Mamak Darwin Bahar, Saya memiliki pandangan yang berbeda dengan yang Mamak miliki. Dalam pandangan saya, kekuatan suatu berdasarkan pada konsep 'aqidah (konsep dasar keimanan) yang dimiliki oleh agama tersebut. Sedikit tentang 'aqidah ini, eaqidah menurut bahasa berasal dari kata al- eAqdu yang berarti ikatan, at-Tautsiqu yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-Ihkamu artinya mengokohkan/ menetapkan, dan ar-rabthu biquwwah yang berarti mengikat dengan kuat. Jadi kepercayaan yang kuat kepada Tuhan yang diimani dalam suatu agama merupakan fondasi dari berdirinya agama tersebut.
Dalam Islam kita mengenal yang namanya Rukun Iman, yang merupakan konsep 'aqidah agama Islam, yang mensyaratkan para pemeluk agama Islam mengimani Allaah, Malaikat, Kitab-kitab yang diturunkan-Nya, para Rasul dan Nabi yang diutus-Nya, hari kiamat serta Qadha dan Qadar secara mutlak, non reserved. Beriman di sini bukan hanya mengatakan saya beriman kepada hal-hal di atas, tetapi tentunya harus ditindaklanjuti dengan mengikuti apa yang diajarkan melalui kitab-kitab Allaah, sunnah-sunnah para Nabi dan Rasul-Nya. Mengenai orang-orang Ahmadi, ketika mereka mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW bukanlah nabi yang terakhir, mereka telah mengingkari Al-Qur'an yang merupakan kitab Allaah yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang terakhir, padahal umat Islam secara mutlak sudah diminta beriman kepada seluruh unsur rukun Iman, yang artinya mengingkari satu saja dari unsur tersebut akan mengakibatkan batalnya keimanannya. Ketika Robert mengatakan beriman kepada Rasulullaah SAW tetapi tidak mengakui bahwa dalam hadits Rasulullaah SAW ada yang mengatakan hari Jum'at adalah hari raya bagi umat Muhammad SAW, maka ada kontradiksi dalam keimanannya tersebut. 'Aqidah Islamiyyah adalah konsep keimanan yang simple, logis dan jelas. Kalau tidak mau mengakui salah satu unsur tersebut silahkan saja, tetapi jangan membawa-bawa nama Islam dalam kepercayaan tersebut. Umat Islam tetap akan bermuamalah dengan orang- orang beragama lain, tetapi tetap meyakini bahwa 'aqidah Islamlah yang benar, sebagaimana umat agama lain juga meyakini bahwa aqidah mereka yang benar. Kalau memang ada persamaan dalam beberapa hal wajar saja, tetapi secara logika tidak bisa digunakan untuk mengatakan bahwa semua agama adalah benar. Jika misalkan umat Islam berpegang teguh pada keimanan yang mutlak ini, insya Allaah para ulamanya tidak akan disibukkan dengan penanganan hal-hal seperti Ahmadi, JIL ataupun LDII dan sebagainya. Umat Islam dengan berfondasi yang kuat dapat membangun rumah Islam dengan aturan-aturan yang jelas dan telah disepakati bersama, dan tidak disibukkan terus dengan pemilihan batu-batu untuk menyusun fondasi rumahnya. Mereka akan lebih mudah menggalang persatuan dan kekuatan untuk mengumpulkan zakat dan infaq untuk membantu saudara- saudaranya yang ditimpa musibah. Alhamdulillaah sudah ada orang- orang yang berusaha menguatkan aqidahnya, dan kita lihat masih banyak kaum muslimin yang berusaha membantu saudara-saudara kita yang di Aceh, dan menafikan usaha mereka dengan mengatakan bahwa umat Islam mulai abai terhadap mereka saya rasa adalah sesuatu yang naif. Usaha-usaha merusak konsep 'aqidah Islam yang sudah jelas melalui berbagai argumentasi oleh orang-orang yang tidak memiliki keimanan yang mutlak terhadap konsep aqidah Islam itulah yang menyibukkan para ulama dan cendekiawan Islam yang istiqamah untuk melakukan usaha-usaha melawan perusakan tersebut. Padahal aqidah umat Islam sendiri belum kuat dan stabil benar, sehingga masih perlu pembinaan yang intensif oleh para ulamanya. Ini menambah beban kerja para da'i Islam, dan kalau para perusak itu mengatakan bahwa konsep yang mereka bawa bukan konsep Islam, sebetulnya selesai kerja kita. Tetapi mereka mengatakan ini adalah konsep Islam, sehingga perlu terus ada usaha-usaha pelurusan agar umat Islam yang awam tidak tertipu dengan konsep yang mengatasnamakan Islam. Sementara itu dulu tanggapan saya. Wassalaamu'alaykum wr wb Muhammad Arfian --- In [EMAIL PROTECTED], Darwin Bahar <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Ketika menanggapi postingan seorang netter penganut Katolik yang > simpatik mengenai azan, saya mengutip pendapat Dr Nurcholis Majid (Cak > Nur), bahwa semakin dekat ke pusat lingkaran---pada tataran esetoris > semua agama--semakin kecil perbedaan. _____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

