Sanak palanta yth :
 
Apa yang ditulis koran Padek dibawah ini saya kira ada yang perlu diluruskan , 
bahwa menara pengawas yang ada dibandara tidak mengawasi penerbangan secara 
terus menerus , tapi sesuai kewenangan yang ada pada menara pengawas tersebut , 
hanya bertanggung jawab sampai radius 10 nml dari bandara , setelah itu tugas 
dan tanggung jawab diambil oleh APP ( Approach Control ) sampai radius 60 nml , 
dan lepas dari APP pengontrolan dilanjutkan dan menjadi kewenangan ACC ( Aera 
Control Center ) yang berpusat di JKT , Ngurah Rai dan Ujung Pandang dan telah 
dilengkapi radar sampai radius 350 nml . Jadi tanggung jawab dan kewenangan 
dibagi secara berjenjang , namun secara umum yang bertanggung jawab kalau 
terjadi musibah sulit menentukan dan diperlukan team investigasi karena 
menyangkut banyak aspek .
 
zul amry piliang 
 
Galamai Minang
* Musibah Penerbangan PR Kita

By adminpadek
Minggu, 14-Agustus-2005, 
Berbagai musibah terjadi di dunia penerbangan, terutama di berbagai
bandara di sejumlah negara maju dan negara berkembang. Di setiap
bandara di dunia terdapat sebuah bangunan tinggi menjulang mencapai 80
meter, itulah menara pengawas bandara.
Di bangunan itu tersedia berbagai perlengkapan alat-alat komunikasi
antara pilot pesawat terbang dengan petugas tower (menara pengawas).
Sekitar 7 hingga 9 petugas setiap harinya selalu mengawasi dan bekerja
di hadapan peralatan tadi selama 24 jam guna mengatur lalu lintas
disekitar bandara atau daerah mau pun negaranya.

Dari tower yang tinggi itu petugas mampu melihat keseluruh penjuru
bandar udara, termasuk taksi way landasan pacu, cara pendaratan pesawat
dan cara mengudaranya. Sebelum pesawat bertolak dari bandara, pilot
atau pembantu pilot wajib meminta surat resmi flight approval. Dalam
surat tersebut tercantum ketentuan tinggi rendahnya terbang pesawat,
kecepatan angin, cuaca dan sebagainya. Selain itu awak juga harus
memberikan dan menerima laporan keadaan pesawat, mesin dan sebagainya
yang ditulis petugas transmisi teknis pesawat. Bahkan setiap pilot
sebelum menaiki pesawatnya harus berkeliling badan pesawat terlebih
dahulu, memeriksa secara manual kondisi roda, sayap, ekor mesin dan
sebagainya. Termasuk kondisi tangki bahan bakar dan bunyi mesin, untuk
disesuaikan dengan laporan dalam log book yang diisi oleh teknisi
transmisi tadi. Ketika akan bertolak dari taksi way (tempat parkir),
ujung landasan pacu dan diposisi standby menjelang take-off, semuanya
tetap harus terus dilaporkan ke tower pengawas.

Apa yang dilakukan pilot serta co-pilot di ruang cockpit menjelang
take-off, tentu saja terus menerus melaksanakan pemeriksaan jelang
penerbangan terhadap peralatan yang ia periksa secara manual
sebelumnya. Ketika telah take-off pun pilot tetap melaporkan kondisi
pesawat, cuaca dan pantauan diawal penerbangan tadi. Selanjutnya pilot
juga harus segera memulai laporan jarak jauh terhadap bandara tujuan
mengenai keberangkatannya ke daerah tersebut. Sekarang masalahnya,
apakah antara pilot dan petugas menara pengawas terdapat sebuah
komunikasi laporan kondisi mereka masing-masing. Seperti keadaan cuaca
tempat tujuan, maupun kondisi pesawat yang sedang dalam perjalanan yang
menjadi tanggungan panduan dua menara pengawas. Ternyata hal ini
merupakan salah satu penyebab kecelakaan akibat kurang diabaikannya
kondisi pesawat yang sedang mengudara, karena : biasanya petugas menara 
pengawas tidak mau campur tangan lebih dalam atas kondisi teknis pesawat jika 
tidak ada pemberitahuan yang terlalu merisaukan.



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 
Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
____________________________________________________

Kirim email ke