Bismillahirrahmaanirrahiim,
Assalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,

Bundo Isna, mohon maaf jika terlambat. Berikut saya sertakan suatu artikel
tentang bencana.

Semoga bermanfaat. Allahu Ta'ala a'lam.

http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=251
-------------------------
Hikmah Ilahi di Balik Musibah Gempa Bumi dan Tsunami
Syariah, Oase, 04 - Maret - 2005, 18:24:34

(Diambil dan diterjemahkan dengan sedikit ringkasan dari tulisan Asy-Syaikh
Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i dalam bukunya Al-Makhraj Minal Fitnah, hal.
129-132, oleh Al-Ustadz Qomar ZA)

Orang-orang berbeda pendapat dalam (menjelaskan penyebab terjadinya) gempa.
Ada yang mengatakan bahwa gempa merupakan peristiwa yang bersifat alami,
tidak ada kaitannya dengan agama. Sebagian lainnya mengatakan bahwa gempa
merupakan ketentuan dan taqdir Allah Subhanahu wa Ta'ala yang tidak ada
kaitannya dengan dosa. Ada lagi yang mengatakan bahwa gempa merupakan
kejadian untuk membuat takut manusia dan tiada kaitannya dengan dosa.
Sebagian lagi mengatakan bahwa gempa terjadi disebabkan oleh dosa manusia.

Jawabannya, –Allah Subhanahu wa Ta'alalah yang memberikan taufiq untuk
kebaikan dan kebenaran– sesungguhnya gempa itu untuk menciptakan rasa
takut (mengingatkan supaya sadar dan kembali kepada agama, pent) dan ia
(terjadi) dengan qadha dan qadar Allah Subhanahu wa Ta'ala. Gempa juga
terjadi disebabkan dosa-dosa manusia. Dengan demikian, terjadinya gempa
adalah untuk membuat takut manusia yang (masih) hidup yang menyaksikan
kejadian itu. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَإِنْ مِّنْ قَرْيَةٍ إِلاَّ نَحْنُ
مُهْلِكُوْهاَ قَبْلَ يَوْمِ
الْقِياَمَةِ أَوْ مُعَذِّبُوْهاَ
عَذَاباً شَدِيْدًا كاَنَ ذَلِكَ فِي
الْكِتاَبِ مَسْطُوْرًا. وَماَ مَنَعَناَ
أَنْ نُرْسِلَ بِاْلآياَتِ إِلاَّ أَنْ
كَذَّبَ بِهاَ اْلأَوَّلُوْنَ وَآتَيْناَ
ثَمُوْدَ النَّاقَةَ مُبْصِرَةً
فَظَلَمُوا بِهاَ وَماَ نُرْسِلُ
بِاْلآياَتِ إِلاَّ تَخْوِيْفاً

“Tidak ada satu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami
membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab
yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh
Mahfuzh). Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami mengirimkan
(kepadamu) tanda-tanda (kekuasaan Kami), melainkan karena tanda-tanda itu
telah didustakan oleh orang-orang dahulu. Dan telah Kami berikan kepada
Tsamud unta betina itu (sebagai mu’jizat) yang dapat dilihat, tetapi
mereka menganiaya unta betina itu. Dan Kami tidak memberi tanda itu
melainkan untuk menakuti.” (Al-Isra: 58-59)

Ayat yang menerangkan bahwa gempa merupakan kejadian dengan qadha dan qadar
Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah firman-Nya:

مآ أَصاَبَ مِنْ مُصِيْبَةٍ فِي اْلأَرْضِ
وَلاَ فِيْ أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ فِيْ
كِتاَبٍ مِّنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهاَ
إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيْرٌ

“Tiada satu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu
sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami
menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”
(Al-Hadid: 22)

ماَ أَصاَبَ مِنْ مُصِيْبَةٍ إِلاَّ
بِإِذْنِ اللهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللهِ
يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللهُ بِكُلِّ شَيْءٍ
عَلِيْمٌ

“Tidak ada satu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin
Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi
petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(At-Taghabun: 11)

Adapun bahwa gempa disebabkan dosa-dosa, sesungguhnya Allah Subhanahu wa
Ta'ala berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia:

ماَ أَصاَبَكُمْ مِنْ مُصِيْبَةٍ فَبِماَ
كَسَبَتْ أَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوا عَنْ
كَثِيْرٍ

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh
perbuatan tanganmu sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar (dari
kesalahan-kesalahanmu).” (Asy-Syura: 30)

ذَلِكَ أَنْ لَمْ يَكُنْ رَبُّكَ مُهْلِكَ
الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهاَ
غاَفِلُوْنَ

“Yang demikian itu adalah karena Rabbmu tidaklah membinasakan kota-kota
secara aniaya, sedangkan penduduknya dalam keadaan lengah (belum
diingatkan).”(Al-An’am: 131)

وَماَ كاَنَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى
بِظُلْمٍ وَأَهْلُهاَ مُصْلِحُوْنَ

“Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara
zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Hud: 117)

وَكَمْ أَهْلَكْناَ مِنْ قَرْيَةٍ
بَطِرَتْ مَعِيْشَتَهاَ فَتِلْكَ
مَساَكِنُهُمْ لَمْ تُسْكَنْ مِنْ
بَعْدِهِمْ إِلاَّ قَلِيْلاً وَكُناَّ
نَحْنُ الْوَارِثِيْنَ. وَماَ كاَنَ
رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى حَتَّى
يَبْعَثَ فِيْ أُمِّهاَ رَسُوْلاً
يَتْلُوا عَلَيْهِمْ آياَتِناَ وَماَ
كُناَّ مُهْلِكِي الْقُرَى إِلاَّ
وَأَهْلُهاَ ظاَلِمُوْنَ

“Dan berapa banyak (penduduk) negeri yang telah Kami binasakan, yang telah
bersenang-senang dalam kehidupannya. Maka itulah tempat kediaman mereka yang
tiada didiami (lagi) sesudah mereka, kecuali sebagian kecil. Dan Kami adalah
pewarisnya. Dan tidaklah Rabbmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus
di kota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan
tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam
keadaan melakukan kezaliman.” (Al-Qashash: 58-59)1

Gempa juga merupakan adzab bagi orang yang jahat sebagaimana (ayat-ayat)
lalu dan sebagai rahmah (kasih sayang) kepada seorang muslim. Al-Imam
Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih keduanya dari
Abu Hurairah radhiallahu 'anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda:

الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ: الْمَطْعُوْنَ
وَالْمَبْطُوْنَ وَالْغَرِيْقُ وَصاَحِبُ
الْهَدْمِ وَالشَّهِيْدُ فِيْ سَبِيْلِ
اللهِ

“Para syuhada itu ada lima golongan: yang terkena tha’un (penyakit
karena bakteri pada tikus), mabthun2, tenggelam, terkena reruntuhan, dan
yang syahid di jalan Allah.”

Karenanya, orang yang mati karena tertimpa reruntuhan (akibat gempa) menjadi
syahid di jalan Allah Shallallahu 'alaihi wa sallam baik dewasa atau anak
kecil, laki-laki ataupun wanita. Kaum muslimin yang shalih serta anak-anak
mereka terkena musibah akibat dosa yang dilakukan oleh selain mereka3,
sebagaimana firman-Nya:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لاَ تُصِيْبَنَّ
الَّذِيْنَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خآصَّةً
واعلموا أَنَّ اللهَ شَدِيْدُ الْعِقاَبِ

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang
yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras
siksaan-Nya.” (Al-Anfal: 25)

Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih
keduanya dari Aisyah radhiallahu 'anha, ia mengatakan bahwa Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

يَغْزُو جَيْشٌ الْكَعْبَةَ فَإِذَا
كاَنُوا بِبَيْدَاءَ مِنَ اْلأَرْضِ
يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ
ثُمَّ يُبْعَثُوْنَ عَلَى نِيَّاتِهِمْ

“Sekelompok pasukan perang ingin menyerang Ka’bah. Hingga ketika mereka
berada di tempat yang bernama Al-Baida’ dari bumi ini mereka
ditenggelamkan ke dalam perut bumi awal hingga akhirnya (semuanya). Kemudian
mereka akan dibangkitnya sesuai dengan niat-niat mereka.”

Demikian pula gempa menjadi cobaan bagi keluarga yang meninggal karena
reruntuhan itu, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

يآ أَيُّهاَ الَّذِيْنَ آمَنُوا
اسْتَعِيْنُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ
إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِيْنَ. وَلاَ
تَقُوْلُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِيْ سَبِيْلِ
اللهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيآءٌ وَلَكِنْ
لاَ تَشْعُرُوْنَ. وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ
بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ
وَنَقْصٍ مِنَ اْلأَمْوَالِ
وَاْلأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ
الصَّابِرِيْنَ. الَّذِيْنَ إِذَا
أَصَابَتْهُمْ مُصِيْبَةٌ قَالُوا إِنَّا
ِللهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ.
أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ
رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ
الْمُهْتَدُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan
sabar dan (mengerjakan) shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang
sabar. Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di
jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup,
tetapi kamu tidak menyadarinya. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan
kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan
buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,
‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun’. Mereka itulah yang mendapat
keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah
orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 153-157)

Gempa pun menjadi peringatan atas jauhnya seseorang dari syariat Allah
Subhanahu wa Ta'ala. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

أَوَلاَ يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُوْنَ
فِيْ كُلِّ عاَمٍ مَرَّةً أَوْ
مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لاَ يَتُوْبُوْنَ وَلاَ
هُمْ يَذَّكَّرُوْنَ

“Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka
diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga)
bertaubat dan tidak (pula) mengambil pengajaran?” (At-Taubah: 126)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman pula mengisahkan tentang Nabi Yunus
'alaihissalam:

فَلَوْلاَ كاَنَتْ قَرْيََةٌ آمَنَتْ
فَنَفَعَهاَ إِيْمَانُهاَ إِلاَّ قَوْمَ
يُوْنُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْناَ
عَنْهُمْ عَذَابَ الْحِزْيِ فِي
الْحَياَةِ الدُّنْياَ وَمَتَّعْناَهُمْ
إِلَى حِيْنٍ

“Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya
itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu)
beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan
dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang
tertentu.” (Yunus: 98)

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan taufiq-Nya kepada kita untuk
kembali kepada Allah dan berhukum dengan Kitabullah serta Sunnah Rasul-Nya,
serta untuk menghilangkan kemaksiatan yang (banyak dilakukan) di
hotel-hotel. Juga melarang berbaurnya siswa laki-laki dan perempuan di
perguruan tinggi serta menghilangkan pembunuhan terhadap jiwa yang Allah
Subhanahu wa Ta'ala haramkan kecuali yang dibenarkan.

Demikianlah, adapun orang yang mengatakan bahwa gempa itu hanya bersifat
alami, maka dia sesungguhnya orang yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah
Subhanahu wa Ta'ala, padahal Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya matahari dan rembulan adalah dua tanda kebesaran Allah.
Tidaklah keduanya (mengalami) gerhana disebabkan oleh kematian seseorang
atau kehidupan seseorang, akan tetapi Allah menimpakan rasa takut kepada
hamba-Nya dengan keduanya. Maka bila kalian melihat itu berdoalah kepada
Allah hingga tersingkap gerhana itu…”
Orang yang mengatakan: “Ini hanya peristiwa alam,” berarti ia telah
mencela kemuliaan yang Allah Subhanahu wa Ta'ala berikan kepada Nabi-Nya, di
mana Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menganugerahi Nabi-Nya bencana bagi
orang-orang yang mengingkari mereka (para Nabi). Semoga Allah menghancurkan
sikap pengingkaran ini yang merupakan bencana jelek bagi agama-agama langit.

1 Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menukil ucapan ‘Ali bin Abu Thalib
radhiallahu 'anhu: “Tidaklah turun musibah kecuali dengan sebab dosa dan
tidaklah musibah diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala kecuali dengan
bertobat.” (Al-Jawabul Kafi hal. 118) -ed.

2 Yaitu yang terkena penyakit perut yaitu ascites akibat lever dan perut
membusung. Dalam penafsiran lain: Diare. Dalam penafsiran lain: Yang sakit
perutnya. (Ahkamul Janaiz karya Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
rahimahullah hal. 51) -ed.

3 Maksudnya, ketika musibah menimpa suatu kaum karena dosa, maka musibah itu
tidak hanya menimpa orang yang berbuat dosa saja, namun orang yang shalih
pun terkena. Hanya saja bagi orang yang shalih, musibah itu akan menjadi
rahmat.
-------------------------

---
Ahmad Ridha ibn Zainal Arifin ibn Muhammad Hamim
(l. 1980 M/1400 H)



_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke