Assalaamu’alaykum wa Rahmatullaahi wa Barakatuhu
Saya menyukai gaya tulisan Dr. Syamsuddin Arif yang lugas ini, straight dan
tidak menyindir-nyindir, serta dilengkapi dengan argumen yang logis dan
mudah dimengerti.
Mungkin saja ada yang berpendapat bahwa dalam Islam banyak berbagai macam
cara pemikiran yang seharusnya dipahami keberadaannya. Tetapi setelah itu
sebagai orang yang berpikir tentunya kita akan bertanya "so what?" setelah
memahami keberadaan berbagai pemikiran tersebut. Saya kira setelah memahami
sesuatu kita akan mencoba memahami ke mana arah pemikiran tersebut dan apa
akibatnya, baik itu kepada diri kita dan kepada masyarakat banyak.. Kalau
dari pemahaman kita dan juga pemahaman-pemahaman orang lain yang dasar
argumennya jelas dan bisa dipercaya menyatakan bahwa akan ada akibat buruk
yang dihasilkan oleh sebuah aliran pemikiran kepada umat ini misalnya,
adalah saya berpikir adalah kewajiban orang-orang yang mampu untuk berusaha
dalam meminimalisir atau bahkan mengeliminasi akibat yang akan disebabkan
oleh pemikiran tersebut melalui berbagai macam cara yang rasional dan legal.
Pemahaman bukanlah hanya untuk pemahaman, tetapi merupakan dasar untuk
melakukan aksi-aksi nyata.
Wassalaamu'alaykum wa Rahmatullahi wa Barakatuhu
Muhammad Arfian
[EMAIL PROTECTED]
090-6149-4886
"Isy Kariman Aw Mut Syahidan"
"Diabolisme Intelektual"
Diabolos adalah 'iblis. Sebagaimana kita ketahui, ia dikutuk dan
dihalau karena menolak perintah Tuhan dan bersujud kepada Adam. Tapi
dia bukan atheist atau ragu pada Tuhan
Oleh Dr. Syamsuddin Arif *
Diabolos adalah Iblis dalam bahasa Yunani kuno, menurut A. Jeffery
dalam bukunya the Foreign Vocabulary of the Qur'an, cetakan Baroda
1938, hlm. 48. Maka istilah "diabolisme" berarti pemikiran, watak dan
perilaku ala Iblis ataupun pengabdian padanya. Dalam kitab suci al-
Qur'an dinyatakan bahwa Iblis termasuk bangsa jin (18:50), yang
diciptakan dari api (15:27). Sebagaimana kita ketahui, ia dikutuk dan
dihalau karena menolak perintah Tuhan untuk bersujud kepada Adam.
Apakah Iblis atheist? Tidak. Apakah ia agnostik? Tidak. Iblis tidak
mengingkari adanya Tuhan. Iblis tidak meragukan wujud maupun
ketunggalan-Nya. Iblis bukan tidak kenal Tuhan. Ia tahu dan percaya
seratus persen. Lalu mengapa ia dilaknat dan disebut 'kafir'? Di
sinilah letak persoalannya.
Kenal dan tahu saja, tidak cukup. Percaya dan mengakui saja, tidak
cukup. Mereka yang kafir dari kalangan Ahli Kitab pun kenal dan tahu
persis siapa dan bagaimana terpercayanya Rasulullah SAW, sebagaimana
orangtua mengenali anak kandungnya sendiri (ya'rifunahu kama
ya'rifuna abna'ahum). Namun tetap saja mereka enggan masuk Islam.
Jelaslah bahwa pengetahuan, kepercayaan, dan pernyataan harus
disertai dengan kepatuhan dan ketundukan, harus diikuti dengan
kesediaan dan kemauan untuk merendah, menurut dan melaksanakan
perintah. "Knowledge and recognition should be followed by
acknowledgement and submission, " tegas Profesor Naquib al-Attas.
Kesalahan Iblis bukan karena ia tak tahu atau tak berilmu.
Kesalahannya karena ia membangkang (aba, QS 2:34, 15:31, 20:116),
menganggap dirinya hebat (istakbara, QS 2:34, 38:73, 38:75), dan
melawan perintah Tuhan (fasaqa ?an amri rabbihi, QS 18:50). Dalam hal
ini, Iblis tidak sendirian. Sudah banyak orang yang berhasil direkrut
sebagai staf dan kroninya, berpikiran dan berprilaku seperti yang
dicontohkannya.
Iblis adalah 'prototype' intelektual 'keblinger'. Sebagaimana
dikisahkan dalam al-Qur'an, sejurus setelah ia divonis, Iblis mohon
agar ajalnya ditangguhkan. Dikabulkan dan dibebaskan untuk sementara
waktu, ia pun bersumpah untuk menyeret orang lain ke jalannya, dengan
segala cara.
"Hasutlah siapa saja yang kau bisa dari kalangan mereka dengan
seruanmu. Kerahkan seluruh pasukanmu, kavalri maupun infantri.
