Efisiensi Nasional Sebagai Jawaban Penghematan Energi

Anang Zaini Gani


Kenaikan harga BBM yang tak terduga telah membuka persoalan  bagi bangsa

Indonesia ini baik dalam bentuk kelangkaan BBM dan listrik yang
menimbulkan
kenaikan subsidi   sampai nilai  sekitar Rp.130 trilyun. Nilai subsidi
ini
masih bisa bertambah  besar,  jika terjadi  penguatan nilai tukar dolar
dan
meningkatnya konsumsi BBM. Maka nilai subsidi bisa mencapai Rp150
triliun.
Sementara  ini, nilai subsidi yang telah ditetapkan atau disediakan
hanya
Rp75 triliun.. Ini berarti meningkat menjadi dua kali dan luar biasa
besar
nya. Yang berarti pula  subsidi akan menyedot APBN yang sangat besar.
Kita
kuatir bahwa kejadian ini berulang lagi dan  subsisdi  akan lebih
meningkat
lagi pada tahun depan dan tahun-tahun berikutnya.

Sebetulnya, kenaikan harga BBM ini  juga melanda  negara-negara  lain
dan
mereka mengambil kebijakan sesuai dengan kondisi masing-masing. Pada
bulan
Mei yang lalu, Perdana Menteri Jepang  telah mengambil kabijakan  tidak
memakai jas serta dalam kegiatan dinas dan penghematan AC  dalam rangka
hemat energi. Sedangkan negara Eropa lainnya sudah lama telah
mengenalkan
kebijakan hemat energi yang dikaitkan pula dengan  polusi, sehingga
untuk
hari-hari tertentu peredaran kendaran dibatasi atau dilarang sama
sekali,
tetapi juga penggalakan pemakaian sepeda diintensifkan dengan memberikan

jalan khusus bagi pengendara sepeda supaya terjamin keamanannya.

Tepat sekali, meskipun terlambat, President Susilo Bambang Yudhono telah

melakukan suatu  langkah strategis dengan mengeluarkan Inpres No.
10/2005
tentang "Penghematan Energi" pada  tanggal 10 Juli 2005.. Harapannya
ialah
kalau konsumsi BBM bisa dihemat sekira 10 persen saja, maka dengan nilai

subsidi BBM mencapai sekitar Rp 150 triliun, potensi penghematan bisa
mencapai Rp 15 triliun. Tetapi pada umumnya, laporan pers memberitakan
keraguan  pelaksanaanya dan malah dikuatirkan berjalan lambat dan tidak
terarah.

Untuk memahami lebih jauh hakikat Inpres ini, maka sebaiknya kita simak
Prinsip  Inpres ini, yaitu: Semangatnya mengurangi kenyamanan, tetapi
tidak
meninggalkan kegiatan ekonomi. Berkaitan dengan Inpres tersebut, maka
masing-masing instansi pemerintah mengeluarkan petunjuk pelaksana  dan
teknis untuk melaksanakannya dengan persepsi masing-masing. Tentunya
implemetasi  tidak sederhana   atau tidak  gampang  mengingat
menyangkut
banyak pihak  yang telibat  dengan bermacam kepentingan yang relatif
serta
memberi peluang perdebatan  sehingga keputusan  tak dapat memuaskan
semua
pihak. Sebagai contoh pemadaman penerangan jalan-jalan menimbulkan
reaksi
masyarakat karena dapat menimbulkan kecelakaan dan meningkatnya  tindak
kriminalitas. Dalam suasana keperihatinan,  telah  diadakan pesta
otomotif
terbesar di Jakarta untuk  kategori mobil mewah. Pameran ini ditargetkan

meraih penjualan sebesar Rp 1 triliun dan jumlah pengunjung mencapai
200.000
orang.

Mungkin ada baiknya kita mengkaji prinsip Inpres ini lebih mendalam dan
lebih arif. Salah satu  kata atau terjemahan singkat prinsip Inpres
tersebut
yang tepat dan dikenal didunia sehari-hari dan  oleh masyarakat  adalah
effisiensi. Suatu bangsa  atau negara yang effisien identik dengan
kemampuan
yang dimiliki dalam bersaingan dan daya tahan yang kuat. Jadi salah satu

tujuan penghematan hendaknya menciptakan suatu bangsa yang kuat, karena
pengurangan  atau penghematan tidak identiklah dengan penurunan daya
tahan
tetapi malah meningkatkan daya tahan dan kemampuan bersaing dengan
meningkat
effisiensi nasional. Effisiensi merupakan kegiatan yang direncanakan
atau
didesain untuk suatu sistem  untuk mencapai tujuan atau fungsi  yang
telah
ditetapkan  dengan mengkaji  alternatif-alternatif   pelaksanaan
seoptimal
mungkin (semurah mungkin)  dengan  tujuan atau fungsinya  tetap
tercapai.
Effisiensi menuntut kita menjadi kreatif dan innovatif.  Pendekatan yang

perlu diterapkan dalam effisiensi adalah pendekatan sistem, yaitu
melihat
persoalannya dengan memperhatikan semua pihak yang terkait sebagai satu
kesatuan.

Contoh yang sederhana bisa kita kemukakan lagi dalam skala perorangan,
yaitu
berapa kita bisa hemat bila kita gosok gigi dengan jumlah pasta yang
cukup,
bukan  sebanyak sepanjang sikat gigi. Berapa effisiensi yang dapat kita
peroleh dari dua jenis aktivitas pembuatan pagar. Yang satu  dibuat
dengan
besi tempa yang bernilai Rp.400.000 per meter  dengan satu lainnya
dibuat
dari kawat ram yang berharganya Rp. 10.000  per meter . Kita tinggal
mengkalikan  panjang pagar yang dibuat dengan penghematan Rp. 390.000
permeter. Pada saat ini banyak memberitakan bahwa TV dikantor dinyalakan

bilamana perlu atau waktu tertentu. Tentunya pertanyaan mendasar ialah:
apakah tiap-tiap  bagian dari kantor tersebut perlu ada TV? Berapa
effisiensi yang diperoleh dengan menghilangkan semua TV dengan satu
radio
komunikasi bisa memenuhi fungsinya? Demikian pula ada suatu kejadian
mengenai rapat dinas dari suatu instansi yang mengundang  hampir setiap
wakil dari propinsi  untuk datang ke  Bandung. Rapat ini berlangsung
beberapa jam. Bisa kita hitung berapa effisiensi waktu, tenaga dan
biaya
yang diperoleh  dari biaya  tansportasi dan  akomodasi  dari 30 orang
wakil
tersebut  bila rapat ini diadakan dengan teleconference yang mana mereka

cukup tinggal dimasing-masing kota. Demikian juga ide untuk menciptakan
sumber energi alternatif atau subsitusi perlu dikembangkan dan
direalisasikan  dalam usaha  mengurangi kebergantungan dari BBM.  Dari
kelima  illustrasi tersebut diatas, dapat diperoleh makna bahwa dalam
sehari-hari kita  bisa hidup lebih effesien karena   kita dapat
menghemat
cukup besar tanpa harus mengorbankan  tujuan atau fungsinya tetap
tercapai

Dalam rangka penghematan energi dan dampaknya, perlu dikembangkan
strategi
efisiensi nasional yang memberikan dampak meningkatkan daya saing
nasional
kita yang dimiliki oleh setiap bangsa Indonesia. Adalah sangat
bijaksana,
bila sudah dimulai konsep  effisiensi  yang benar dan disosialisasikan
kepada seluruh bangsa Indonesia, karena bangsa yang dinamis dan
effisienlah
yang mampu bersaing dan bertahan dalam era globalisasi  ini. Penghematan

tidak identik dengan effisiensi, tetapi effisiensi pasti melakukan
penghematan tanpa mengorbankan  tujuannya.  Sudah saatnya kita memiliki
konsep dan acuan  bersama effisiensi nasional untuk semua bangsa
Indonesia
yang  mampu membawa negara ini menuju lebih sejahtera dan makmur. Ini
merupakan tantangan bagi kita semua.


Anang Zaini Gani
Guru Besar Teknik Industri ITB,




Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke