Cimbuak
http://www.cimbuak.com/

Palanta (A R T I K E L )

Palanta

Oleh : Zulfatrimen Djaranah (BSP : 41 Agustus 1992)
Disadur dan dikembangkan oleh :  Dewis Natra 

Palanta  merupakan  bagian  kecil  dari  sebuah  bangunan  kedai  kopi
berbentuk bangku yang terbuat dari bambu ataupun kayu.

Sebuah  kedai  kopi atau lapau biasanya terdapat dua buah palanta yang
berlainan   bentuk   dan  ukurannya.  Yang  pertama  terletak  diluar,
lantainya  tidak  begitu luas, dapat diduduki dengan menjuntaikan kaki
sembari  bersandar.  Sedangkan  yang kedua terletak didalam kedai kopi
berlantai  agak  luas  dan  dapat  diduduki  dengan  bersila(lesehan).
Letaknya  dirapatkan  kedinding  sehingga  dinding  langsung merupakan
sandaran.

Kedai  kopi  tidaklah  dapat  disebut  "lapau"  apabila tidak memiliki
palanta, mungkin hanya sebagai warung biasa.

Lapau  ini  mempunyai  peranan ganda, disamping tempat menjual minuman
dan  makanan  ringan  lapau berfungsi sebagai sarana komunikasi, arena
permainan  pengisi waktu seperti domino, kowa, kartu remi, juga tempat
bersenda gurau bagi yang muda muda.

Kegiatan  di lapau ini mulai pagi hari setelah shalat subuh sampai jam
delapan  atau  lebih. Dipagi hari ini kegiatan lapau tidak begitu lama
karena mereka harus kesawah dan keladang untuk bekerja.

Dipagi  hari  ini  paling  banyak di minati dilapau yakni minuman kopi
atau teh serta kue kue ringan dan ketan goreng.


Dilapau  ada keunikan yang dapat kita lihat, para pelanggan itu seakan
duduknya  sudah  diatur,  pagi  kemaren  dia  duduk  disudut, hari ini
duduknya  masih  disana dan kalau lusa dia tidak ada halangan dia akan
tetap  duduk disitu. Begitu juga dengan yang lain, mereka selalu duduk
ditempat  yang  telah  biasa  diduduki. Keadaan ini akan tetap berlaku
kecuali  ada  tamu  baru  atau  ada yang baru pulang dari rantau, jadi
tidak merupakan langganan tetap.

Sewaktu  para  langganan telah meminta kopi atau teh dan memesan ketan
serta  pisang  gorengnya  tukar  informasipun  di mulai, biasanya para
langganaan  masih terdapat hubungan kerabat barangkali hubungan antara
mamak  dan  kemenakan,  anak  dengan  bapak, ipar dengan besan, mertua
dengan  menantu  sehingga  mereka  dibatasi  rasa segan menyegani yang
menyebabkan  suasana  di  pagi  hari tidak begitu hangat. Lebih banyak
serius ketimbang senda gurau.

Obrolan  di  palanta bermacam ragamnya tergantung siapa yang memotori,
kalau  yang  memotori  seorang  pecandu  buru babi maka kisaran cerita
dapat  ditebak  yakni  seputar  buru  babi, kalau yang memotori petani
tentu cerita tentang sawah dengan ladang saja.

Begitu  juga  topik-topik  lain yang terbaru di lapau ini akan dibahas
juga,  berbagai  macam topik, naiknya harga BBM yang menyebabkan harga
kebutuhan pokok lainnya melambung tinggi. Obrolan berlanjut pada musim
hujan   berkepanjangan  mengakibatkan  pupuk  disawah  mereka  hanyut,
biasanya makin lama obrolan makin meluas, sampai pendidikan, kenakalan
remaja, politik.

Setelah lewat jam sembilan lapau mulai sepi barulah menjelang matahari
terbenam  lapau  mulai  ramai  kembali,  disinilah  baru  mulai  ramai
anak-anak  muda berkumpul di lapau mereka bersenda gurau, berolok-olok
tak jarang juga pembicaraan menjurus ke pornografi.

Hal ini dapat dipahami karena mereka sebaya, sama-sama masih bujangan.
Disinilah   terjadi   ke   akraban  kendati  kata-kata  mereka  saling
menjatuhkan tetapi mereka tidak pernah dendam.

