Assalamu'alaikum wr wb.
Maaf, karena topik ini sebetulnya sudah lama berlalu, tapi karena saya
baru muncul , saya ingin ikut memberikan informasi semoga bermanfaat.
Orang Islam dapat melakukan ibadah secara sendiri sendiri atau bejamaah
dimanapun dengan syarat minimum yaitu suci secara syar'i ( batua ndak
ustadz nan ado dipalantakao). Kita bisa melakukan ibadah Jum'at
dimanapun kalau ada imam dan makmum dengan jumlah yang mencukupi. Jadi
kita boleh memakai tempat lapangan, aula gereja dipinjam atau disewa
atau tempat tempat lain. Namun orang kristen tidak bisa melakukan
peribadatan jamaah pada sembarang tempat dengan alasan pertama karena
masing sekte mempunyai prosedur yang berbeda. Mana ada orang Katolik
yang beribadah di gereja orang protestan. Kelompok Protestanpun yang
terdiri mungkin ribuan sekte berbeda cara ibadahnya ( tahun 1978 di
Salatiga ada 73 sekte agama kristen, pada hal penduduk Salatiga waktu
itu cuma 75 ribu ). Dan yang penting lagi tempat peribadatan jamaah itu
harus melalui suatu upacara telah diberkati untuk untuk peribadatan
bersama yang mereka nobatkan jadi tempat suci. Jadi kalau tempat itu
sudah diberkati maka itulah tempat permanen untuk ibadah jamaah mereka,
nggak bisa kayak kita angku Boes, pinjam atau sewa aula gereja 3 jam,
nanti kita bisa pindah lagi tempat lain. Belum lagi acessori yang
mereka butuhkan seperti gereja Katolik harus ada patung Maria, Yesus,
salib, roti yang untuk disuapkan oleh pendeta kepada jamaahnya waktu
acara mau ditutup. Kalau Anglican high church ( ada low church ) harus
ada upacara pemberian minum wine dari pendeta, tempat wine dan gelas
yang dipakai , dibikin khusus untuk gereja ,disamping pemberian roti.
Jadi rumik marekatu. Antar gereja sajo indak bisa saling maminjam doh,
sabab banyak bedanyo. Tapi awas kalau ada yang mau dipnjami tempat itu
pasti dari kelompok Evangelic yang sangat aktif sekkali mengumpulkan
domba domba. Mereka tidak begitu terikat dengan traditional kristen ,
ibadah utama mereka adalah mengumpulkan domba domba. Kelompok
traditional kristen tidak suka dengan mereka, cuma mereka tidak
menyampaikannya terang terang an. Kelompok Evanjelic ini sangat aktif
dinegeri kita ini.
Jadi untuak Dwi Sugandi, kalau kito agiah fasilitas ka
kelompokko'dirampoknyo awak, samo jo manggadangkan anak harimau. Sanak
Darwin, kalau awak sumbahyang Jumat ditampek parkir, jalan raya atau
lapangan bukan utuak marampok tampektu, tapi maminjam. Kalau mareka
dinagari dimano mereka mayoritaspun mereka tidak perlu meminjam ,
kenapa ?karena dalam gerejapun tidak penuh.
Sekian saja, semoga ada manfatnya.
wassalam
Isna
boes wrote:
Angku Darwin,
betul yg dikatakan oleh Dwi W Soegardi, sampai
Jumat lalu, kami ummat Muslim di jantung kota, sebagian
shalat di lantai bawah gereja besar dan kuno/antik.
Gereja ini terletak di perempatan King Street dan Church St.
Lantai bawah ini bisa menampung jemaah 4-5 ratus orang kira²,
dan sampai kini tidak jelas bagi ambo apakah ini disewa
atau kerelaan hati pihak gereja.
Di pintu masuk ditulis oleh pihak gereja waktu penggunaan
ruangan bawah tanah ini dan diharapkan siapapun tidak
boleh membikin ribut dikala itu. Begitu benar toleransi
kaum gerejani kepada ummat Islam.
Benar kata Sdr. Dwi W Soegardi, sudahkah kita memfasilitasi kelompok
non-muslim dinegara indonesia? bukankah ummat islam adalah mayoritas
di negara ini?
wassalam,
boes
Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
____________________________________________________