Halo Lapau:

Rekan Anda, Sjamsir Sjarif , menganggap tulisan yang satu ini menarik

Judul: EssayDoa dari Taeh Baruah untuk Chairil AnwarOleh Nasrul Azwar, Aktivis 
Budaya
Tanggal: 2005-06-26 10:55:06
Rubrik: Budaya
URL: 
http://www.padangekspres.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=1914

Sjamsir Sjarif juga menulis pesan berikut:
Berita / Edisi Minggu / Budaya 
 

Essay
Doa dari Taeh Baruah untuk Chairil Anwar
Oleh Nasrul Azwar, Aktivis Budaya 
Oleh admin padek 1 
Minggu, 26-Juni-2005, 10:55:06 1 klik   
 
 
Malam hening. Gemericik hujan gerimis melembabkan tanah nagari kecil itu, yang 
jaraknya lebih kurang 8 km dari pusat Kota Payakumbuh atau 150 km dari Kota 
Padang. Gerimis tak juga reda, namun puluhan majelis taqlim anak nagari Taeh 
Baruah, Kecamatan Payakumbuah, Kabupaten Limapuluhkota, dengan khusuk 
melantunkan doa-doa dan ayat Yasin untuk alharmum Chairil Anwar, sastrawan 
besar Indonesia, yang orangtuanya berasal dari nagari itu, pada Sabtu (28/5) 
lalu. 
 
 

?Pembacaan doa dan ayat Yasin salah satu bentuk penghormatan anak nagari Taeh 
Baruah kepada almarhum Chairil Anwar. Charil Anwar telah memberikan kekuatan 
pemikiran dan mengenalkan Nagari Taeh Baruah kepada dunia luar. Anak nagari 
Taeh Baruah sangat menghargainya,? kata Yasri Dt. Topa, salah seorang ninik 
mamak di nagari tersebut. 

Itulah salah satu rangkaian acara ?Alek Puisi Taeh? yang digelar dari tanggal 
27-29 Mei 2005 di Nagari Taeh Baruah, Kabupaten Limopuluah Koto, Sumatra Barat, 
hasil kerjasama masyakarat nagari dengan Dewan Kesenian Sumatra Barat (DKSB) 
dan didukung oleh Kompas. 

?Alek Puisi Taeh? merupakan pemaknaan terhadap sosok panyair Chairil Anwar 
sebagai representasi modernitas di ranah sastra Indonesia dan membuka ingatan 
kultural?terutama?bagi anak nagari Taeh Baruah bahwa nagari itu adalah tanah 
asal penyair besar Chairil Anwar, yang dalam sejarah sastra Indonesia menjadi 
tonggak perpuisian Indonesia modern. 

Program ini dirancang bersama masyarakat Taeh Baruah tidak semata bersifat 
sementara. Beberapa agenda yang telah terealisasi adalah hadirnya Rumah 
Pengetahuan Chairil Anwar di Nagari Taeh Baruah yang dikelola anak nagari itu 
sendiri. Kehadiran Rumah Pengetahuan Chairil Anwar ini untuk sementara waktu 
memanfaatkan bangunan kantor jorong menjelang rumah gadang orangtua Chairil 
Anwar yang nyaris roboh itu selesai diperbaiki. 

Rumah Pengetahuan Chairil Anwar diproyeksikan sebagai salah satu titik 
persinggahan bagi para pelajar, mahasiswa, sastrawan, peneliti sastra, dan 
masyarakat umum untuk mengenal lebih jauh sosok Chairil Anwar. Selain itu, juga 
dijadikan sentral kegiatan perpuisian di Sumatra Barat. Dan Rumah Pengetahuan 
Chairil Anwar kini menjadi salah satu aset Nagari Taeh Baruah. 

*** 

Rumah gadang yang bagonjong empat itu tak begitu luas dan juga tak terlihat 
istemewa untuk ukuran rumah gadang yang dibangun semasanya. Rumah itu tak 
memiliki sembilan ruang seperti kebanyakan rumah gadang di Minangkabau dulunya. 
Tangga untuk menuju ke atas rumah telah roboh. 

Begitu pula lantai untuk menuju pintu masuknya telah hancur. Sisi depan rumah 
tampak jelas dindingnya telah lama melapuk dan tidak pernah tersentuh cat. 
Sebelah kanan dan kirinya ditumbuhi lalang dan batang kayu liar. Memang tak 
terlihat bahwa rumah orang tua laki-laki penyair Chairil Anwar itu pernah 
dibersihkan. 

Maka, untuk masuk ke dalam rumah tersebut kita mesti ekstra hati-hati, bisa 
saja terjerembab ke kolong rumah karena lantainya sangat lapuk. Rumah itu telah 
hampir berusia 100 tahun dan tela berpuluh tahun tidak lagi dihuni. Sangat 
panjang, memang. 

Namun demikian, masyarakat Nagari Taeh Baruah mencatat bahwa pada tahun 1942 
Chairil Anwar?saat usianya 20 tahun?pernah mendatangi rumah rumah gadang itu 
dan tinggal selama 6 bulan. 

?Pada tahun 1942 Chairil Anwar pulang ke Nagari Taeh guna menelusuri tanah asal 
dan mengetahui sanak saudara yang sebapak. Selama 6 bulan Chairil berada di 
sini. Dalam waktu yang singkat itu pula dia mengenal kampung dan budaya 
Minang,? jelas Yasri Dt Topa, tokoh masyarakat yang juga Ketua Pelaksana ?Alek 
Puisi Taeh?. 

Dia menjelaskan, selama 6 bulan itu Chairil Anwar lebih sering bermain di sawah 
sambil menunggangi kerbau. Kadang ia pergi memanen tembakau dan acap tertidur 
di pondok kebun tembakau. 

?Di pondok kebun tembakau itu pula salah satu puisi Chairil Anwar yang berjudul 
?Nenek? lahir. Puisi itu ditulisnya di atas bungkus rokok ?Cap Tombak? Saya 
hapal sekali puisi itu,? kata Tuhilwi Tulus, adik sebapak Chairil Anwar. Lalu 
dia membacakan isi puisi itu, Bukan kematianmu menusuk kalbu, hanya kepergianmu 
yang menerima segala apa. 

Akan tetapi, dari pengakuan Tuhilwi Tulus, sampai kini ia tak bisa menemukan 
kertas bungkus rokok ?Cap Tombak?. ?Telah hilang entah di mana.? 
Untuk itu pula, ahli waris keluarga Tulus (orang tua laki-laki Chairil Anwar) 
menyambut baik ?Alek Puisi Taeh? sebagai sebuah iven yang berkelanjutan, dan 
dengan rela menyerahkan rumah gadang beserta tanahnya kepada Nagari Taeh Baruah 
untuk dijadikan sebagai salah satu situs sejarah sastra Indonesia sekaligus 
dijadikan lokasi Rumah Pengetahuian Chairil Anwar, yang pada Sabtu (28/5) 
diresmikan oleh Penjabat Gubernur Sumatra Barat, M Thamrin, yang diwakili 
Yulizar Baharin, Kepala Dinas Pariwisara, Seni, dan Budaya Sumatra Barat. 
Dengan koleksi buku yang terbatas, kini Rumah Pengetahuan Chairil Anwar telah 
dapat dimanfaarkan masyarakat, terutama pelajar di nagari itu. 

*** 

Menurut Tuhilwi Tulus, setelah 6 bulan di Taeh Baruah, Chairil kembali 
melanjutkan perjalanannya ke Medan, kota tempat kelahirannya, dan selanjutnya 
ke Jakarta. Tak lama setelah pulang kampung, Chairil Anwar melepas masa 
lajangnya dan dikarunia seorang anak perempuan bernama Evawani Alisa. 

Orang tua laki-laki Chairil Anwar bernama Tulus, mantan bupati Kabupaten 
Indragiri, Riau. Orang tua perempuan Chairil Anwar bernama Saleha berasal dari 
Nagari Situjuah, Kabupaten 50 Kota. 

?Jadi, jika mengacu pada sistem adat Minangkabau yang matrilineal, kampung 
halaman Chairil Anwar adalah Nagari Situjuah. Nagari Taeh Baruah adalah bako 
bagi Chairil Anwar karena orangtua laki-lakinya berasal dari Taeh Baruah,? ujar 
Tuhilwi Tulus. 

Pada tahun 1925, saat usia Chairil Anwar 3 tahun, rumah tangga Tulus dan Saleha 
pecah. Kedua orangtuanya bercerai. Chairil kecil diboyong Saleha ke Jakarta dan 
dibesarkan di kota itu hingga ajal menjemputnya pada 28 April 1949 dalam usia 
masih muda, 27 tahun. *** 


Tulisan menarik lainnya bisa Anda baca di ..:: Padang Ekspres ONLINE ::..
http://www.padangekspres.com

_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke