Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh, Kami turut baduka atas kejadian ko, mudah2an diberi kekuatan dan kesabaran. Wassalam, syb.
Edisi Selasa, 19 Jul 2005 Di Balik Tragedi di Danau Singkarak * Mahasiswi Unand Itu Kini Telah "Tiada" Oleh admin padek 1 Selasa, 19-Juli-2005, 13:00:47 61 klik Isak tangis, jerit pilu keluarga korban bus "maut" travel Bintang Serambi Wisata (BSW) Padang Panjang tak hentinya terdengar mulai dari lokasi TKP di Tonggak Tujuh Kubangan kenagarian Kacang Kecamatan X Koto Singkarak, berlanjut ke Puskesmas Singkarak hingga sepanjang jalan ke rumah duka. Suasana haru biru yang ditimbulkan duka yang mendalam, terasa kian menyayat hati terutama bagi anggota keluarga yang masih belum ditemukan. Ibu Rumah Tangga asal Kuranji Padang, Nurhayati misalnya, tampak seakan tidak merasa letih harus bolak balik TKP-Puskesmas Singkarak, Senin (18/7). Berjalan kaki sambil berlinang air mata, dia mengaku sejak pukul 03.00 WIB subuh sudah berada di TKP, berharap jasad korban anggota keluarganya, Zalunis dan lainnya segera ditemukan saat itu juga. Tapi, apa boleh buat, dia dipaksa harus mengurut dada, ternyata jasad yang ditemukan bukanlah anggota keluarganya. Kondisi yang sama, terpancar pula dari raut wajah, Nurul yang mengaku sang menantu korban, Zalunis. Tak hentinya mengusap air mata yang terus meleleh di pipi, sang menantu yang khusus datang dari Jakarta ini merinci sejumlah korban lainnya yang ikut bersama sang mertua. Dia tak mengira, kepulangan anggota keluarga dari pihak suaminya itu ke Padang seusai mengisi liburan sekolah ke Pekanbaru, ternyata berakhir dengan petaka. "Kepulangan mertua bersama anggota keluarga dari liburan di Pekan Baru , karena masa kembali bersekolah sudah masuk. Tapi, kejadiannya justeru begini", ucapnya sendu ketika mendapati kenyataan jasad korban yang berhasil ditemukan dan dievakuasi ke Puskesmas Singkarak saat itu bukanlah mertuanya. Yang tak kalah sedihnya, dialami pula Nurman keseharian pegawai BRI Unit Talang Kabupaten Solok. Mahasiswa Keberangkatan istrinya, Yulidawati keseharian Wakil Kepala SMPN Bukik Sileh Kecamatan Lembang Jaya bersama kedua anaknya ke Pekanbaru, tak lebih sekedar menghadiri pesta dari keluarga sang istri. Karena libur sekolah sehingga punya waktu cukup, makanya keberangkatan bisa terlaksana. Sebetulnya, keseluruhan anaknya berjumlah lima orang, terdiri atas satu orang perempuan dan 4 orang lelaki. Namun yang diajak serta, anak terkecilnya, Reihan (2,5) dan putri satu-satunya, Nuki Mandasari (19). Reihan pantas diajak, karena tak ada orang lain yang bisa merawatnya. Sedangkan Nuki, mahasiswi D III Fekon Unand ini diyakini bisa membantu menjaga adiknya Reihan dan sang ibu selama di Pekanbaru. Ketika kembali ke Solok, korban (alm) Yulidawati mengikutsertakan Ayu (28) asal Alahan Panjang yang berprofesi sebagai pembantu di Pekanbaru. Salah seorang kakak sepupu Nuki, Fitri mengungkapkan, Ayu pulang lantaran orangtuanya sakit. Ternyata, manusia memang hanya bisa merencanakan, namun Allah juga yang menentukan. "Nuki terlanjur telah mendaftar mengambil semester pendek kuliahan di D III Ekonomi Unand, tapi semuanya tinggal kenangan," tangis Fitri. (ero) Website http://www.rantaunet.org _____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

