Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikumwarahmatullaahi wabarakaatuhu
Subhanallah,..kalaulah saja kita semua tahu bahasa
Arab, faham arti dan terjemahannya apalagi
penafsirannya, maka tidak akan mungkin terjadi
keraguan sedikitpun dihati kita.

Saya akan mencoba menjelaskan apa makna dari ayat
surah Al Ahzaab ayat 40 tersebut.

Bunyinya : " Maa kaana Muhammadun abaa ahadin min
rijaalikum walaakin rasuulullaahi
wakhaatamannabiyyiina wakaanallaahu bikulli syaiin
'aliimaa " ( Mohon semua membuka AlQuran, dan
perhatikan satu persatu apa yang akan saya ungkapkan )

Artinya : Muhammad itu bukanlah bapak dari salah
seorang laki-laki diantara kamu, tetapi ia adalah
Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah
maha mengetahui segala sesuatu.

Sebab turun ayat : 
Dari Qatadah, dia berkata (pada ayat Muhammad itu
bukanlah bapak……dst sampai akhir ayat 40), turun
disaat permasalahan Zaid bin Hasitsah dimana kala itu
orang Musyrik mengatakan : Muhammad telah menikahi
istri dari anaknya sendiri yaitu Zaid bin Haritsah. 

Zaid bin Haritsah adalah anak angkat Rasululullah SAW,
dan menikah dengan Zainab binti Jahs. Kemudian mereka
cerai(Zaid dan Zainab), setelah itu tidak berapa lama
Rasulullah menikahi Zainab mantan dari istri Zaid anak
angkat rasulullah sendiri.

Bagi orang Arab, anak angkat sama derajat hukum
dsbgnya sebagaimana anak kandung sendiri. Maka Allah
membatalkan hukum jahiliyah ini, menegaskan anak
angkat tidak sama dengan anak kandung sendiri, baik
dalam panggilan nasab ataupun warisan.

Saat itu orang Arab mengejek rasulullah telah menikahi
mantan istri dari anak sendiri, padahal jelas Zaid bin
Haritsah bukanlah anak beliau, jadi secara hukum, bisa
seorang ayah menikahi mantan dari istri anak
angkatnya,.Ini sebab turun ayat.(lihat tafsir Ibnu Abi
Hatim 9/3138)

Adapun mengenai pembahasan yang cukup penting selain
hal diatas adalah :

Hal ini juga membatalkan perkataan mereka yang
mengatakan ada nabi setelah nabi Muhammad SAW. Batal
dakwaan ini dari mana kita melihat kebatalannya? Dari
kata-kata ayat Allah diatas bila kita telusuri dari
sisi grammar,(Qawaid dan balaghah, atau sastra, juga
artinya). Kalau orang faham sekali bahasa Arab, tidak
ada keraguan sedikitpun dihatinya.

Makanya sangat perlu mempelajari bahasa Arab agar
jangan salah tafsir. Siapa bilang bahasa Arab tidak
perlu dipelajari. Naudzubillaahimindzalik, semoga kita
tidak termasuk didalam hal tersebut yang menganggap
enteng orang yang mempelajari bahasa Arab itu
sendiri.naudzubillaahimindzalik.

Pembacaan KHAATIMINNABIYYIN,( BARIS BAWAH TA NYA) OLEH
'Al 'A'masy dan ahli Hijaz,

Sementara Imam 'Asyim dan Hasan membacanya dengan
:KHAATAMANNABIYYIN ".( fathah=baris atas TA,nya).
Kedua-duanya boleh dibaca, mau kasrah atau fathah. Dan
kedua artinya tetap menandakan tidak ada nabi setelah
nabi Muhammad SAW.

Kita lihat 'irabnya (undang-undang dari barisnya).
Kalau dibaca dengan kasrah Ta, " Khaatimin nabiyyin ".
Khaatim " ini adalah isim Fa'il ( subjek) dari
Khatama.( orang yang datang paling terakhir sekali
dari kenabian, yang terakhir yang tidak ada
sesudahnya)

Kemudian dipakai kata-kata : " Abaa ahadin min
rijaalikum " Kata-kata rijal = anak-anak yang sudah
mencapai usia dewasa(baligh), sementara athfaal,
adalah anak-anak yang belum mencapai baligh. Jadi
tepat sekali, bahwa firmanNya : Tidaklah Muhammad itu
bapak dari salah seorang lelaki(dewasa), diantara
kamu. Subhanallah.

Kalau dipakai kata " Abaa ahadin athfaalikum" Bapak
dari salah seorang anak-anak kamu( yang masih kecil,
baru salah kata-katanya,, karena Rasulullah punya anak
lelaki empat orang sebagaimana yang akan disebutkan
dibawah ini).

. Maka tidak ada bagi beliau anak lelaki yang mencapai
usia dewasa, anak-anak lelaki beliau dari Siti
Khadijah dan Maryam adalah : Ibrahim, Qaasim, Thayyib,
Muthahhir, semua meninggal sebelum usia baligh, bahkan
ada yang lagi menyusu.
Subhanallah ! Maha suci Allah berkali-kali saya
menyebutkan bahwa Allah tidak pernah salah dalam
memilih kata.


Sementara kalau dibaca Fathah ( Khaatamannabiyyin)
"Khaatam", ini akan berartikan "stempel". Tahukah kita
keadaan stempel itu bagaimana? Kalau kertas yang sudah
dikasih stempel itu maka tidak akan mungkin lagi
diutak atik. Tidak bisa dihapus lagi. Sudah akhir dan
tidak ada hukum sesudah itu. Makanya lihat lagi maha
suci Allah memilih kata dalam ayat-ayatNya, tepat
sekali. Khatam ini adalah kata akhir, atau penutup
yang sudah tidak ada lagi sesudahnya.
Khaatamannabiyyin, menandakan tidak ada lagi nabi
sesudah nabi Muhammad SAW, sudah di cap, atau sudah di
stempel

Untuk penguat lagi, bahwa kata : " Khaatamannabiyyiin
" I'rabnya dalam tata bahasa Arab (qawaid annahwiyah),
adalah sebagai 'ataf(sambungan), dari " Rasuulallaah "
pada ayat " Walaakin rasulallaah "., sementara  kata "
Rasulallah " itu sendiri athaf(sambungan) dari kata "
Abaa ahadin"(bapak dari salah seorang kamu), sementara
yang dimaksudkan bapak disini adalah Muhammad, merujuk
pada kalimat sebelumnya : " Wamaa Muhammadun " ( Dan
tidaklah Muhammad itu).

Jadi tepatlah yang dimaksud Khaatamannabiyyiin, atau
khaatiminnabiyyin adalah nabi Muhammad SAW sebagai
nabi terakhir yang sudah di stempel, tidak ada lagi
nabi sesudah beliau. Karena yang dipakai justru
kata-kata " Khatama ", yang berrtikan dalam bahasa
Arab " Penutup", yang tidak ada lagi sesudah itu,
ditutup habis.alias sudah distempel..

Allah tidak pakai kata " malbasun " artinya pakaian
juga berfungsi sebagai penutup. Atau" muqfilun " Kunci
gembok penutup pintu itu., karena "kunci gembok",
masih bisa dibuka. Atau kata lainnya yang berartikan
penutup juga. Tidak,.Allah memakai kata yang tepat : "
khataama ", Penutup yang tidak mungkin bisa dibuka
lagi, " Khaatamannabiyyin " adalah penutup pada nabi
yang tidak mungkin ada nabi lagi selain beliau sampai
hari kiamat.

Dalam ayat diatas juga " Maakaana Muhammadun abaa
ahadin minkum ", disana ada sastra Arab yang dinamakan
: " Talfif ", bermakna " Menyeluruh " jawaban secara
umum, dimana kala itu ada yang mengatakan : Bukankah
Muhammad itu adalah ayah dari Zaid bin Haritsah(yang
sudah berumur dewasa?), ..? "Inilah namanya jawaban
umum untuk semua jenis pertanyaan mengenai hal ini.

 Kemudian disebutkan " walaakin Rasulullah "(tetapi
beliau adalah Rasulullah), sebagai pujian Allah pada
beliau, disini sastra talfif juga, karena setiap
rasul, pasti nabi, tidak sebaliknya, setiap nabi
rasul. Subhanallah, disebutkan " Khatamannabiyyiin,
tatkala menyebutkan Muhammad " Rasulullah ".
Subhanallah, satra yang cukup tinggi dalam satu ayat
ada dua sastra talfif ( cakupan, menyeluruh).

Demikianlah keterangan mengenai Khatamannaabiyyin
ditinjau dari sisi tata bahasa Arab.
Semoga bermanfaat.
Wassalamualaikumwarahmatullahiwabarakaatuh
Cairo 20 July 2005, Rahima.


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke