinggi, salah satu Dirjen di Depag dan mantan Menteri Agama Said Agil 
Al-Munawar, menjadi tersangka dalam dugaan korupsi pengelolaan dana 
penyelenggaraan haji di Depag RI. 

Jika Tim Tastipikor benar-benar melakukan penyidikan serius, akan banyak orang 
di lingkungan Depag yang bakal dijemput untuk pindah rumah karena terjerat 
kasus korupsi.

Kita bertanya-tanya, ada apa sebenarnya dengan kaum religius ini? Di manakah 
letak kesalahannya, pada kaum agamawan dalam mengajarkan agama kepada umatnya, 
ataukah memang sudah jadi tabiat bangsa ini, sehingga siapa pun yang melihat 
duit merasa bersalah jika tidak mengorupnya? 

Depag Korupsi

Tentu saja, kita menjadi risi, bahkan tidak habis pikir, sebuah lembaga negara 
yang bisa dibilang memiliki "hubungan dengan Tuhan" saja, para pejabatnya 
melakukan tindak pidana korupsi. 

Bagaimana dengan lembaga-lembaga negara lainnya, apakah tidak lebih bobrok dan 
korup? Tentu saja, ini pertanyaan yang menyakitkan, namun saya tidak bermaksud 
menuduh seluruh lembaga negara di Indonesia orang-orangnya korup.

Lama telah kita dengar bahwa Depag itu memang korup. Namun, kali ini 
benar-benar mengerikan jika nanti sungguh-sungguh terbukti bahwa para pejabat 
di lingkungan Depag (urusan haji) secara jamaah melakukan korupsi. Dana haji 
yang disetorkan masyarakat muslim Indonesia untuk menunaikan ibadah saja 
dikorup, apalagi yang tidak untuk ibadah.

Haji kita ketahui adalah salah satu kewajiban orang Islam bagi yang mampu. 
Tetapi, kita juga harus tahu bahwa banyak dari masyarakat kita yang ingin 
berangkat haji dengan menjual sawah-ladang, sapi, kerbau, dan seluruh 
tabungannya dikuras demi menjalankan perintah Tuhan agar sempurna dalam 
beragama, sekalipun biayanya sangat mahal. 

Ironisnya, mahalnya biaya haji itu disebabkan para pengelola urusan haji 
mengorup sebagian setoran haji. Sungguh, hal ini merupakan kejahatan terbesar. 
Sebab, mereka bukan hanya melakukan tindak kriminal kepada sesama manusia, 
tetapi sekaligus kepada Tuhan.

Pernah suatu ketika kita dengar pernyataan bahwa di negeri ini lembaga paling 
korup adalah Depag, Diknas, dan Depkes. Kemudian, Anwar Nasution, deputi senior 
Bank Indonesia, menyatakan bahwa BI adalah "sarang penyamun". Artinya, di 
negeri ini, sekurang-kurangnya lembaga yang penuh dengan "siluman" ada empat 
institusi terpenting.

Depag sebagai institusi pembinaan mental-spiritual terkontaminasi oleh 
sifat-sifat buruk para petinggi dan stafnya. Oleh karena itu, sangat sulit 
berharap pembinaan mental-spiritual dari Depag karena juga akan dikorup. Dan 
persis di sinilah tempatnya, dana haji juga dikorup. Pejabat dan pegawai Depag 
berani melakukan korupsi dari rumah Tuhan.

Diknas demikian pula. Lembaga yang berkewajiban dan bertugas mendidik 
mentalitas anak-anak bangsa sebagai generasi penerus juga terkoyak oleh adanya 
skandal kasus megakorupsi para pejabatnya. Sungguh ironi yang mahadahsyat, di 
mana pembinaan generasi muda tidak lagi bersih dari kekuatan nafsu serakah para 
pejabat dan pegawai Diknas. 

Dengan itu, berharap kepada pendidikan yang mampu mendorong pada pencegahan 
terjadinya korupsi menjadi semakin kecil peluangnya. Sebab, yang terjadi adalah 
sebaliknya.

Depkes juga tidak berbeda dengan dua institusi negara di atas. Sebuah institusi 
yang berkewajiban memberikan perlindungan kesehatan dan perawatan kepada 
masyarakat agar sehat jiwa raganya ternyata juga korup. 

Saya khawatir, jangan-jangan semakin mahalnya biaya berobat di rumah sakit, 
puskesmas, atau balai-balai pengobatan karena sebagain besar pejabat rumah 
sakit atau puskesmas yang berada di bawah Depkes juga mengorup uang berobat 
pasien.

Lengkap sudah penderitaan masyarakat kita. Institusi yang dipercaya memberikan 
bimbingan mental-spiritual korup, institusi yang dipercaya memberikan bimbingan 
untuk meraih masa depan yang lebih jelas korup, masih disertai institusi yang 
dipercaya memberikan pelayanan kesehatan ragawi juga korup. Oleh sebab itu, 
seakan tidak ada lagi harapan untuk hidup tanpa terjadi korupsi di Indonesia.

Korupsi benar-benar telah terjadi seperti kata pepatah "dimulai dari WC hingga 
rumah ibadah/rumah Tuhan". Korupsi telah terjadi dari tempat yang dianggap 
paling kotor, jorok, dan tidak sopan, sampai tempat yang diangap paling suci 
dan diagungkan. Koruptor ternyata tidak memandang tempat. 

Dalam konteks peribahasa itulah, Depag saat ini tampak terlihat boroknya. 
Penyelewengan dana penyelenggaraan haji adalah bukti paling sempurna betapa 
lembaga yang berurusan dengan Tuhan saja melakukan tindak korupsi. Demikian 
pula tiga lembaga yang saya sebut di atas, tentu saja tidak bisa imun dari 
tindakan korupsi.


Siapa Yang Salah?

Dalam kaitannya dengan Depag, jangan-jangan, yang salah adalah para agamawan 
itu sendiri yang mengajarkan kepada umatnya tentang nilai-nilai agama, tetapi 
tidak pernah memberikan teladan kepada jamaah agar berbuat yang tidak 
bertentangan dengan ajaran agama. 

Agama diajarkan tetapi sebatas formalitas ajarannya, bukan bagaimana pemeluk 
agama itu menghayati dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari (everyday 
life) dengan ajaran agamanya.

Disebabkan para agamawan mengajarkan agama hanya formalitas, maka tatkala 
terjadi anomali-anomali, dikatakan sebagai sesuatu yang normal saja sebagai 
manusia biasa yang tidak lupa dari dosa dan khilaf. Orang beragama pun akhirnya 
hanya diajari memaafkan dan mendoakan kepada mereka yang berbuat kejahatan agar 
tidak mengulangi di kemudian hari.

Tetapi, orang beragama tidak pernah diajarkan agar mencontoh perbuatan dari 
dalam dirinya dan masyarakatnya yang tidak korup dan santun dengan semua orang. 
Dimensi kemanusiaan dan sosial hambar dari pengajaran agama di negeri ini. 
Sebab, yang terjadi adalah indoktrinasi yang penuh dengan ancaman dan 
pengampunan dari Tuhan.


* Zuly Qodir, peneliti Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian 
UGM Jogjakarta 



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke