Alikum salam wr.w b., Rahima, welcome back home! Home sweet home....! Selamat beristirahat ...! Mudah2an Rahima dan semua dapat hikmahnya yg berlipat ganda.
Sehubungan dg belajar mahasa Arab itu, segala panajng lbear yg Rahima untaikan itu telah menutup segal celah utk berdalil. Sekarang terserah ke kita masing2 disini. Kalau begitu kita lihat lah nanti bagaimana kelancaran nya. Andaikan lebih banyak yg tgersiksa dari pada yg menikmati nya, akan kita ambil kebijaksanaan tentu nya. Sesuatu itu memang tak bis adi paksakan. Alalh juga telah mengatakan bhw tidak semua orang sbg "orang yg di tunjuki Nya". Semoga kita semua2 disini adalah orang2 yang di beri nya "Petunjuk", orang2 yang "mendapat". Akan ni Ben hubungi juga "apak paja", insya Alalh, tp eh, stek lai Rahima, sebelum istirahat, batanyo stek lai: "Sia namo dan gala apak paja tu?" Ketek banamo, gadang bagala. Jadi cubolah Rahma info kan, Ni Benn kan benar belum kenal dg beliau do. Thank berat. SAlam talabieh dulu yo, utk beliau. Assalamualaikum wr.w b., uni Ben In a message dated 7/12/2005 7:12:00 AM Eastern Standard Time, [EMAIL PROTECTED] writes: Assalamualaikum.Wr.Wb. Uni ben, da Sutan Sinaro, mak darul, , mak sati da Syahril, da Ardi, dik z. Chaniago, da Adyan dan dunsanak Rn semoga dirahmati Allah. Maaf baru sempat saya membalas, karena saya baru pulang dari bukit Musa. capek sekali, masih sakit-sakit badanko. Sampai dirumah entah kenapa server,provider, atau apalah namanya itu, tempat kami langganan internet pertiga bulan bayarnya itu, perusahaan kami ganti perusahaan lain pula, jadi ngadat berapa hari ini. Banyak sekali postingan yang ditujukan kesaya, bingung saya membalasnya, akhirnya ambil jalan pintas aja, balas sekaligus secara umum, tak bisa saya tanggapi per email, tidak mungkin itu saya lakukan, waktu ngak cukup. Mengenai bahasa Arab ini. Bagi saya ngapain harus dipersulit sekali. Saya akan tetap menulis diRN, menulis tafsir dan diselingin bahasa Arab didalamnya. Silahkan mo dibaca, didelete, itu bukan urusan saya. Karena setahu saya postingan itu tidak mengganggu, malah saya menunaikan kewajiban saya sebagai pendakwah, untuk menyampaikan islam dan kunci islam itu sendiri(bahasa Arab itu sendiri), ke mana saja, ngak perlu harus dibilik-bilik, karena karrulllah SAW berdakwah tidak hanya dimesjid saja, sedang dikamar mandi, dapur, masjid, diperjalanan dsbgnya beliau berdakwah. Apakah mungkin kita masuk rumah tanpa memegang kuncinya? Bisa saja, kalau masuk dari jendela atau atap. tapi bukankah lebih baik masuk itu melalui pintu dan memegang kuncinya? Buku pedoman hidup kita adalah AlQuran, dan ia berbahasa Arab. Apakah kita mau kita tak memahami bahasa AlQuran itu sendiri, hanya menerima saja dari penafsir mana saja, kalau begitu jangan salahkan penafsiran-penafsiran muncul dari berbagai kalangan yang katanya intelektual, padahal bukan ahli agama, kita terima begitu sajakah..? jangan salahkan mereka, koq begini koq begitu memahami firman Allah, kenapa kita tak mempelajari sendiri kunci bahasa AlQuran itu sendiri, biar ngak bingung-bingung dalam hidup ini. Pedoman hidup kita yang ditinggalkan oleh rasulullah SAw adalah AlQuran dan hadist, dan keduanya berbahasa Arab, itu tidak bisa kita pungkiri. Perlu diketahui, untuk lebih kerasnya saya mengatakan, walau didalam AlQuran tidak ada jelas-jelas Allah menyuruh kita belajar bahasa Arab ini, emang ngak ada ayatnya kan..? Yang ada hanya kita diwajibkan untuk menuntut ilmukan, disuruh baca..? bacala!,.bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan..dst.. Kita sepakat menuntut ilmu agama itu wajib, sesuai dengan firman Allah juga, ia merupakan fardu a'in. Tetapi perlu kita ketahui kaedah ushul fiqh. " Sesuatu yang tidak bisa tanpa ia yang wajib itu, maka hukumnya wajib" Orang sakit mata, tidak bisa membaca kecuali pakai kacamata bukan, kalau ia tak pakai kacamata maka ia tidak bisa membaca, dengan tidak bisanya ia membaca, maka ia tidak bisa menuntut ilmu, bila ia tidak menuntut ilmu maka ia jadi orang bodoh dan mengindahkan suruhan rasulullah dan perintah Allah untuk membaca, dan belajar. Bukankah begitu? Jadi hukum pakai kacamata bagi orang yang sakit mata, atau bagi orang yang harus pakai kacamata adalah wajib. Jadi begitupun dengan kita yang ingin tahu benar isi kandungan AlQuran, tanpa mengetahui bahasa Arabnya, apakah bisa? maka hukum mempelajari bahasa Arab itu wajib(maaf kalau terlalu keras). Saya cuman heran, bagaimana kita bisa membaca AlQuran tanpa mengetahui bahasa Arab itu sendiri. Bisa saja kita baca, tapi kita tak mengerti artinya. yah..silahkan saja,..ngak semua bisa bahasa Arab bukan..? saya tidak bisa memaksakan hal ini, karena akan terlalu streng nantik bila terlalu jauh saya kemukakan.Dan saya ngak mau hal ini diperdebatkan. Karena saya bisa memahami betapa tidak semua orang bisa berbahasa Arab, tetapi amat saya sayangkan sekali, kalau sedari kecil kita sudah tidak bisa, mengapa setelah kita menyadari pentingnya mempelajari bahasa AlQuran itu sendiri, kita tidak mempelajarinya? kalau kita sudah berusaha, namun tak mampu juga, itu bukan disalah kita lagi, tawakkallah pada Allah. Allah maha tahu koq akan hambaNya. yang repotnya, kalau kita tak ada minat, tak ada niat untuk mempelajari bahasa AlQuran, pedoman hidup kita. Iyah, benar sebagaimana disinyalir oleh sebahagian orang, bahwa Allah mengerti dengan semua bahasa. mendengar semua do'a bahasa apapun. Tetapi bukankah AlFatihah itu bahasa Arab, dan harus dilafazkan dengan bahasa Arab juga, bukan dengan terjemahannya, sebagaimana yang pernah terjadi. Duh,.naudzubillahlah kalau kita sampai terbawa pemikiran semacam ini. Demikian saja, mungkin saya akan mengumpulkan dulu berbagai tafsir yang pas untuk itu, dan saya juga masih butuh istirahat sebentar, capek sekali habis mendaki gunung nabi Musa itu. Soal apak paja. Silahkan uni Ben menghubungi dan dengar langsung dari beliau. Ini alamat beliau : " [EMAIL PROTECTED]". kalau beliau mau syukur alhamdulilah, kalau tidak bisa, jangan kecewa, bukan beliau tak mau saya rasa, tapi saya tahu benar waktu beliau ini kayak apa, tapi boleh juga uni Ben mencoba menghubungi beliau, mana tahu bisa, saya sendiri suka kalau beliau aktif menulis di milist, karena hal ini baik untuk beliau juga kelak, ilmunya bisa tertuangkan, saya sering sampaikan itu pada beliau ini, tapi yah..gimana lagi kondisi beliau,..yang saya insyaAllah akan tetap juga koq, jangan khawatir. Saya dan beliau ini kalau ketemu jarang komunikasi masalah bahasa Arab, atau tafsir, seringnya cerita biasa saja, diskusi permasalahan ummat,atau negara, atau dikantor beliau. Karena masing-masing kami sudah alhamdulilah mengetahui bahasa itu dan sudah bisa membaca buku sendiri, jadi diskusi kami hanya seputar RT, negara, dan kajadian yang hangat2 saja disekitar kami dan di Indonesia. _____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

