Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu,

Katiko mambahas 'kawin campue' ko langsuang sajo takana di ambo, ado bagian
sarupo iko di dalam carito (novel) ambo nan indak panah tabik tu.
Parami-ramian lapau, ko ambo kiriman cuplikan sacaro basambuang, ciek bab
dari sakian banyak bab di dalam novel nan indak panah tabik tu.

Wassalaam,

Lembang Alam

Bagian partamu nan dipostiangkan.

9.   Kisah Cinta Sepasang Guru

Pak Darmaji datang ke sekolah lebih awal dari biasanya. Dia seharusnya
mengajar sesudah jam istirahat pertama, atau jam sepuluh. Hari baru jam
setengah sembilan. Pak Darmaji ingin menghadap pak Umar. Dia sudah mendengar
bahwa ada peraturan dilarang merokok bagi setiap orang di lingkungan
sekolah. Tapi dia datang bukan untuk urusan itu. Di ruangan guru masih ada
tiga orang guru tadi, pak Situmorang, pak Sutisna dan pak Sofyan.



'Maaf pak Sofyan, pak Umar ada di dalam nggak?' tanya pak Darmaji.



'Ada.. mau protes juga?' tanya pak Sofyan.



'Bukan..saya ada keperluan lain,' jawabnya sambil menuju ke pintu ruangan
pak Umar.



Pak Darmaji mengetok pintu dan memberi salam.



'Selamat pagi, pak. Apa saya boleh minta waktu sebentar?' tanya pak Darmaji.



'Selamat pagi..  tentu.silahkan masuk.silahkan duduk..,' jawab pak Umar.



Pak Darmaji duduk. Jantungnya berdebar-debar. Entah dari mana dia harus
memulai pembicaraan. Padahal tadi dia sudah mantap betul ingin minta
pendapat pak Umar. Tadi dia sudah menghapalkan kata-kata yang akan
disampaikannya. Tapi sekarang seperti semua itu hilang dari ingatannya. Pak
Umar melihat bahwa pak Darmaji agak ragu-ragu.



'Apa yang bisa saya bantu pak Darmaji?' pak Umar memulai membuka
pembicaraan.



'Betul pak, maaf. Maksud saya ada yang ingin saya sampaikan. Tapi sifatnya
sangat pribadi sebenarnya. Saya ingin minta nasihat bapak,' pak Darmaji
mulai menemukan kembali kata-katanya.



Pak Umar bangkit dari kursinya dan pergi menutup pintu.



'Silahkan kalau begitu. Apa yang ingin saudara sampaikan?' tanya pak Umar
sambil kembali ke kursinya.



'Begini, pak. Sebelumnya sekali lagi saya minta maaf sehubungan
dengan..dengan peristiwa kemarin.  Saya malu sekali sebenarnya,' Darmaji
masih agak ragu-ragu.



'Kalau masalah itu sudah saya maafkan. Tapi apakah ada hal lain yang mungkin
bisa saya bantu?' tanya pak Umar pula.



'Bapak tidak keberatan kalau saya bercerita mengenai masalah pribadi saya?'



'Saya tidak keberatan,' jawab pak Umar pendek.



'Baiklah pak. Ini menyangkut hubungan saya dengan Rita. Kami terlibat dalam
hubungan asmara tapi menghadapi masalah yang cukup berat, terutama buat
saya. Pertama, kami berbeda keyakinan. Rita beragama Kristen. Hubungan kami
tidak direstui oleh orang tuanya. Dan orang tuanya sangat keras bahkan
pernah mengancam saya. Tapi kami berdua merasa ada kecocokan meskipun kami
juga menyadari kendala yang ada. Saya tidak tahu harus berbuat apa.
Sebenarnya saya sudah pernah mencoba berterus terang kepada orang tuanya,
menyampaikan keinginan saya untuk menikah dengan Rita. Orang tuanya tidak
mengizinkan karena perbedaan agama itu. Sesudah itu mereka melarang hubungan
kami dan melarang saya datang ke rumah mereka. Tapi kami selalu bisa bertemu
di sekolah. Dan kami semakin yakin bahwa kami seharusnya menjadi pasangan
suami istri. Itulah masalah yang saya tidak tahu bagaimana mencari jalan
keluarnya, pak,' ungkap pak Darmaji.



'Ya, repot juga kalau begitu. Memang sebenarnya pernikahan berbeda agama itu
mengandung banyak resiko. Di samping resiko tidak berbaikan dengan mertua
seperti yang saudara ceritakan, ditambah lagi resiko sesudah mempunyai
anak-anak nantinya. Anak-anak mau ikut agama siapa? Ikut agama ayahnya atau
ikut agama ibunya? Pasti tidak mudah. Apakah anda berdua tidak menyadari hal
itu?'



'Saya menyadarinya, pak. Tapi mungkin karena terdorong oleh perasaan yang
menggelora, hal-hal seperti itu tidak pernah saya pikirkan benar. Kecuali
menghadapi kendala yang disebabkan oleh orang tuanya saat ini.'



'Barangkali harus dihadapi secara realistis. Karena saya khawatir, kalaupun
diteruskan mungkin akan menimbulkan korban, seperti misalnya hubungan buruk
dengan orang tuanya Rita di samping hubungan mereka, orang tua dan anak,
yang mungkin juga bisa terganggu. Apalagi kalau mereka sudah
mengancam-ancam. Tentu tidak baik akibatnya.'



'Jadi kalau menurut bapak tidak mungkin akan ada jalan keluarnya?'



'Jalan keluar agar rencana anda berdua tetap terlaksana menurut saya memang
sulit,' jawab pak Umar.



'Maaf pak, bagaimana pandangan bapak seandainya kami nekad 'kawin lari'?'



'Kalau saya jelas tidak setuju dengan cara seperti itu. Pernikahan itu
adalah sesuatu yang suci apalagi kalau dipandang dari kacamata agama Islam.
Pernikahan itu adalah suatu perjanjian, dengan ijab dan kabul, perjanjian
yang diikrarkan oleh orang tua mempelai wanita dengan mempelai laki-laki.
Ada serah terima tanggung jawab bagi pemeliharaan seorang wanita. Ayah
mempelai wanita menyerahkan tanggung jawab atas anaknya kepada mempelai
laki-laki, tanggung jawab untuk di dunia dan akhirat. Jadi sangat salah
kalau pernikahan itu dilakukan dengan cara yang saudara sebut sebagai kawin
lari tadi itu. Kalau boleh saya sarankan kalian berdua pergi kembali
menghadap orang tuanya, sampaikan sekali lagi keinginan kalian berdua, dan
minta keikhlasan orang tuanya untuk mengizinkan kalian berdua menikah.
Menurut saya hanya itu satu-satunya jalan.'



'Itu sudah pernah saya lakukan, pak. Dan hasilnya seperti tadi saya katakan.
Orang tuanya marah-marah dan mengancam akan mengadukan saya ke polisi kalau
sampai saya menikahi Rita.'



'Ya.. kalau begitu apa lagi yang bisa saudara harapkan?' tanya pak Umar.



'Apakah bapak sedang mengatakan agar saya melupakan Rita, dan tidak usah
berharap bisa menikahinya?'



'Saya pikir itu mungkin suatu kenyataan yang harus saudara hadapi.'



'Tapi itu terlalu berat rasanya buat saya pak. Dan saya yakin begitu juga
buat Rita. Kami benar-benar saling mencintai.'



'Cerita seperti yang saudara katakan bukan sesuatu yang baru. Banyak terjadi
hal yang sama. Tapi kalau menurut pandangan saya, memang hubungan seperti
itu sebaiknya dicegah sedini mungkin. Artinya, pada saat kita menyadari ada
penghalang berupa keyakinan yang berbeda, cepat-cepat menarik diri. Saya
kurang tahu seberapa baik saudara memahami dan mematuhi peraturan agama
saudara,'  tambah pak Umar pula.



'Terus terang, saya mungkin bukan seorang Muslim yang baik, pak. Saya sering
lalai dalam melakukan shalat. Tapi orang tua saya lebih taat,' jawab
Darmaji.



'Kalau dari fihak orang tua saudara tidak adakah kendala?' tanya pak Umar
lagi.



'Sebenarnya ada kendala pak. Orang tua saya haji, berwanti-wanti betul agar
saya memutuskan hubungan saya dengan Rita. Orang tua saya juga tidak setuju
saya menikah dengan orang yang tidak beragama Islam.'



'Kalau begitu bukankah masalahnya sudah jelas? Kenapa saudara berdua tidak
mencoba menerima kenyataan apa adanya?'



'Menghadapi orang tua saya mungkin lebih mudah pak. Rita pernah mengatakan
mau menikah secara Islam.'



'Maaf saudara Darmaji, kalau menurut saya, kalian berdua ini memang perlu
belajar lebih banyak. Pernikahan itu bukan sandiwara, bukan hanya untuk
upacara satu hari. Pernikahan itu sesuatu yang sakral, sesuatu yang suci.
Jadi hendaknya jangan mempermain-mainkan agama untuk memenuhi hasrat sesaat.
Dia mau menikah secara Islam, tapi sesudah itu? Kalau hanya untuk main-main,
kalau hanya untuk sekedar memenuhi peraturan, saya khawatir saudara akan
kecewa nantinya. Tuhan akan marah kepada kalian dan kehidupan kalian tidak
akan mendapat berkah. Janganlah memperolok-olokkan agama.'



'Bagaimana kalau seumpamanya dia masuk Islam dengan sungguh-sungguh?'



'Tapi saudara hanya mengatakan dia mau menikah secara Islam. Tidak berarti
dia mau menjadi seorang Muslimah sungguh-sungguh, kan?'



'Saya berandai-andai. Maksud saya seandainya dia mau masuk Islam secara
bersungguh-sungguh.'



'Saya rasa saudara sedang mempertinggi tempat jatuh. Mengandaikan bahwa
orang yang saudara inginkan menjadi istri saudara masuk Islam, padahal dia
belum tentu berpikiran demikian. Jadilah seorang yang dapat menerima apa
adanya, seorang yang realistis. Kalau tidak, saudara akan jadi sangat
frustrasi nanti pada saat menghadapi kenyataan yang pahit.'



'Rita pernah mengutarakan keinginannya mau masuk Islam kepada saya.'



'Masih dalam konteks ini? Masih sehubungan dengan kisah kasih kalian berdua?
'



'Bukan, tapi pada saat kami berdiskusi tentang agama. Saya bukan seorang
yang berpengetahuan tentang agama, jadi saya tidak menanggapi secara baik.'



'Bagaimana sampai dia mengatakan ketertarikannya? Dari mana dia bisa
tertarik tentang Islam?'



'Dia membaca buku-buku tentang perbandingan bermacam-macam agama. Dia banyak
menanyakan tentang agama Islam kepada saya. Saya hanya bisa menjawab
bagian-bagian luarnya saja.'



'Kalau begitu biarkanlah dia berproses dengan dirinya sendiri. Tapi hal itu
tidak usah dihubung-hubungkan dengan  rencana saudara untuk menyuntingnya.'



'Makanya saya tanyakan, bagaimana seandainya dia itu sudah masuk Islam dan
bersungguh-sungguh sebagai seorang muslimah.'



'Itu lain urusannya. Kalau dia masuk Islam bukan karena mau menikah, lalu
dinikahi sesudah dia beragama Islam tentu boleh. Tapi bukan berislam hanya
sekedar untuk mengikuti upacara pernikahan secara Islam lalu sesudah itu
kembali dengan agamanya. Yang seperti ini adalah berbohong dalam beragama.
Bohong dengan agamanya sendiri dan membohongi pula agama Islam.'



'Benar, pak. Dia pernah mengatakan ingin masuk Islam kepada saya. Tapi dia
sangat takut kepada kedua orang tuanya.'



'Ya repot memang,' pak Umar berkomentar singkat.



'Tidak adakah jalan lain sedikit juapun yang bapak lihat?'



'Jalan lain agar kalian bisa menikah?'



'Bukan. Jalan agar dia bisa masuk Islam tanpa menimbulkan masalah dengan
orang tuanya.'



'Secara manusiawi tidak. Saya tidak melihat jalan keluar. Tapi secara
rohani, seandainya saya menghadapi hal yang sulit dalam kehidupan ini, saya
mengadu kepada Allah. Saya berdoa kepadaNya agar dikeluarkan dari kesulitan
yang saya hadapi. Dalam hal yang saudara tanyakan tadi, kalau memang Allah
menggerakkan hati seseorang untuk beriman kepadaNya, Allah akan memudahkan
urusan orang tersebut dengan cara yang tidak diduga-duga.'



'Jadi perlukah dia berdoa misalnya kepada Allah, padahal dia belum beragama
Islam?'



'Mungkin dimulai dengan berdoa kepada Tuhan, tanpa menyebutkan Allah kalau
memang dia belum meyakini atau beriman kepadaNya, meminta bimbingan dan
petunjuk untuk beriman sesuai dengan yang tergores dihatinya. Kalau memang
dia cenderung kepada Islam, dan kalau Allah berkehendak menjadikannya
seorang yang beragama Islam,  mudah-mudahan Allah akan menunjukinya.'



'Baiklah pak. Atas pandangan-pandangan bapak saya ucapkan terima kasih
banyak. Saya mohon maaf sekali lagi mengganggu waktu bapak,' pak Darmaji
ingin mengakhiri diskusi itu.



'Terima kasih kembali. Saya sarankan juga agar saudara Darmaji mengenal
agama saudara sendiri secara lebih baik.'



'Baik pak. Saya akan berusaha. Dan saya mohon diri,' kata pak Darmaji sambil
bangkit dari tempat duduknya dan beranjak ke ruangan guru.




****



Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke