Bismillahirrahmaanirrahiim,
Assalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):
"Sebaik-baik manusia adalah generasiku" (Muttafaq 'alaihi).
Mohon maaf jika masalah ini sudah agak lama berlalu. Beberapa hari lalu
saya mendapati penjelasan yang insya Allah bermanfaat dalam memahami
konteks permasalahan ini. Juga untuk mengingatkan kita agar terus
berusaha tetap istiqomah menaati Allah dan Rasul-Nya.
Disalin dari: Apakah Anda Pengikut Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa
Sallam? (judul asli: Iqazhul Himmah li Itba'i Nabiyil Ummah) karya
Khalid ibnu Su'ud al-Ajmi, Najla Press, 2003 hal. 163-164 (dengan
sedikit tambahan dengan kode ARD).
Buku tersebut membahas tentang pentingnya keteguhan dalam Sunnah dan
memberikan teladan-teladan ketaatan para shahabat radhiallahu 'anhum
ajma'in kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
-----------------------------
Seorang musim kadang meninggalkan sesuatu perintah Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam atau mengerjakan sesuatu dari larangannya.
Hal tersebut terjadi karena ada sesuatu pada dirinya, dan yang paling
sering karena pengaruh (ikut-ikutan) orang-orang sezamannya dan perasaan
malu terhadap mereka, di mana telah terbalik dalam pandangan mereka
timbangan atau ukuran segala perkara.
Hasilnya, Sunnah dianggap sebagai bid'ah dan bid'ah menjadi Sunnah atau
taqarrub kepada Allah. Atau mungkin pula ada prasangka bahwa dirinya
diampuni dalam hal penyelisihan tadi (apakah karena sakit atau selainnya).
Tetapi, orang-orang yang hidup pada zaman generasi shahabat - yang
merupakan sebaik-baik generasi - tidak mengedepankan sesuatu apapun di
atas perintah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Apa yang beliau perintahkan akan segera mereka ikuti dan mereka laksanakan.
Hal tersebut dipersaksikan oleh Imam Ahmad dari Ya'qub bin Ashim, ia
mendengar asy-Syuraid berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
pernah melihat seorang laki-laki yang menurunkan kainnya (menyeret
kainnya) di bawah mata kaki (isbal), maka beliau bersegera dengan
lari-lari kecil menuju kepadanya dan berkata, 'Angkatlah kainmu dan
bertakwalah kepada Allah!" Laki-laki itu berkata, 'Sesungguhnya aku
laki-laki yang pincang. Jika berjalan maka kedua lututku akan saling
bersinggungan'. Beliau bersabda, 'Angkatlah kainmu, karena segala
sesuatu yang Allah ciptakan adalah baik.' Lalu setelah itu tidaklah
laki-laki tadi dilihat melainkan kainnya mencapai tengah betisnya atau
berada di tengah-tengah betisnya." [1]
Lihatlah shahabat radhiallahu 'anhu yang mulia ini, sekalipun keadaannya
cacat tapi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak memberikan udzur
kepadanya untuk menjulurkan kainnya ke bawah mata kaki, bahkan beliau
memerintahkannya untuk mengangkatnya. Di samping itu, iapun segera
menyambut perintah tadi dan tidak menganggap udzur tadi sebagai
halangan, hingga tiada yang tinggal melainkan taat dan tunduk kepada
perintahnya, dan hal tersebut telah terbukti.
[ARD: mungkinkah kita memberi udzur diri kita sendiri dengan alasan
'saya tidak sombong'? Padahal Rasulullah telah memperingatkan dengan
tegas "Jauhilah olehmu isbal, karena ia termasuk perbuatan yang sombong"
(HR Abu Daud, Turmudzi dengan sanad yang shahih). Allahul musta'an.]
Dari kisah tadi, maka pertanyaan yang tersisa adalah: Apakah ada udzur
bagi orang-orang [ARD: laki-laki] yang menurunkan kainnya di bawah mata
kaki dan menyelisihi perintah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam?
[1] Dikeluarkan oleh Imam Ahmad (dalam Musnad-nya; 4/490) dan
ath-Thabrani (dalam al-Mu'jamul Kabir; 7/315-316). Dikatakan dalam
al-Majma (5/124), "Perawi Ahmad perawi shahih." Syaikh al-Albani
berkata, "Isnadnya shahih dan seluruh perawinya tsiqah (terpercaya)."
Lihat as-Silsilah as-Shahihah (3/427; nomor 1441).
-----------------------------
Sungguh betapa jauh diri ini dari generasi terbaik umat ini. Seringkali
kita masih sibuk memalingkan suatu perintah atau larangan menjadi
sesuatu yang lebih 'mudah' bagi diri kita walaupun akhirnya menyelisihi
perintah Allah dan Rasul-Nya. Bukankah telah ada orang yang memalingkan
kewajiban sholat dengan alasan 'yang penting ingat Allah' atau bahkan
meninggalkan sholat dengan alasan 'tidak bisa konsentrasi karena
memikirkan urusan sosial'. Na'udzubillah min dzalik.
Allahu Ta'ala a'lam.
Semoga Allah menjadikan kita meniti jalan Rasulullah dan para shahabat
beliau dan mengumpulkan kita bersama mereka.
--
Ahmad Ridha ibn Zainal Arifin ibn Muhammad Hamim
(l. 1980M/1400H)
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________