Baitu juo soal jilbab untuk pelajar indak paralu dipersoalkan lagi. Karano manutuik aurat itu alah manjadi budaya Minang. Jadi kalau masuak kandang kambiang mambebeklah ( dikampuang ambo yang ado itiak kalau bebek itu ditanah rang subarang he...he..) Di Pakanbaru ambo like amoy-amoy sarato non muslim lain yang kuliah di Universitas Islam Riau sato babaju kuruang/baju Melayu indak ado nan ribuik doh
-----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Darwin Bahar Sent: Wednesday, August 24, 2005 12:47 PM To: [email protected] Cc: [EMAIL PROTECTED] Subject: [EMAIL PROTECTED] Apa Ada yang Bisa Memberikan Klarifikasi? Pada dasarnya saya dapat memahami kegusaran orang Minang (termasuk saya) terhadap Direktur PUSAKA Sudarto yang juga guru agama pada SMA Don Bosco Padang, karena ikut mem-blow up masalah instruksi Walikota Padang tentang seragam pelajar di Padang menjadi "pemaksaan jilbab bagi non-muslim" dan pernyataannya yang bias/kurang memahami kultur orang Minang dalam wawancaranya dengan Burhanudin (JIL) serta keikutsertaannya sebagai Website http://www.rantaunet.org _____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ____________________________________________________

