2) Tuduhan Abu rayyah dan sejenisnya tentang sahabat Wahab bin Munabbah dan jawaban ulama akan hal ini : Sebagaimana yang dituduhkan Abu Rayyah dan sejenisnya.(perlu diketahui bahwa Abu Rayyah banyak mengambil tulisannya dari kitab orientalis juga berpegang pada kitab syarh nahjul balaghah, kitab taarikh yang mana banyak disana riwayatnya berderajat hadits maudhu' atau dha'if), dan kita ketahui yang namanya kitab sejarah banyak persepsi orang akan hal ini, ada yang mengatakan tahun seginilah tahun segitulah dsbgnya, tetapi bukan berarti kita tidak berpegang pada sejarah. Perlu berpegang, namun pada hadits yang shahihah.. Abu Rayyah dan sejenisnya mengatakan bahwa Wahab bin Munabbah adalah seorang yang pendusta dan pembuat hadits maudhu'. Tak ada seorang ulama hadits al jarh watta'dilpun yang mengatakan sahabat Wahab bin Munabbah pendusta selain Abu Rayyah dan sejenisnya itu. Para analisis yang konsisten, konsekwen dengan tulisannya, para pengkritik yang terbuka mata hatinya, tidak mengingkari bahwa banyak sekali kisah-kisah israiliyyat yang masuk dalam agama Islam melalui ahlilkitab yang masuk Islam, sementara mereka ahlikitab yang sudah masuk islam itu dengan niat baik mengatakannya, dan tidak kita pungkiri bahwa pengaruh jeleknya didalam kitab-kitab keilmuan dan pemikiran orang awam akan kisah israiliyyat itu, hanya saja sayang sekali Abu Rayyah mengatakan dengan tuduhan yang amat dahsyat akan dua orang contoh sahabat yang kita sebutkan dari ahli kitab yang masuk islam dan sangat baik keislamannya setelah mereka masuk tersebut, dengan menuduh keduanya Pendusta, bahkan lebih jelek dari itu lagi. Kita ketahui bahwa kisah israiliyyat ini banyak masuk didalam islam mengenai hal-hal kisah para nabi terdahulu, juga ummat yang telah berlalu,awal kejadian makhluk, rahasia penciptaan dan lainnya, namun tidak ada kisah israiliyyat yang berkaitan dengan halal dan haram serta aqidah kecuali sebahagian saja mengenai ma'shumnya para anbiya. Ibnu Khaldun meskipun didalam bukunya banyak menukil israiliyyat, namun beliau tak pernah menuduh muslim seperti sahabat Ka'ab Al Akhbar dan Wahab bin Munabbah orang yang suka mengada-ada dan pendusta, sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Rayyah dan sejenisnya itu (muqaddimah Ibnu Khaldun 368). ** Manhaj Abu Rayyah didalam pembahasannya bukanlah pembahasan yang 'ilmiyyah. Abu Rayyah dalam bukunya menyebutkan, bahwa semua yang berasal dari "Ka'ab Al Akhbaar dan Wahab bin Munabbah dan seumpama keduanya adalah pemberitaan yang diada-adakan dan palsu. Segala riwayat mereka tidak ada yang benar, walaupun didalam syari'at kita ada yang menguatkan dan membenarkan berita tersebut. Pendapat ini adalah pendapat yang berlebihan dan tidak ilmiyah menutup kebenaran dan kenyataan yang ada, sementara ulama analisis mengatakan bahwa apa-apa yang diriwayatkan dari ahli kitab yang sudah masuk Islam, ada yang benar ada yang dusta dan ada yang diantara keduanya(ngak jelas, bisa jadi benar, bisa jadi salah). Oleh karena itu Imam Ibnu Attaimiyyah yang ahli dalam hadits hebat dalam fiqih serta dalam ilmu agamanya membagi pemberitaan ahli kitab yang sudah masuk islam kepada tiga golongan, yaitu : 1) Apa-apa yang kita ketahui akan keabsahannya, atau kebenarannya dengan apa yang ada dalam kitab dan sunnah asshahihah disaksikan oleh AlQuran, maka berita tersebut benar adanya dan dapat diterima. 2) Apa yang sudah kita ketahui kedustaannya karena menyalahi dengan AlQuran dan assunnah asshahihah, maka ditolak periwayatan tersebut. 3) Apa yang didiamkan pemberitaannya, tidak kita ketahui kebenarannya, juga tidak kita ketahui kedustaannya. Maka tidak kita imani, tidak pula kita dustakan, dan boleh saja diceritakan. Murid Ibnu Attaymiyyah, Ibnu Katsir dalam tafsirnya (muqaddimah tafsir hal 46 cetakan salafiyah),mengatakan : " Cukuplah pada engkau apa yang telah disebutkan oleh Al Hafidz Al kabiir Imam Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Baari Syarah shahih Al Bukhari disaat menjelaskan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah, ia berkata : " Ahli Kitab membaca Taurat dengan bahasa Ibraaniyah, dan menafsirkannya dengan bahasa Arab untuk orang Islam, maka Rasulullah shallallaahu'alaihi wasallma bersabda : " Janganlah kamu membenarkan ahli kitab dan jangan pula kamu dustakan, tetapi katakanlah " Kami beriman dengan apa-apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada kamu, dan Tuhan kami, Tuhan kamu satu ", Ibnu Hajar mengatakan : Yaitu apabila ahli kitab memberitakan kepada kamu akan hal yang muhtamalan(bersifat kemungkinan, pada satu saat bisa jadi berita itu benar, dan bisa jadi dusta. Apabila kamu mendustakan mereka, bisa jadi berita itu benar, dan apabila kamu membenarkan mereka bisa jadi berita itu dusta maka kamu akan masuk dalam kesulitan). Imam Syafi'i rahimahullahu'anhu memperingatkan jelaslah bagi kita bahwa hukum berita dari israiliyyat itu apa-apa yang benar dalam syari'at kita merupakan kemudahan, dan barangsiapa mendustakannya merupakan sikap berlebihan dan menutupi kebenaran. Mengatakan hadits shahihah dengan khurafat ahli kitab dan israiliyyat tidak ada hujjah yang benar selain dugaan jelek saja, bahkan sampai membuat-buat penipuan terhadap periwayatan,sementara AlQuran membenarkannya, yang mana kita tahu bahwa AlQuran tidak akan mungkin ada padanya kebathilan baik sebelum ataupun sesudahnya dari sisi Allah semata. *** Tuduhan Abu Rayyah terhadap hadits shahih dimana AlQuran menjadi saksi atas kebenarannyaÂ…. BersambungÂ… Wassalam. Kairo 4 September 2005, Rahima __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com Website http://www.rantaunet.org _____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ____________________________________________________

