Assalamualaikum ...,
Salah satu diantaro banyak carito2 sadiah, AllahuAkbar.
Wassalam, syb.
Cerita Duka Ardinal Amir, Korban Mandala Asal Padangpanjang
* "Jasad Papa Dikenali Lewat Sepatu"
By adminpadek
Rabu, 07-September-2005, 05:47:49 41 clicks
Kontak Bathin seorang anak terhadap orangtua tak akan pernah hilang
meskipun secara fisik keberadaan orangtua sudah sangat sulit untuk
dikenali. Buktinya, berbekal sebuah sepatu Nungki Puspita Dewi (putri
sulung Ardinal Amir-putra Padangpanjang yang menjadi korban Mandala
Berdarah itu mampu mengenali jasad papanya.
Pagi itu, Senin (5/9), tidak ada yang berubah dari tampilan Ardinal Amir
(45), yang sehari-hari dipercaya menjadi Kepala PT MKL Cabang Medan.
Saat itu putra Padangpanjang ini akan pergi ke Jakarta dengan Mandala
Airlines. Perjalanan Medan-Jakarta bagi Ardinal bukanlah hal yang asing.
Sebab, sejak dipercaya menjadi pemimpin PT MKL, Ardinal sering
bolak-balik Medan-Jakarta guna melakukan koordinasi dengan kantor pusat.
-Dipotong-
Kini, Mak Oncu yang mereka hormati itu terancam bahaya. Mery cemas, tapi
dia tetap memberitahu ibunya, Irmawati (52) dan anggota keluarga
lainnya. Bersamaan dengan itu, mereka pun berdoa. Tapi, suasana tak
menentu, di TV tersiar berita pesawat Mandala tujuan Jakarta, jatuh saat
take off di Bandara Polonia Medan. Terus disusul nama nama korban dengan
tubuh sulit dikenal, termasuk Ardinal Amir. Terus menjelang siang, Mery
berhasil mengontak tantenya, Des Lewat HP. Des yang mulai mampu
mengendalikan dirinya menyebut Uda (sebutannya pada suaminya, Ardinal),
mungkin ikut jadi korban. "Tante, tidak kuat melihat Uda ke rumah sakit
(RS Adam Malik Medan, tempat para korban dievakuasi). Tapi Nungki
(Nungki Puspita Dewi, anak sulungnya) sudah ke rumah sakit mencari jasad
ayahnya," kata Mery mengulang cerita tantenya, Des.
Sepatu Ayah
Di RS Adam Malik, Nungki, siswa kelas III SMP itu, tidak mudah bisa
menemukan jasad ayahnya di antara ratusan jasad yang rata rata sulit
dikenal itu. Tapi, di tengah langkahnya yang bergetar, air mata tiada
henti mengalir, Nungki tiba tiba memburu sepasang kaki hangus dengan
sepatu masih cukup utuh. Lalu, sejalan terbukanya sepatu dari sepasang
kaki yang hangus, Nungki mengenali betul bentuk jari papanya. Bersamaan
itu, gadis remaja berwajah cantik ini pun serta merta memeluk jasad
gelap yang terbakar itu. "Papaaaa... papa...." tangisnya meraung, sampai
kemudian petugas di RS Adam Malik membujuknya.
Dari situlah Ardinal dipastikan ikut jadi korban kecelakaan pesawat
Mandala itu, seperti di telepon Des ke Padangpanjang. Menyusul itu, di
Padangpanjang sebagian kakak Ardinal yang masih ada, Irmawati Amir,
Zulhaimi Amir, Zulherman Amir dan Silvia Amir pun segera terbang ke
Medan, Senin sore. Informasi di rumah Irmawati, kakak almarhum di
seberang Balaikota Padangpanjang itu, Selasa senja (6/9), semula jasad
Ardinal akan dibawa pulang dengan pesawat siang kemarin, dan akan
dikebumikan sebelum sore. Untuk itu, Mery menyebut, makamnya sudah
disiapkan di makam Suku Sikumbang di belakang SBR Harapan tepi kiri
jalan ke obyek wisata budaya Minangkabau Village Padangpanjang.
Tapi, karena kesulitan pesawat, telepon terakhir diperoleh, jasad
almarhum Ardinal akan dibawa dengan pesawat pagi ini dari Medan ke
Padang selanjutnya ke Padangpanjang. Namun, sebelum kepulangan jasad
Ardinal, pelayat tampak tiada henti mengalir ke rumah Irmawati, yang di
halamannya kemarin tampak berdiri sebuah karangan bunga ikut berduka
cita dari PT Mandala.
Ardinal lahir 1960 dan merupakan anak bungsu dari delapan bersaudara.
Pendidikan SD, SMP dan SMA dijalani di Padangpanjang. Setelah itu masuk
ke Akademi Pelayaran P-3 di Semarang, yang kemudian membawanya bekerja
di dunia kelautan di Semarang. Dua tahun belakangan, dia pindah tugas ke
Medan dan terakhir jadi Kepala pada PT MKL Cabang Medan. (jen)
Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
____________________________________________________