Menyusuplah dalam urusan keuangan dan keluarga mereka. Janjikan
mereka [kenikmatan dan keselamatan]!" Demikian difirmankan kepada
Iblis (QS 17:64).
Maka Iblis pun bertekad: "Sungguh akan kuhalangi mereka dari jalan-Mu
yang lurus. Akan kudatangi mereka dari arah depan dan belakang, dari
sebelah kanan dan kiri mereka!" (QS 7:16-17). Maksudnya, menurut
Ibnu ?Abbas ra, Iblis bertekad untuk menyesatkan orang dengan menebar
keraguan, membuat orang ragu dan lupa pada akhirat, alergi dan anti
terhadap kebaikan dan kebenaran, gandrung dan tergila-gila pada
dunia, hobi dan cuek berbuat dosa, ragu dan bingung soal agama
(Lihat: Ibn Katsir, Tafsir al-Qur'an al-?Az?im, cetakan Beirut, al-
Maktabah al-?As?riyyah, 1995, vol. 2, hlm. 190).
Tidak sulit untuk mengidentifikasi cendekiawan bermental Iblis.
Sebab, ciri-cirinya telah cukup diterangkan dalam al-Qur'an sebagai
berikut. Pertama, selalu membangkang dan membantah (6:121). Meskipun
ia kenal, tahu dan faham, namun tidak akan pernah mau menerima
kebenaran. Seperti ingkarnya Fir'aun berikut hulu-balangnya, zulman
wa 'uluwwan, meskipun dan padahal hati kecilnya mengakui dan meyakini
(wa istayqanat-ha anfusuhum).
Maka selalu dicarinya argumen untuk menyanggah dan menolak kebenaran
demi mempertahankan opininya. Sebab, yang penting baginya bukan
kebenaran, akan tetapi pembenaran. Jadi, bukan karena ia tak tahu
mana yang benar, tetapi karena ia memang tidak mau mengikuti dan
tunduk pada kebenaran itu. Jadi jangan heran bila selalu saja ada
cendekiawan yang meskipun nota bene Muslim, namun sifatnya seperti
itu. Ideologi dan opini pemikirannya yang liar lebih ia pentingkan
dan ia pertahankan ketimbang kebenaran dan aqidah Islamnya.
Dalam tradisi keilmuan Islam, sikap membangkang semacam ini disebut
juga al-'inadiyyah (Lihat: Abu Hafs Najmuddin Umar ibn Muhammad an-
Nasafi (w. 537 H/1142 M), al-'Aqa'id, dalam Majmu? min Muhimmat al-
Mutun, Kairo: al-Matba'ah al-Khayriyyah, 1306 H, hlm. 19).
Kedua, intelektual diabolik bersikap takabbur (sombong, angkuh,
congkak, arrogans). Pengertian takabbur ini dijelaskan dalam hadis
Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (no.147): "Sombong ialah
menolak yang haq dan meremehkan orang lain (al-kibru batarul-haqq wa
ghamtu n-nas)".
Akibatnya, orang yang mengikuti kebenaran sebagaimana dinyatakan
dalam al-Qur'an atau hadis Nabi SAW dianggapnya dogmatis, literalis,
logosentris, fundamentalis, konservatif dan lain sebagainya.
Sebaliknya, orang yang berpikiran liberal, berpandangan relativistik
dan skeptis, menghujat al-Qur'an maupun Hadis, meragukan dan menolak
kebenarannya, justru disanjung sebagai intelektual kritis, reformis
dan sebagainya, meskipun terbukti zindiq, heretik dan bermental
Iblis.
Mereka bermuka dua, menggunakan standar ganda (2:14). Mereka
menganggap orang beriman itu bodoh, padahal merekalah yang bodoh dan
dungu (sufaha'). Intelektual semacam inilah yang diancam Allah dalam
al-Qur'an : "Akan Aku palingkan mereka yang arogan tanpa kebenaran
itu dari ayat-ayat-Ku. Sehingga, meskipun menyaksikan setiap ayat,
tetap saja mereka tidak akan mempercayainya. Dan kalaupun melihat
jalan kebenaran, mereka tidak akan mau menempuhnya. Namun jika
melihat jalan kesesatan, mereka justru menelusurinya" (7:146).
Ciri yang ketiga ialah mengaburkan dan menyembunyikan kebenaran
(talbis wa kitman al-haqq). Cendekiawan diabolik bukan tidak tahu
mana yang benar dan mana yang salah. Namun ia sengaja memutarbalikkan
data dan fakta. Yang batil dipoles dan dikemas sedemikian rupa
sehingga nampak seolah-olah haq.
Sebaliknya, yang haq digunting dan di'preteli' sehingga kelihatan
seperti batil. Ataupun dicampur-aduk dua-duanya sehingga tidak jelas
lagi beda antara yang benar dan yang salah. Strategi semacam ini
memang sangat efektif untuk membuat orang lain bingung dan terkecoh.
Contohnya seperti yang dilakukan oleh para pengasong gagasan
inklusivisme dan pluralisme agama. Mereka mengutip ayat-ayat al-
Qur'an (2:62 dan 5:69) untuk menjustifikasi pemikiran liarnya, untuk
mengatakan semua agama adalah sama, tanpa mempedulikan konteks siyaq,
sibaq dan lihaq maupun tafsir bi l-ma'tsur dari ayat-ayat tersebut.
Sama halnya yang dilakukan oleh para orientalis Barat dalam kajian
mereka terhadap al-Qur'an dan Hadis. Mereka mempersoalkan dan
membesar-besarkan perkara-perkara kecil, mengutak-atik yang sudah
jelas dan tuntas, sambil mendistorsi dan memanipulasi (tahrif) sumber-
sumber yang ada. Hal ini tidak terlalu mengejutkan, mengingat
kebanyakan mereka adalah Yahudi dan Nasrani yang karakternya telah
dijelaskan dalam al-Qur'an 3:71, "Ya ahla l-kitab lima talbisuna l-
haqq bi l-batil wa taktumu l-haqq wa antum ta'lamun?" Yang sangat
mengherankan ialah ketika hal yang sama dilakukan oleh mereka yang
zahirnya Muslim.
Karena watak dan peran yang dilakoninya itu, Iblis disebut juga Setan
(syaytan), kemungkinan dari bahasa Ibrani 'syatan', yang artinya
lawan atau musuh (Lihat: W. Gesenius, Lexicon Manuale Hebraicum et
Chaldaicum in Veteris Testamenti Libros). Dalam al-Qur'an memang
ditegaskan bahwa setan adalah musuh nyata manusia (12:5, 17:53 dan
35:6). Selain pembangkang ('asiyy), setan berwatak jahat, liar, dan
kurang ajar (marid dan marid). Untuk menggelincirkan (istazalla),
menjerumuskan (yughwi) dan menyesatkan (yudillu) orang, setan juga
memakai strategi. Caranya dengan menyusup dan mempengaruhi
(yatakhabbat), merasuk dan merusak (yanzagh), menaklukkan (istahwa)
dan menguasai (istah'wadza), menghalang-halangi (yasudd) dan menakut-
nakuti (yukhawwif), merekomendasi (sawwala) dan menggiring (ta'uzz),
menyeru (yad'u) dan menjebak (yaftin), menciptakan imej positif untuk
kebatilan (zayyana lahum a'malahum), membisikkan hal-hal negatif ke
dalam hati dan pikiran seseorang (yuwaswis), menjanjikan dan
memberikan iming-iming (ya'iduhum wa yumannihim), memperdaya dengan
tipu muslihat (dalla bi-ghurur), membuat orang lupa dan lalai
(yunsi), menyulut konflik dan kebencian (yuqi'u l-'adawah wa l-
baghda'), menganjurkan perbuatan maksiat dan amoral (ya'mur bi l-
fahsya' wa l-munkar) serta menyuruh orang supaya kafir (qala li l-
insani-kfur).
Nah, trik-trik inilah yang juga dipraktekan oleh antek-antek dan
konco-konconya dari kalangan cendekiawan dan ilmuwan. Mereka disebut
awliya' al-syaytan (4:76), ikhwan al-syaytan (3:175), hizb al-syaytan
(58:19) dan junudu Iblis (26:94). Mereka menikam agama dan
mempropagandakan pemikiran liar atas nama hak asasi manusia (HAM),
kebebasan berekspresi, demokrasi, pembaharuan, pencerahan ataupun
penyegaran.
Semua ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru atau pertama kali
terjadi, seperti segera diketahui oleh setiap orang yang membaca
sejarah pemikiran Islam. Semuanya merupakan repetisi dan reproduksi
belaka. History repeats itself, kata pepatah bule. Hanya pelakonnya
yang beda, namun karakter dan perannya sama saja. Ada Fir'aun dan ada
Musa as. Muncul Suhrawardi al-Maqtul, tetapi ada Ibn Taymiyyah. Lalu
lahir Hamzah Fansuri, namun datang ar-Raniri, dan seterusnya.
Al-Qur'an pun telah mensinyalir: "Memang ada manusia-manusia yang
kesukaannya berargumentasi, menghujat Allah tanpa ilmu, dan menjadi
pengikut setan yang durhaka. Telah ditetapkan atasnya, bahwa siapa
saja yang menjadikannya sebagai kawan, maka akan disesatkan olehnya
dan dibimbingnya ke neraka" (22:3-4). Maka kaum beriman diingatkan
agar senantiasa menyadari bahwa "sesungguhnya setan-setan itu
mewahyukan kepada kroninya untuk menyeret kalian ke dalam
pertengkaran. Jika dituruti, kalian akan menjadi orang-orang yang
musyrik" (6:121). Ini tidak berarti kita dilarang berpikir atau
berijtihad. Berpendapat boleh saja, asal dengan ilmu dan adab.
Wallahu a'lam.
*Penulis adalah peneliti INSISTS, kini menempuh program doktor
keduanya di Universitas Frankfurt, Jerman
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________