ummaik islam tu sabananyo nan paliang produktif.
cuma dek tabao jo caro² urang nan non-islam dan indak
sadar mako marugi , sasuai jo surek Al-'Ashr

cubo awak etong kini ko.
ummaik islam indak paralu libur week-end berarti 52 hari dalam setahun
berproduksi.
dan libur katiko ramadhan, 29 atau 30 hari sambie ba ibadah.
keuntungan baniaga, bisa diparetongkan dalam setahun untuk maso 12 bulan dgn
usaho cuma 11 bulan.

dengan pembagian waktu 24 jam, secaro wajar itu akan nyo bagi 3 phase @8jam
lalok 8 jam maksimum; 8 jam karajo/mancari nafkah dan 8 jam jo keluarga
alias
leisure time.

jadi Ben, kok ma usulkan, ka MUI se lah, dek mareka kini ko sadang
kancang persenelingnyo ka ummaik hehehhe

baitu se...

wassalam
boes



----- Original Message -----
From: <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Thursday, August 04, 2005 10:40 AM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Usul ke mentri AGAM RI: Tidak merayakan Hari
KelahiranNabi Muhammad SAW. RE:


Ngku Ridha,
tarimo kasih ateh penjelasan nya yg dg dasar yg padek (literatur/hadith & Al
Quran).
Jelas terlihat bhw pelaksanaan agama Islam di pengaruhi oleh tradisi/culture
diman-mana.
Telah tradisi di Indonesia kita ygumumnya merayakan Maulud Nabi, baik di
kantor, sekolah2 dan perguruan tinggi, apa lagi di mesjid2. Bahkan hari
kerja pun
di perai kan bagai (libur/day off).  Apo lagi di mesjid2 di Sumbar yg di
pimpin kakek ambo tu (yg di surau tarantang, Andaleh tu).

Ambo tak bisa melupakan kebahagian hebat dan besar nyo perayaan2 begitu.
Sampai sebulan bergilir dari mesjid ke mesjid di Sumbar.
Sehari semalam atau dua hari dua malam beliau2 tak tidur2.
Potong sapi, kambing dan ayam, tak ketinggalan ikan,  dan segalanya.
Penganan nyo, kue2.., masya Allah..., iyo sabana bermandikan makanan.
Awak cucu abak ayah (kakek tu) duduek dakek nenek (isteri baliau taruih)
jadi
mandi dg makan dg hidangan2 yg  top2 nyo.
Tp kini yg tuo2 lah berpulang juo, jadi tradisi begitu lah luntur bana
(hampir punah).
Ado baik nyo juo.

Dear All,
       Kalau begitu apakah perlu di usulkan ke Menteri Agama RI,
       utk kita di Indonesia tidak merayakan hari kelahiran
       Nabi besar Muhammad SAW lagi dan
       tidak ada hari libur utk itu lagi?

Ini adalah point yg penting dg dasar menegakkan agama.
Kalau tidak kita yg mengungkit nya, selagi kita dlm diskusi begini.
Orang2 mungkin tak terpikir hal yg demikian, tp sebaliknya kita
ke-enakan dapat libur.

- Sejajar dg ini, adil nya juga, libur hari Natal juga di hilangkan.
- Dilain hal, tidak demikian dg hari Raya Idul fitri dan hari2
  yg sejenisnya bagi agama lain tentu nya.
- Bagaimana pula dg satu Muharam perkantoran dan sekolah juga libur?
  (Yg sejajar pula dg th baru Masehi dan th baru Imlek).

Dear all,
barangkali ini perlu kit apikirkan.
jagan krn kita ingin libur, sehingganya kita mengikuti hadith dan Al Quran.
Menegakkan ini adalah suatu jihad.   Kita tak perlu sungkan, segan dan
takut.
Apa lagi di bawah pimpinan SBY sekarang, beliau tentu akan fair juga dg
usul kita ini.

Andaiakn tidak setiap pribadi kita disini setju dg usul/permohonan ini ke
pemerintahan RI, mari kita yg setuju bergerak bersama. Mari kita buat hal2
yg
benar, pantas dan menurut tatatertib usul2 yg wajar dan berlaku. Be
self-confidence.

Baa tu Nglu Ridha dan ustad2/ustazah2 disiko?

Ciek lai:
Bagaimana hal nya dg tradisi kito (generasi baru) yg berpesta ulang tahun,
tentu identik dg hal iko. Mungkin perlu kito perhatikan bantuek nyo.
Meskipun ado pulo yg mangatokan kuno, indak merayokan ulang tahun,
tp itu begitulah kita orang Islam (kalau memang begitu sehharus nya).


Di lain pihak ambo salut dg orang Islam asal Mesir sendiri (di rantau ambo)
yg  tak mengikuti / tak terpengaruh tradisi US Bani Ubaid Al-Qadah tu kalau
begitu.
Alhamdulillah.  Kalau begitu ambo alah yakin dan takkan menuntut
hal iko lagi di masajik kami.

SAlam dan tarimo kasih,
Nurbaini McKosky


In a message dated 8/4/2005 6:51:27 AM Eastern Standard Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:
[EMAIL PROTECTED] wrote:

>Guess what?
>
>Ambo marasoan hal iko aneh.  SAlamo ambo tingga di rantau ko .... indak
pernah urang masajik nan mryokan maulud nabi Muhammad SAW do. Bertahun-tahun
demikian, sahinggo nyo, ambo sabana talupo dg hari2 Maulud Nabi tu,  Kecuali
kalau
kebetulan mandanga berita dari tanah ayie.
>
>

Sebenarnya bukanlah hal yang aneh, Buk Ben. Kalau kita lihat yang
diperbuat oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri dan para
shahabat beliau, ternyata tidak ada seorang pun di antara mereka
merayakan kelahiran Rasulullah atau pun kejadian lain seperti Isra'
Mi'raj, Hijrah, dan lain-lain. Padahal mereka adalah generasi terbaik
dan termasuk di dalamnya para tokoh mulia seperti Abu Bakar, Umar,
Utsman, Ali, dan lain-lainnya. Tentunya mereka adalah orang-orang yang
paling mencintai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam karena
mencintai beliau adalah kewajiban bagi setiap mukmin.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam bersabda (yang artinya):

"Tidaklah beriman salah seorang di antara kamu hingga menjadikan saya
lebih dicintainya daripada kedua orang tuanya, anaknya, dan seluruh
manusia". (HR. Al-Bukhari)

Jika merayakan hari-hari itu adalah cara yang baik untuk mencintai
Rasulullah, tentulah Rasulullah telah mengajarkan dan para shahabat akan
menjadi yang paling giat melaksanakan. Dalam Islam telah disyari'atkan
beberapa hari raya seperti 'Idul Adha dan 'Idul Fithri, serta perayaan
seperti walimatul 'urusy (pernikahan) dan aqiqah. Jika perayaan itu
sebagai ibadah tentulah harus ada contohnya dari Rasulullah karena jika
tidak akan terkena ancaman beliau (yang artinya):

"Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak di atas perintah kami
maka amalannya itu tertolak." (HR. Muslim)

Telah pernah dikemukakan di sini tentang bid'ah (saat itu masalah adzan
saat pemakaman). Jika kita menganggap perayaan itu baik namun Rasulullah
dan para shahabatnya tidak tahu kebaikan itu padahal mereka mampu
melakukannya tentu berarti kita menganggap diri kita lebih paham
syari'at daripada mereka. Padahal Rasulullah wajib menyampaikan semua
amal baik dalam agama ini. Tidaklah mungkin beliau khianat.

“Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi, melainkan diwajibkan baginya agar
menunjukkan kepada umatnya jalan kebaikan yang telah diajarkan kepada
mereka, dan memperingatkan mereka dari kejahatan (hal-hal tidak baik)
yang telah ditunjukkan kepada mereka.” (HR. Muslim)

Syaikh Ibn Baz menyatakan : "Harus dikatakan, bahwa tidak boleh
mengadakan kumpul kumpul / pesta pesta pada malam kelahiran Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan juga malam lainnya, karena hal itu
merupakan suatu perbuatan baru (bid’ah) dalam agama, selain Rasulullah
belum pernah mengerjakanya, begitu pula Khulafaaurrasyidin, para sahabat
lain dan para Tabi’in yang hidup pada kurun paling baik, mereka adalah
kalangan orang orang yang lebih mengerti terhadap sunnah, lebih banyak
mencintai Rasulullah dari pada generasi setelahnya, dan benar benar
menjalankan syariatnya."

Masalah lain dalam hal ini adalah bahwa perayaan-perayaan itu adalah
tradisi orang-orang kafir. Seperti telah kita kenal bahwa mereka
semangat merayakan hari-hari seperti Natal, Paskah, Tahun Baru, dan
lain-lain sebagai ibadah mereka. Telah dikemukakan juga di sini tentang
penyerupaan dengan orang kafir dan larangannya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):

"Janganlah kalian berlebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang
Nasrani berlebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Aku tak lebih hanyalah
seorang hamba, maka katakanlah (pada-ku), Abdullah (hamba Allah) dan
RasulNya." (HR. Al-Bukhari)

"Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka."
(HR. Abu Daud, hadits shahih)

Sebagai contoh, para sahabat dalam mencintai Rasulullah tetap mengikuti
tuntunan beliau misalnya mereka tidak merdiri jika melihat Rasulullah.

"Tidak ada seorang pun yang lebih dicintai oleh para sahabat daripada
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Salam. Tetapi jika mereka melihat
Rasulullah, mereka tidak berdiri untuk (menghormati) beliau, karena
mereka tahu bahwa Rasulullah membenci hal tersebut." (HR. Ahmad dan
At-Tirmidzi, hadits shahih)

Sebagai catatan, setahu saya tanggal tepat lahirnya Rasulullah
sebenarnya tidak didasarkan pada riwayat yang shahih dan ada banyak
pendapat tentang tanggalnya. Hanya saja di kita yang populer adalah 12
Rabi'ul Awal. Bukankah mirip dengan Natal yang tanggal tepatnya juga
tidak jelas? Dan kalaupun diketahui tanggal tepatnya tetap saja tidak
ada tuntunan untuk merayakannya.

Lho, masa orang ingin mencintai Rasulullah dilarang? Bukan mencintainya
yang tidak boleh namun bukti cinta kepada Rasulullah adalah dengan
mengikuti dan memuliakan Sunnah beliau. Bahkan hal tersebut menunjukkan
cinta kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala.

Allah 'azza wa jalla berfirman (yang artinya):

"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,
niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Aali Imraan 3:31)

Siapakah yang melakukan perayaan Maulid Nabi pertama kali? Ternyata yang
memulai bukanlah orang-orang dari generasi terbaik.

Yang pertama kali mengadakan maulid di Mesir yaitu Bani Ubaid Al-Qadah
(yang mengaku-ngaku Bani Fathimah/Fathimiyyah, keturunan Aqil bin Abi
Thalib) sekitar awal abad ke-5 H. Mereka itu, sebagaimana dikatakan oleh
Ibnu Katsir adalah orang-orang kafir dan fasik.

Ketika Ibnu Taimiyah ditanyakan mengenai mereka (Fathimiyyah), dia
menjawab, "Mereka adalah orang yang paling fasik dan paling kufur. Siapa
yang memberikan kesaksian bahwa mereka adalah orang beriman dan
bertakwa, atau benar nasabnya, maka dia telah bersaksi tentang mereka
dengan sesuatu yang tidak diketahuinya. Padahal Allah berfirman:
'Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu
akan diminta pertanggungan jawabnya.' (QS. Al-Isra' 17:36)"

Al-Muqrizi berkata, "Dengan adanya peringatan-peringatan yang dijadikan
oleh kelompok Fathimiyyah sebagai hari raya dan pesta seperti itu,
kepemimpinan mereka bertambah luas dan mereka mendapat keuntungan yang
banyak".

Untuk penjelasan yang lebih luas dapat dilihat di:

http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=914

atau dalam Al-Bida' al-Hauliyah karya Abdullah bin Abdul Aziz
At-Tuwaijiry (Ritual Bid'ah dalam Setahun).

Allahu Ta'ala a'lam. Mohon maaf jika kurang berkenan.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,

--
Ahmad Ridha ibn Zainal Arifin ibn Muhammad Hamim
(l. 1980M/1400H)


Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________




Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke