--- Irvan Tea <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> 
> Bismillahirrahman nirrohim,
> 
>  
> 
> Assalamu alaikum Wr. Wb.

Waalaikumsalamwarahmatullaahiwabarakaatuhu

Saya coba menjawabnya,

> Teman teman miliser bolehkan saya bertanya tentang
> kemurnian hadist di jaman sekarang memang
> benar-benar isinya yang ada pada buku atau
> kitab-kitab dapat dijamin tidak ada pengurangan dan
> penambahan dari para penulis yang bukan langsung
> dari para sahabat Rasullullah SAW. 

Kalau kita mau lihat buku aslinya,buku hadits, maka
bacalah buku asli yang berbahasa Arab, bukan
terjemahan. Disana ada rentetan perawinya
disebutkan.Bukan berarti terjemahan tidak boleh,
silahkan saja, ngak papa,  gimana pula kalau orang
tidak bisa bahasa Arab, drmn ia tahu?

Silahkan baca terjemahannya, tetapi ada baiknya
silahkan dirujuk kepada orang yang tahu bahasa Arab
itu, lihat buku aslinya, karena saya khawatir saja,
banyak disalah terjemahkan.

Buku-buku apa yang dibaca terjemahannya itu?

1) Kalau buku hadits, silahkan baca buku yang sudah
diakui ulama keshahihannya al : Bukhari Muslim, walau
ada berapa hadits katanya tidak shahih, tetapi semua
sudah dijawab oleh ulama lainnya, seperti Ibnu Hajar
Al 'Asqalaani dalam bukunya " tagliqutta'liiq ".
) 

2)Silahkan baca buku kutubuttis'ah atau sittah( yaitu
selain buku shahihaini, sunan 2dari para imam Ibnu
Majah, Attirmidzi, Abu Daud, Annasai, Malik, Ahmad
Addarimi" juga lainnya, namun bukan berarti di buku
sunan2 tersebut semuanya shahih, ada yang dha'if
tetapi sudah di teliti oleh para ulama tahqiq seperti
Al Albani dllnya.Begitupun buku2 hadits lainnya, cari
yang sudah ditahqiq para ulama.


Seperti para
> penerbit buku-buku hadist dan para penulisnya yang
> mengatakan bahwa hadist itu shohih….
>
 
Mereka mengatakan itu tentu berlandaskan pada ulama
yang telah meneliti keshahihan derajat hadits itu.
bagaimana cara ulama menelitinya? Ini panjang
ceritanya, dan kerjaan inilah yang selama 6 thn saya
beserta teman2 Mesir lainnya kerjakan, kami sedang
mentahqiq buku " Jam'ul Jawami'" oleh Imam Assyuyuthi.

>  
> 
> Setahu saya Alquran sudah jelas seperti Firman Allah
> SWT :
> 
> Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan
> sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (Al Hijr
> : 9)

Sebenarnya sunnah ashahihah juga dijaga kemurniannya
oleh Allah dari ayat diatas juga, serta hadits2
shahihah lainnya. sayang belum sempat saya menjelaskan
hal ini, karena kesibukan saya sekarang akan
menghadapi ujian/sekaligus sidang/wisuda berapa bulan
kedepan.


> 
>  
> 
> Kita sebagai umat islam mempercayai bahwa kemurnian
> Alquran tetap terjaga, walaupun di tambah atau
> dikurangi pasti ketahuan. Bagaimana dengan
> Hadist….??? Adakah yang menjamin….???? 

a) Bisa ketahuan atau dilihat dari matannya(lafaznya),
kalau menyalahi AlQuran atau menyalahi sejarah,
contoh, katanya Abu Hurairah shalat bersama sahabat
Mu'awiyah dan imam Ali. Kita ketahui dari sejarah yang
shahihah, bahwa pada saat itu Abu Hurairah tidak
mungkin sekaligus berada didua tempat dalam hal atau
waktu yang sama, atau makan bersama Imam Ali dan
Mu'awiyah dllnya, cukup banyak tak cukup waktu untuk
menjelaskannya.

b) Bisa dilihat dari sanadnya.(perawinya). Para ulama
jarah wata'dil dan muhaqqiq, tidak akan mungkin
menerima hadits dan mengecap itu hadits shahih, kalau
satu orangpun didalamnya ada yang para ulama jarh
wata'dil mengatakannya berdusta.
Sedangkan ada satu lafaz hadits dari satu jalan, semua
perawinya shahih, kecuali satu orang saja yang
berdusta, maka gugurlah keshahihan hadits tersebut.

Contoh : Banyak yang mengatakan bahwa Abu Hurairah
banyak meriwayatkan hadits lemah? Siapa bilang begitu?
Yang lemah itu siapa sebenarnya? Apa benar itu hadits
dari Abu Hurairah?

Saya kasih gambaran begini.

Si A menerima hadits dari si B. Si B dari si C, si C
dari si D, si D dari si E, (katanya), sampailah
disandarkan kepada Rasulullah SAW.

Bagi ulama hadits, maka semua A-E (tabi'in)haruslah
diteliti siapa mereka, sejarah hidup mereka dllnya.

Kalau semua A-Z orangnya dipercaya(tentu dapat dibaca
dari buku sejarah yang mu'tamad), dan berhubungan
sanadnya dengan arti kata benar2 si A menerima dari si
B si B dari  si C dst..sampai ke rasulullah, maka
benarlah hadits itu shahih.

Kalau andaikan saja diantara A-E ada si C orangnya
pendusta, atau si C tidak mendengar dari si D, dengan
arti kata terputus sanadnya(mursal), maka jatuhlah
derajat hadits tersebut menjadi dha'if, berarti bukan
benar si E menerima dari sahabat, bisa jadi
dibuat2(contoh kejadian katanya hadits dari Abu
Hurairah, yang lemah/pendusta  itu sebenarnya bukan
Abu Hurairahnya yang lemah itu adalah perawi
dibawahnya si C tadi, hanya sayangnya, orang yang
tidak tahu hadits maka dituduhlah Abu Hurairah
pendusta, padahal Abu Hurairah sendiri tidak
mengatakannya, anehkan?)

Pokonya banyak deh ilmu-ilmu hadits ini. Oleh sebab
itu bagi yang awam silahkan saja baca buku yang sudah
diijmakkan ulama keshahihannya. karena hadits
mutawatir tidak akan mungkin berkumpul didalamnya
sekian banyak kedustaan.

Misalkan, apakah mungkin semua orang baik dimajalah2,
berita2, mulut kemulut menyampaikan bahwa Presiden SBY
mengatakan hari ini kita akan berkabung maka
naikkanlah bendera setengah tiang. Semua sudah
mendengar hal ini, atau dua tiga orang mendengar dari
SBY berita, atau perintah itu. Dari masing-masing dua
tiga orang itu menyampaikan lagi pada teman-tremannya
yang lain, yang lain itu sampaikan lagi, sampai kecucu
buyutnya disetiap daerah juga mendengar dari mulut
kemulut secara mutawatir juga : 

" Kita berkabung, maka naikkan bendera setengah tiang"
berita itu bohongkah? Tidak bukan? Benar adanya
tokh..?

c) dllnya, bisa dilihat dari keganjilan bahasanya.

d) Untuk hadits-hadits palsu, atau lemah, mari jangan
kita ambil itu sebagai landasan hukum kita. Ada juga
beberapa hadits lemah yang dipakai ulama tetapi bukan
untuk hukum, tetapi melihat kondisi ummat sekarang,
saya tidak akan mau menyampaikan hal ini, karena
hadits shahih sajalah yang sudah jelas dipakai itu,
itu sudah cukup buat kehidupan kita didunia ini. Lemah
hadits itupun terletak disanadnya, yang pelupa, atau
apa begitu yang merupakan cacat perawinya, tetapi pada
hakikatnya perawi itu shalih,baik, tetapi lupa,pikun,
atau tidak sengaja

Hadits-hadits dha'if tersebut sudah diteliti oleh
ulama hadits yang berkompoten dibidangnya. Anda
percayakan pada dokter gigi yang ahli dan diakui oleh
dokter lainnya, kalau dokter itu memang ahli dokter
gigi, kalau anda sakit gigi, datang kedokter gigi gigi
anda diperiksa, lantas dikasih obat dan sembuh. Atau
anda kalau tidak mau repot-repot daang keapotik saja?
Bisa jadi sembuh, bisa jadi malah sakit, wallahua'lam,
maka tanggung sendirilah resikonya, kenapa datang
kesana?



Terkecuali
> kita mempunyai murshid yang ahli hadist yang ihsan
> dan dapat di percaya ucapannya.
> 
>  
> 
> Apakah hadist-hadist tersebut sudah final atau masih
> ada yang belum tertulis…?

Masih ada yang dalam bentuk manuscrip.
Hanya saja yang dalam manuscrip itu kebanyakan hadits
lemah, dan inilah tugas ulama sekarang menelitinya
agar jangan sampai hadits lemah disebarluaskan dan
dijadikan sandaran hukum. Dan yang meneliti satu
hadits itu juga bukan satu dua orang, banyak orang
yang benar-benar ahli dalam hal ini, termasuk ahli
dalam bahasa Arabnya.

Dan kita sudah punya pegangan hadits yang shahih, maka
ambillah yang sudah diijmakkan para ulama hadits
tersebut, kita wajib memegangnya, kenapa hadits itu
berasal dari rasulullah SAW? karena Allah
memerintahkan kita " ta'atilah Allah dan rasulNya ",
juga, " Barang siapa yang mentaati rasulullah, maka
sesungguhnya ia mentaati Allah, barang siapa yang
menyalahi rasulullah, maka sesungguhnya ia telah
menyalahi Allah juga"

Dan karena hadits shahihah itu benar2 berasal dari
Rasulullah SAW(setelah penelitian yang cermat), bahkan
tak jarang ulama seperti Bukhari Muslim mengatakan
bahwa mereka menulis hadits ini shalat sunnah dulu
begitupun betapa para sahabat menyuruh orang yang
menyampaikan hadits tersebut bersumpah demi Allah,
kalau benar2 ia mendengar atau melihat rasulullah
berkata/melakukan demikian, begitu sekali sahabat
telitinya dalam menyeleksi hadits rasulullah SAW,
betapa kejamnya kita kalau menuduh mereka berdusta,
betapa kejamnya kita kalau menyalahi larangan
rasulullah yang telah melarang kita untuk mencela para
sahabat, dan betapa sombongnya kita kalau firman Allah
kita ingkari, betapa sok pintarnya kita kalau para
ulama yang shalihin telah bersusah payah bekerja siang
malam dalam menjaga kemurnian hadits ini kita tuduh
yang bukan2? betapa..dan betapa lagi,..apakah kita
sudah hebat dari mereka-mereka itu, ilmu kita belum
ada arti apa-apanya dibandingkan mereka.

. Tidak, bagaimanapun apapun alasannya, saya tidak
akan pernah menuduh para sahabat pendusta, siapapun
sahabat itu, namun saya menyadari para sahabat pernah
terkhilaf dan telah menyadari kekhilafan itu dan
bertaubat, karena mereka juga adalah manusia, tak
luput dari dosa dan noda.

Allah berfirman telah menerima taubat mereka dan
taubat orang-orang yang benar-benar sadar akan
dosa-dosanya, karena sahabat sudah jelas adalah mereka
yang hidup masa rasulullah SAW dalam keadaan beriman
dan mati dalam keadaan beriman.

Untuk diketahui juga, perlu kita membedakan mana ayat
yang berupa teguran pada sahabat, Allah tak mencela
mereka, hanya menegur,memperingati, tokh rasulullah
juga pernah diperingatkan bukan, apakah ada manusia
yang bersih dari kesalahan dan dosa? bila para
sahabatpun berbuat kekhilafan Allah telah menerima
taubat mereka melalui firmanNya juga.

Ambillah firman Allah itu secara keseluruhan, jangan
sepotong-potong, kalau sepotong-potong anda ambil,
sama saja anda memakai baju setengah jadi, bisa
dipakai ngak? Mungkin bisa, tetapi apa tidak mau
memakainya didepan khalayak ramai?

Lihatlah kaum Liberal yang memakai ayat sepotong,
meninggalkan potongan lainnya apa jadinya? Mereka
menyamakan semua agama ini sama, karena yang mereka
pakai adalah firman Allah yang satu ayat saja(lihat
dalil mereka surah Albaqarah ayat 62), itu dikarenakan
menafsirkan ayat berupa potongan-potongan, pakai baju
yang belum jadi, pakai lengannya dulu dadanya terbuka,
atau pakai celana belum direk sleting, yah nampak dong
auratnya, apakah tidak malu nampak auratnya, itu
dianya karena pakai celana panjang luar belum
jadi.masih bending yah, kalau dipakai separohnya saja
bagaimana, tentu dikirain orang "otaknya lagi
mereng?", atau aktor yang sedang mamainkan sonetron
perfileman.

Emang agama ini sinetron, drama permainan apa? Begitu
pulalah terhadap sunnah rasulullah atau hadits
asshahihah. Lihat nasikh mansukhnya, dllnya.

Mudah-mudahan penjelasan ini dapat membantu dan tidak
menimbulkan lagi keraguan terhadap para sahabat atas
keadilan mereka yang mana ayat memuji dan hadits
tentang melarang mencela mereka telah saya sampaikan
sebelumnya, karena hadits melarang mencela para
sahabat itu adalah hadits shahih berasal dari
Rasulullah SAW, dan saya tak mau menyalahi Rasulullah


Wassalam. Rahima.


 
> Wassalamualaikum Wr. Wb


                
__________________________________ 
Yahoo! Mail - PC Magazine Editors' Choice 2005 
http://mail.yahoo.com

Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
____________________________________________________

Kirim email ke