Di forum milis RantauNet ini juga pernah keluar kesimpulan bahwa dongeng Malin Kundang tidak mungkin dikarang oleh seorang ibu. Seorang ibu tak mungkin mau menghukum anaknya sekejam itu. Mungkin laki-laki lah yang mengarang dongeng Malin Kundang, sebab bisa jadi dongeng itu muncul dari kisah tukang kaba jaman dulu yang kebanyakan adalah laki-laki.
Tahun 1992, saya pernah menulis artikel di koran Pikiran Rakyat, Bandung. Judulnya: "Surat Terbuka untuk Malin Kundang." Dalam artikel itu saya kemukakan argumen bahwa Malin Kundang adalah seorang pionir sejati. Ia tak mau menyerah terhadap nasib. Untuk itu ia merantau mencari kehidupan yang lebih baik. Ibunya si Malin adalah seorang oportunis yang begitu melihat anaknya sukses, buru-buru pengen menikmati kesuksesan itu. Sekedar informasi, saya tak pernah menceritakan dongeng Malin Kundang ke anak saya yang berumur 4 tahun. Karena pesan moral dalam dongeng tersebut saya anggap "berbahaya". Bisa jadi sang anak akan ketakutan pada ibunya, karena kutukan seorang ibu itu luar biasa kejamnya. Pokoknya jadi batu! Maka jadilah batu. "Kun fa yakun!" Menurut saya seorang anak mencintai orang tuanya karena kasih sayang yang terjalin, bukan karena ketakutan dan amarah belaka. Saya juga tak pernah menceritakan dongeng Sang Kancil, karena ceritanya bukan tentang kecerdasan. Melainkan tentang kelicikan! Saya lebih suka mendongengkan cerita dari HC Andersen atau Brothers Grimm, seperti "The Ugly Duckling", Gadis Korek Api, dll. Bukan sok kebarat-baratan, tapi pesan moral dalam dongeng itu jauh lebih mulia. Tetapi di tanah Sunda, ada juga dongeng yang mirip dengan Malin Kundang yakni Sangkuriang dan Dayang Sumbi. Kalau mau membanding-bandingkan "dosa", maka dosa Sangkuriang jauh lebih berat dari Malin Kundang. Sangkuriang ingin mengawini Dayang Sumbi, ibunya sendiri (Oediphus Complex?). Dayang Sumbi sendiri juga orangnya "tak beres" karena bersuamikan seekor anjing (jadi Sangkuriang adalah blasteran anjing dan manusia?). Namun sekarang bagaimana nasib kedua tokoh dongeng itu? Malin Kundang dicerca habis sebagai contoh anak durhaka. Sementara Sangkuriang dihormati sebagai "tokoh" yang membangun dataran Bandung dan gunung Tangkuban Perahu. Anda yang pernah ke Bandung tentu tahu ada daerah elit di Bandung utara yang jalannya bernama: Jalan Sangkuriang dan Jalan Dayang Sumbi. Banyak profesor dari ITB tinggal di daerah itu, karena di sana ada kompleks perumahan dosen ITB. Telusurilah semua daerah di Sumbar. Takkan pernah Anda temui Jalan Malin Kundang! Kenapa? Karena ia telah terlanjur dikutuk sebagai manusia durjana. Kasihan si Malin. Padahal kata "Malin" di nama depannya dalam bahasa Minang berarti orang alim. Saya tak tahu apa artinya kata "Kundang". Ada yang tahu? Kalau bisa saya usul, sebaiknya jalan dari jembatan Siti Nurbaya yang akan tembus ke pantai Aia Manih Padang, kita namakan saja sebagai Jalan Malin Kundang. Wallahu alam bi sawab. --- zul amri <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Artikel berikut ini sebagaimana yang dimuat Jawapost > hari ini sangat menarik , maka saya forwardkan > kepalanta karena berkaitan atau paling tidak > bercerita tentang suatu legenda yang konon katanya > pernah terjadi di Sumatera Barat . > > zul amry piliang > > Jawapost , Minggu 14-08-2005. > Malin Kundang __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com Website http://www.rantaunet.org _____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ------------------------------------------------------------ Tata Tertib Palanta RantauNet: http://rantaunet.org/palanta-tatatertib ____________________________________________________

