Bismillahirrahmaanirrahiim,
Assalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,
Mengimani adanya adzab kubur adalah salah satu keyakinan ahlus sunnah
wal jama'ah karena berdasarkan hadits-hadits yang shahih (telah
dikemukakan beberapa di antaranya). Pembahasan masalah ini antara lain
saya dapati dalam Tahdzib Syarh ath-Thahawiyyah oleh Abdul Akhir Hammad
al-Ghunaimi (Jilid 2, hlm. 25-34; at-Tibyan, 2002). Di sini saya
nukilkan dari subbab "Adzab dan Nikmat Kubur Tidak Diketahui Bentuknya
secara Pasti" (hlm. 27):
"Banyak hadits-hadits mutawatir dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam
tentang pembuktian adzab dan nikmat kubur bagi mereka yang berhak
mengecapnya. Demikian juga pertanyaan Munkar dan Nakir. Semua itu harus
diyakini dan diimani keberadaannya. Dan kita tidak boleh mempertanyakan
bagaimananya. Sebab akal tidak mampu memahami bentuk sesungguhnya.
Karena memang tak pernah mereka alami di dunia ini. Ajaran syari'at juga
tak memberi kemampuan akal untuk menyingkapnya."
Di antara bentuk nikmat di alam barzakh yang dikabarkan melalui hadits
riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim dari Ibnu Abbas adalah bahwa
Allah Ta'ala menjadikan ruh-ruh orang-orang yang gugur di jalan Allah ke
dalam tubuh burung-burung hijau yang minum dari sungai-sungai Jannah dan
memakan buah-buahannya, lalu beristirahat dalam lentera-lentera dari
emas yang bergelantung di bawah naungan 'Arsy. Juga diriwayatkan yang
senada oleh Muslim dari Ibnu Mas'ud (hlm. 33).
Masalah ini termasuk salah satu perkara ghaib yang dikabarkan kepada
kita dan tidaklah mungkin kita dapat mendapat pengetahuan tentangnya
kecuali dari Al-Qur'an dan As-Sunnah Ash-Shahihah. Mengenai perkara
ghaib, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang artinya):
"Katakanlah: "Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah
ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang gaib dan tidak (pula)
aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti
kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang
yang buta dengan orang yang melihat?" Maka apakah kamu tidak memikirkan
(nya)?" (QS. al-An'aam 6:50)
"Para rasul menjawab: "Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu);
sesungguhnya Engkau-lah yang mengetahui perkara yang gaib"." (QS.
al-Maa-idah 5:109)
Para rasul yang mulia sekalipun tidaklah dapat mengetahui perkara ghaib
kecuali apa yang diwahyukan oleh Allah 'Azza wa Jalla. Sehingga tidaklah
mungkin kita mengetahuinya hanya dengan mengira-ngira. Sedangkan apa-apa
yang diketahui oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan perlu
diketahui oleh umat beliau tentulah telah beliau sampaikan sesuai dengan
firman Allah Tabaraka wa Ta'ala (yang artinya):
"Dan Dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang
gaib." (QS. at-Takwiir 81:24)
Oleh karena itu, kita meyakini perkara ghaib tanpa perlu
mempermasalahkan kaifiatnya dan hal-hal yang tidak disebutkan dalam
dalil-dalil yang sah. Janganlah sampai kita terjatuh pada penyimpangan
Mu'tazilah yang menjadikan akal mereka sebagai patokan beragama sehingga
mereka di antaranya menolak meyakini adzab kubur, padahal salah satu
sifat orang yang bertaqwa adalah meyakini perkara-perkara ghaib yang
disampaikan oleh Allah dan Rasul-Nya.
"Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka
yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib,..." (QS.
al-Baqarah 2:2-3)
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang bertaqwa dan
melindungi kita dari adzab kubur.
Allahu Ta'ala a'lam.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,
--
Ahmad Ridha ibn Zainal Arifin ibn Muhammad Hamim
(l. 1980M/1400H)
Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________