Diwaktu  magrib  lapau  mulai  sepi kembali dan mulai ramai kalau hari
telah  malam selanjutnya akan digelar permainan pengisi waktu baik itu
domino  atau  kowa.  Dan  biasanya  lapau  akan  tutup  seiring dengan
larutnya malam.

Palanta  tempat  duduk di lapau bagi orang yang membutuhkan komunikasi
sebagai  interaksi  sosial. Hampir semua persoalan kehidupan baik yang
telah  lalu maupun yang terbaru diperbincangkan disini, bahkan palanta
bisa  menghasilkan  suatu  vonis  atau  keputusan  terbaik  dari suatu
persoalan internasional, bahkan dapat juga mencari siapa yang bersalah
dari  suatu  pertikaian  kecil sampai tingkat internasional. Begitulah
arti palanta bagi orang minang dahulunya.


Bagaimana dengan kondisi sekarang ? 

Orang  minang  sudah mulai kehilangan Palanta seiring dengan hilangnya
tradisi  "lalok  di  surau".  (lalok  disurau adalah tradisi anak muda
Minang  tidur  di surau untuk mendapatkan pendidikan agama, adat, bela
diri  dan lainnya)

Hilangnya  tradisi  diskusi  palanta  dan lalok disurau ikut mempunyai
andil minimnya para pemikir dan diplomat Islami yang dihasilkan Minang
dewasa ini.

Palanta merupakan ajang pendidikan tidak resmi bagi para pemuda minang
dalam  mengasah  kepiawaian  dalam  berdiskusi,  dan  keinginan  untuk
mengetahui sesuatu, dengan kata lain keinginan untuk menambah ilmu.

Kalau  kita  lihat hampir diseluruh pelosok Minangkabau, palanta sudah
nyaris   tidak  ada,  kalaupun  ada  hanya  tempat  berkumpulnya  para
pengangguran yang terkadang juga meresahkan kekampung sendiri.

Seiring  dengan  kemajuan  zaman  dan  kemajuan  teknologi dewasa ini,
semenjak  dimulainya  dunia  internet, forum-forum diskusi bermunculan
dalam  bentuk  groups  email dan hampir sebagian besar mereka menyebut
forum tersebut sebagai palanta, palanta dunia maya yang tidak dibatasi
ruang  dan  waktu. Palanta-palanta di dunia maya sebagai ajang diskusi
baru  bagi  sebagian  kecil  orang  Minangkabau  yang  telah menyentuh
teknologi  internet.  Palanta-palanta  ini  muncul dari berbagai latar
belakang,  palanta  group  alumni sekolah, palanta group satu kampung,
palanta groups perantau. Berbagai macam juga persoalan yang dibahas di
Palanta  dunia  maya  ini.  Mulai dari persoalan adat, agama, ekonomi,
politik  dan  lain  lain.  Hanya  saja  palanta  dunia  maya ini belum
menyentuh  semua  lapisan masyarakat Minangkabau. Hanya sebagian kecil
saja  dari  masyarakat Minangkabau yang mengenal Internet, dari sekian
orang  itu  hanya  sebagian  kecil  juga  yang mengikuti groups email.
Sehingga  kehadiran palanta dunia maya ini tidak begitu dirasakan oleh
masyarakat luas.

Hampir  semua  lapisan  orang  Minangkabau  tersentak dengan munculnya
berita   "Bahwa  presentase  ketidak  lulusan  Sekolah  Menengah  Atas
Sumatera  Barat paling tinggi di Indonesia untuk tahun 2003. Sementara
selama  ini  orang  Minangkabau selalu bangga akan Minangkabau sebagai
daerah  industri  otak.  Sebagian  besar  pemuka  pemuka Minang merasa
terpukul  akan  kejadian  ini. Maka muncullah forum-forum diskusi baik
itu formal maupun informal untuk membahas masalah ini.

Tradisi  lalok  disurau  dan  palanta yang telah punah, turut memegang
andil  dalam  degradasi  Minangkabau sebagai industri otak. Tentu saja
hal ini perlu dikembangkan lagi sesuai dengan kondisi kekinian.

Akan muncul palanta-palanta tempat mengasah kemampuan masyarakat dalam
berdiskusi,  serta  munculnya  surau-surau  tempat orang mengasah ilmu
agama.  Palanta  dan  surau  ini  tentu  saja harus disesuaikan dengan
kondisi sekarang ini.


Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
____________________________________________________

Kirim email ke