Pak Zul dan Pak Bambang dan netter lainnya. Pak Fasli Djalal mengungkapkan bahwa, 83,18% tamatan PT jadi pegawai, berarti sesuai dengan diagram Pareto kan? Kan memang di PT mana saja yang diajarkan untuk melaksanakan "plan" atau menyelesaikan masalah sesuai dengan sikon yang ditemukan. Kalau saya tertarik untuk membicarakan yang 6.14% itu, karena mereka sanggup menyerang ke kwadran (T.Kiyosaki) yang sebenarnya tidak mereka dapatkan dibangku sekolahnya, yang kadang sampai 18 - 15 tahun masa studi.
Ada dua hadis Nabi, ringkasan artinya kirakira: 1. Jadilah orang yang sedikit. 2. Pintu rezki adalah 9 dibisnis dan 1 di lapangan kerja. Yang diperlukan saat ini adalah yang 6.14% ini, jika mereka mepunyai tenaga kerja 10 orang masing-masing berarti mereka telah menyerap 61.4% lulusan PT atau terbuka lapangan kerja 67.54%. Jadi kini kita seharusnya membuka pendidikan atau mata kuliah yang mendukung bagian terkecil yang dapat menyiapkan "planning" alias pebisnis. Antara orang sedikit dan mayoritas disini, memang menpunyai dunia atau tempat memandang yang berbeda. Si mayoritas akan menanyakan "where is a plan?" dan menyatakan "we don't need planning", tahukah anda, ini adalah yang dipompakan (katanya) harvard bussines school, karean mereka memang bertujuan mencetak eksekutif klas dunia. Tapi bagi si minoritas, akan mempunyai tempat berpijak yang lain, mereka mempunyai sudut pandang, kemudian pola pikir yang mendriver perilakunya yang bertolak belakang sama sekali. Mereka justru melihat potensi bisnis, menyiapkan "planning" dan sistim, yang merupakan rangkaian "what to do" dari level bawah sampai kelevel atas, untuk diserahkan kepada eksekutif atau si mayoritas yang selalu menanyakan where is a plan. Baru si mayoritas menjalankan dengan keprofesionalan yang specialisnya untuk menyesuaikan sesuai sikon yang ditemui saat pelaksanaan "plan". Yang paling kontras adalah, si mayoritas senang berbicara subjektif dan kadang menekankan keinginannya sendiri sehingga menjadi "wishful thinking", payahnya lagi kalau terbawa ke situasi "tidak mengerti bahwa tidak mengerti". Kalau si bizman akan berbicara objektif dan mengeksekusi berdasarkan data atau fakta yang nyata dan teruji pada objek. Pola pikir biz ini hanya dapat diajarkan oleh pebiz, sangat jauh hasilnya kalau diajarkan oleh seorang guru konvesional, yang telah dicetak untuk memompa anak didik untuk "berprestasi, berprestasi" (pekerja). Kalau pebiz yang penting adalah prestasi orang lain, bukan prestasi dirinya. Jadi pebisnis dianalogkan seperti petani yang mananam pohon, dia yang penting bukan prestasi atau kemujuan dirinya, tapi prestasi atau kemajuan pohon yang ditanamnya, sehingga dia dapat memetik buah yang baik dan banyak. Dia tidak perlu ikut ribet (sebagai eksekutif) didalam pohonnya, tapi dia memacu prestasi pekerja didalam pohonnya tersebut. Wassalam Darul ----- Original Message ----- From: "zulfikri" <[EMAIL PROTECTED]> ........................... Bpk Fasli Djalal juga menyajikan data bahwa 83,18 % tamatan perguruan tinggi (S1) menjadi pekerja dan buruh atau karyawan, dan hanya 6,14 % yang menjadi wira swasta. Ini artinya semangkin tinggi sekolahnya semakin tidak berdaya mereka mengembangkan potensi dirinya, mereka kebanyakan hanya berani menjadi tenaga kerja atau karyawan dari pada membuat dan memperkerjakan serta menggaji karyawan. Jadi, kesimpulannya, disaatnya bapak dan ibuk guru serta orang tua untuk mengembangkan-tumbuhkan potensi-potensi yang ada pada anak didik dimana potensi-potensi tersbut tidak terdapat di kurikulum atau disekolah dengan memotivasinya untuk mencari sendiri dengan metoda mengaktifkan anak didik (aktif learning) pada hal-hal yang berguna didalam menjalani kehidupan ditengah-tengah masyarakat. ............................................ Jadi kesimpulannya mau tidak mau kita harus menerima sarana IT ini sebagai alat didalam mengembangkan potensi diri, dari pada kita nantinya dijadikan asset pariwisata (moseum) "pendidikan masa purba" oleh negara-negara maju. Wassalam, Zulfikri. Website http://www.rantaunet.org _____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

