SENYUM DAN KETEKUNAN BISNIS
 
Belajar dari Teladan Haji Rahimi Sutan, Pendiri dan Pemilik Natrabu

* Soelastri (diambil dan disalin dari Harian KOMPAS, Kamis 17 april 1997, h. 24

MAU MENJADI PEGAWAI NATRABU? Berlatihlah tersenyum dan karate. Itulah cara 
pengusaha biro perjalanan dan restoran padang: Natrabu, Rahimi Sutan (70), 
untuk mendapat pegawai yang dia harapkan. Menurut Rahimi, senyum adalah modal 
utama melayani pelanggan. Katanya, "Calon pegawai yang tak bisa
tersenyum harus berlatih tersenyum di depan cermin. Kalau tidak bisa, lebih 
baik dia keluar."
 
LELAKI ASAL PAYAKUMBUH yang tetap segar dan ceria itu rajin memimpin anak 
buahnya lari sampai empat kilometer, kemudian berlatih karate di Monas.
Jasmani-rohani sehat baginya adalah modal paling utama dalam bekerja. Kondisi 
sehat jasmani dan rohani tersebut harus dibentuk sehingga
menghasilkan manusia yang mampu menunjukkan sikap terpuji.
 
MENGAPA KARATE YANG DIPILIH? Rahimi pemegang Dan IV karate, mengemukakan alasan 
bahwa seorang karateka wajib tunduk kepada perintah atasan. Hal seperti itulah 
yang diharapkan dari pegawainya agar tunduk kepada pimpinan dan pelanggannya.


Kiat Usaha

KEPUASAN PELANGGAN DIA JAGA BETUL. Karena itu, meski sudah memimpin perusahaan 
bertaraf ionternasional, dia tak segan-segan membersihkan WC dalam perkampungan 
haji di Mina yang mampet. "Semua orang hanya bertanya 'bagaimana ini' tanpa mau 
berbuat apa pun. Ah, saya jadi tak sabar, saya
masukkan lengan saya ke WC mampet itu. Kesulitan pun teratasi," certanya kepada 
Kompas yang menemuinya di cabang terbaru restoran Natrabu di Menteng
Raya 62, Jakarta Pusat, April 1997.

HAL ITU TERJADI ketika dia mengantar rombongan jemaah haji ONH Plus ke Mina. 
"Pengorbanan" untuk mau membersihkan kotoran orang lain demi pelanggan macam 
itu dilakukannya semata-mata untuk menjaga nama baik perusahaannya. "Jemaah 
haji yang kami bawa tidak akan mau tahu itu kesalahan siapa. Sejak awal urusan 
berhaji mereka kami yang urus, sehingga apa pun yang terjadi mereka anggap 
kamilah penanggung jawabnya," katanya.

ADA LAGI PENGALAMAN pahit yang menimpanya. Mukanya pernah diludahi pembeli 
restorannya yang merasa kurang puas atas pelayanan yang diterima. Rahimi Sutan 
mengaku tidak tahu kesalahan apa yang dilakukan stafnya, sekalipun demikian dia 
mengaku tak sakit hati atau dendam kepada tamu yang masih dia
ingat betul identitasnya. "Kami memang salah, karenanya harus meminta maaf," 
kata ayah lima anak ini, satu di antaranya sudah meninggal dunia.


Kunci Sukses

Sekalipun belum memiliki jaringan amat luas, perusahaannya tercatat sebagai 
perusahaan jasa dan restoran yang mampu bertahan hingga sekitar 40 tahun.
Cita rasa yang selalu terjaga membuat masakannya menjadi langganan mewakili 
Indonesia di forum internasional. Masakan Padang restorannya secara teratur
menjadi menu di Istana Merdeka, dan dalam pertemuan para pemimpin APEC di Bogor 
pada 1994 bersanding dengan masakan beberapa negara asing peserta
konperensi di Istana Bogor. Makanan yang dia unggulkan adalah gulai daun 
singkong, yang dibuat berdasar resep buatan ibunya. Untuk menjaga mutu dia
punya  kebun khusus singkong seluas dua hektar di daerah Bekasi. 

SEPERTI JUGA PENGUSAHA kawakan lainnya, Rahimi Sutan bisa bertahan sedemikian 
lama oleh karena ketekunannya yang luar biasa. "Pernah Yasmin,
istri saya, menangis karena saya tak kunjung mau diajak tidur sebelum semua 
pekerjaan selesai," tuturnya. KERJA KERAS, BERSIKAP POSITIF kepada semua
orang sambil membina relasi seluasnya, serta belajar apa saja mulai dari soal 
sepele sampai ilmu manajemen, adalah kunci sukses Rahimi Sutan. Itu tampak dari 
kisah perjalanan hidupnya yang penuh pahit getir, yang dia uraikan tanpa ada 
rasa sesal atau pun kecewa.

BANYAK HAL YANG DAPAT dia petik dari kenekadannya bekerja di kapal asing, 
menjadi imigran di Amerika, juga keadaan keuangan yang tak memungkinkan dapat 
memenuhi kebutuhan keluarga saat dia menjadi polisi di awal tahun 1950-an.  
Selain berbagai keterampilan seperti mengepel, mencuci piring,
membersihkan WC, lelaki bertubuh mungil yang hanya berijazah setingkat SMP itu 
fasih berbicara bahasa Inggris.

PADA USIA 20 TAHUN, Rahimi kecil nekad meninggalkan kampung halaman nya untuk 
bekerja di Singapura menjadi pedagang kaki lima, menjual sisir hingga
mangkuk Cina. Petualangannya berlanjut saat ia memutuskan bekerja di sebuah 
kapal asing sebagai tukang cuci tangki kapal. Ketika cuaca memasuki musim 
dingin, sering tubuhnya bagai membeku namun harus tetap menjalankan tugasnya, 
mencuci tangki. Kapal yang ditumpanginya mendarat di New York.
Rahimi pun kabur dan menjadi imigran gelap di kota tersebut sampai akhirnya 
ditangkap kepolisian setempat dan mendekam di balik terali besi bersama
beberapa orang Indonesia lainnya. 

KEADAAN MENYESAKKAN SEPERTI ITU justru membuat semangatnya terlecut. "Ada teman 
menangis terus selama di penjara sehingga saya sempat ikut hanyut, beruntung 
saya bisa atasi. Saya cubit lengan saya hingga terasa sakit dan terlecut 
semangat tak menyerah begitu saja," katanya. Maka, masa di penjara
justru menjadi pengalaman bekerja yang penuh kenangan. Dia bisa bekerja sebagai 
tukang sapu atau cuci piring dengan upah beberapa dollar AS.
 
 
 
Merintis Usaha
 
PULANG KE TANAH AIR, berbekal kemampuan berbahasa Inggris, Rahimi melamar 
menjadi polisi dan diterima di bagian penelitian orang yang akan pergi ke
luar negeri. Begitu anaknya lahir, barulah terasa gajinya sebagai seorang 
polisi tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehingga dia memutuskan keluar dari 
dinas kepolisian. 

KONDISI MENGANGGUR tidak lama dialami Rahimi yang sampai sekarang masih aktif 
masuk kantor dan sesekali berkeliling ke beberapa cabangnya. Sekitar
1957, seorang rekan membantunya membuka usaha biro perjalanan dan pengurusan 
paspor National Travel Bureau, yang kemudian disebut Natrabu.  Dengan modal 
dengkul dia jalankan usaha itu. Tuturnya, "Karena tak punya kendaraan, saya 
harus jalan kaki ke daerah Kota (Kantor Imigrasi) atau naik truk tentara
untuk mengurus paspor."
 
SEORANG TEMANNYA MENGANJURKAN dia berjualan makanan. Alasannya, kalau tak laku 
bisa dimakan sendiri. Maka setahun sesudah mendirikan biro perjalanan, bersama 
seorang rekan dia membuka restoran bernama "Bundo Kanduang" di kawasan 
Tanahabang. Restoran awal ini tak lagi dikelolanya, dan pada 1960 dia 
mendirikan "Natrabu Restoran".
 
BUAH DARI KETEKUNAN DAN KERJA KERAS Rahimi kini tampak pada lima restoran 
Natrabu yang berciri khas Minang di beberapa gedung mewah di Kota Jakarta. 
Natrabu Tour bertebaran di seluruh daerah tujuan wisata di tanah air, di 
Jepang, London dan Amerika.
 
MENGHADAPI MASA PENSIUN yang entah kapan akan dilakukannya, Rahimi aktif 
mendidik keempat anaknya yang semua lulusan sekolah luar negeri agar mampu 
mengembangkan seluruh unit usaha. "Biarpun anak saya, mereka juga harus mau 
bekerja keras seperti yang saya lakukan dulu," lanjutnya dengan logat khas
Minang.
 
 
Memprihatinkan Generasi Muda
 
MENGENANG PERJALANAN HIDUP penuh liku, Rahimi mengaku amat prihatin melihat 
tingkah generasi muda masa kini. Menurut Rahimi, anak muda sekarang amat manja. 
Mereka tidak mau bekerja keras, ingin mendapat sesuatu secara gampang tapi 
menghasilkan sesuatu yang besar dalam tempo relatif cepat.
 
"MEREKA JUGA TIDAK MAU menciptakan pekerjaan, tapi melamar kerja ke sana-sini. 
Sikap wirausaha anak kita sungguh rendah bahkan tiada lagi,"
kata usahawan yang juga bendahara Pengurus Pusat Muhammadiyah ini. "Saya tidak 
tahu bagaimana nasib mereka saat perdagangan bebas nanti berlaku. Kalau
keadaan ini dibiarkan bisa hancur kita. Jangan-jangan kita malah jadi kere di 
negeri sendiri."
 
KEINGINAN MEMBERI BEKAL TERBAIK buat anaknya membuat dia "tega" mengirim 
anaknya ke Swiss untuk belajar mencuci piring. "Biar dia nangis-nangis
minta pulang saya tak izinkan sebab biar nanti jadi pimpinan, dia harus tahu 
dan bisa semua hal dari yang sepele sampai manajemen agar bisa memberi contoh
kepada pegawai," tuturnya.
 
(Tulisan ini disajikan - di tengah maraknya penjualan aset negara karena salah 
urus dan kurangnya kompetensi serta ketekunan dalam mengelola usaha -
untuk mendukung semangat "Menuju Indonesia yang Lebih Baik" - BRN).


Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke