Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu,
Tambahan carito nan kapatang tantang limbubu di Ampang
Gadang dari Padek;
Wassalaamu'alaikum,
Lembang Alam
Ketika Puting Beliung Melanda Ampang Gadang, Zulkifli, 20
Menit Melawan Maut
By adminpadek
Rabu, 24-Agustus-2005, 13:58:09 75 clicks
Pekik histeris dan jeritan tangis warga
menggema di Dusun Ekor Koto, Nagari Ampang Gadang
Kenagarian Ampang Gadang
Kecamatan IV Angkat Candung, Kabupaten Agam. Hanya dalam
sekejab, puting beliung
memporakporandakan 38 unit rumah.
Bencana yang melanda negeri ini, baik Tsunami, Gema Bumi
atau longsor dan peristiwa mengerikan lainnya, membut
warga trauma serta was-was. Begitu juga dengan warga
Ampang Gadang, Ampek Angkek, Agam, khususnya Zulkifli,
begitu mendengar suara gaduh di bagian atap rumahnya,
Ia pun berupaya untuk keluar rumah. Cuma saja, sesampainya
di pintu, tubuhnya telah didorong angin kencang. Sambil
berdiri di depan pintu, Ia melihat Antena parabola dan
atap seng rumahnya beterbangan. Suasana kian mencekam,
bersama dua orang anak masing-masingnya Ardan (11) dan
Doni (8), Zulkifli langsung memegangi anaknya dan lari ke
arah pohon Ambacang untuk berlindung yang hanya berjarak
sekitar lima meter dari rumahnya.
Setelah berlindung di pohon Ambacang itu, Zulkifli malah
menyaksikan pemandangan yang menakutkan. Tidak hanya jerit
tangis dan pekik histeris yang membahana ketika angin
Puting Beliung itu melanda, tetapi Ia juga melihat atap
rumah beterbangan, bahkan batu bata dari rumah warga pun
ikut melayang diterbangkan angin. Dalam suasana panik itu,
bersama anak kandungnya, Ardan (11) dan Doni (8) anak
tetangganya, Ia pun mendekap erat pohon Ambacang tempatnya
berlindung.
Tiupan angin semakin kencang, membuat ketiganya nyaris
terseret angin, bahkan Ardan nyaris dibawa terbang. Namun
dengan cepat, Zulkifli memegangi kaki anaknya, kemudian
bersandar kembali di pohon Ambacang. Tiupan angin terasa
semakin kencang, kemudian berputar melingkar bagaikan
belalai Gajah. Air dalam kolam ikan yang ada di belakang
rumah Zulkifli, ikut disedot angin, berputar kemudian naik
ke udara. Pohon Ambacang yang semula tempat Zulkifli
berlindung bersama anaknya, kini berderik kuat, kemudian
tumbang.
Menyadari hal ini, sambil memegangi kedua anak, Zulkifli
pun lari ke kebun Jagung. Tiarap. Ternyata, tempat ini pun
tidak aman, tiupan angin yang semakin kencang, juga
menyapu kebun Jagung itu, dan beberapa kali tubuh
ketiganya pun mengambang karena terjangan angin.
Di tempat terbuka seperti itu, Zulkifli melihat pohon
kelapa meliuk-liuk dijerjang angin, atap rumah warga
melayang-layang di udara. Tiang listrik ikut tumbang
begitu juga dengan batang pohon lainnya.
Peristiwa mencekam yang terjadi Sabtu siang (20/8) sekitar
pukul 14.30 WIB itu, telah memporakporandakan perumahan
warga. Akibatnya, sekitar 41 KK menjadi terlantar,
kerugian diperkirakan mencapai Rp 600 juta. Namun bagi
Zulkifli bersama dua orang anak, selama 20 menit harus
bertahan menentang maut. Setelah badai berlalu, Zulkifli
yang ditemui di kediamannya, tidak mampu menahan
tangisnya. Sambil terisak, Ia pun menceritakan peristiwa
yang baru saja dialaminya, sambil bersyukur kepada Tuhan,
Ia bersama dua orang anak selamat dari peristiwa mencekam
itu. (***)
========================================================================================
Semarakkan Ulang Tahun Kemerdekaan RI dengan mengikuti TelkomNet Netkuis 17-an
Dari 17-08-2005 s.d 17-09-2005. Dan dapatkan hadiahnya..!! hanya di
http://netkuis.telkom.net
========================================================================================
Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
____________________________________________________