Dikutip:
" Sebetulnya Indonesia juga memiliki banyak suku pedalaman yang bisa "dijual" 
kepada turis. Tinggal bagaimana mengelolanya. Mau belajar ke Vietnam?"

Batue,
namun sabananyo indak bana urang pedalaman, pakaian traditional kito Bhinnika 
Tunggal Ika sangat mempesonakan.
Di lapangan udara Irian Jaya, tamu2 yg turun dari pesawat juo di entertained 
dg tari2 Irian dan costum asli nyo.  Awak nan sakali-sakali pulang ondeh iyo 
haru bana maliek nyo, 
tanah ayie kito yg sangat special.

Di kakpauang ambo (Pesisir Selatan) beberapa th sampai dg th 2003, telah 
berjalan juo Ekowisata dg beberap object turis alam siann, spt Ayie tajun 
Timbulun, pulau Penyu dan pulau2 sekelilng nyo, pulau Cubadak,... banayk lain 
nyo lain 
nyo. Termasuk juo dg atraksi / sport rock climbing (bagian dari major Wedi 
?).  ITu sangat organized bana, yg memang di organized oleh orang asing, 
Amerika 
dari Green Peace.  Yang kelihatannya adlah dg niat membantu, baik dlm biaya 
(eh, disalah pakaikan juo pith Green Peace bagai, disamping pribadi2 mereka).  
Entertainment Pasisie kalua lah, dg pakaian adat nyo, "dabuih" (ado yyg indak 
tahu?), pencak silat, tari2an Minanga lainnyo. (Tourist guides di training dg 
bahasa Inggtris meladeni para turist, ambo kebetulan ikuik pulo malatieh 
saketek disinan tu.  Pokoknyo iyo sip deh!)

Guess What?
Dipunta nak nyo pendek, 
alhamdulillah, kita mencium missi dan vissi nya.
Waktu saya pulan g di 2002-2003, saya meliaht segalanya, di PESSEL yg memang 
berjalan baik ttg pelaksanaan wisat, tp ada tercium mission agam mereka, yaitu 
isterinya yg ber-sosial dekat dg para wanita Pessel, anak2 yg muali diajarin 
nyanyian2 X-mas.
Dlm waktu yg singkat disana , ambo sempat menelusuri hal itu.  Sesampai di 
Amerika di liek di website, Terseliplah informasi ttg Eko Turism itu melalui 
website mak & bak nyo, Ternyta dia memang orang2 gereja kuat.  Ambo langsuang 
berkomunikasi dg dia, back and forth; hubungan yg diawali persahabatan dan 
saling 
trust berubah 180 derajat.  Saya sampai mengancam dia, andaikan mereka 
menjalan kan missi agama nyoa disana.
Seiring itu juga pemerintahan PESSEL (Bupati) ytg semulanya memang simpati 
menjadi antipati dan dg ninik mamak dan cerdik pandai dg kekuatan seluruh 
masyarakat dia diusir dari daerah PESSEL (2003, Sept).

Dia memang pandai menarik perhatian masyarakat, sampai dia di beri 
gelar,/batagak gala bagai. Eh, datuek apo pulo! Urang  kapie pulo nan di agie 
gala.
Yagn orang kita, yg biasa dg basa basi, menerima kebaikan dg kebaikan, tanpa 
memikir udang di balik batu. Trust bagi kita memang tinggi, krn belum 
terlintas akal2 bulus seperti di negara2.maju/derah metro politan di tanah air.

Anyway,
begitulah dua pendapat yg bertentang kalau kita berbicara ttg turism.
Kita yg dilingkungi dan memgang/melestarikan adat; adat kita yg tak menerima 
begitu saja aperobahan2 dari luar. 

Dilain pihak itu adlaah income masuk utk daerah. ...dll.

Jadi begitulah, bagaimanapun teliti dan cermat nyo kito mamasuekan tuirst, 
efek begitu selalu akan ada.  You may not believe, peraturan2 yg nyo buek utk 
turists di PESSEL tu.
Salah satu nyo " Turits tidak di bolehkan membicarakan agama di muka umum".
Point iko yg ambo debat: "Krn justru berbicara agama secara private akan 
lebih afdhal bagi mereka jalannya utk merangkul orang2 kita".  Semua bisa di 
imbangai dg materi. 

Alhamdulillah, ini makbul, masyarakat PESSEL cepat tersadar, dan mereka di 
usir dari sana.

Jadi iyo kamari susah utk mambangun ko.
Klaau iurang Vietnam tu, kan indak ba-agamao ISlam sarupo kito. Adat dan 
agama nya tidak mengekang mereka berbuat apa saja.  ITu lah yg tajadi di kota 
metropolitan kito.

Turis di fokuskan ke daerah Mentawai.
Krn daerah ini masih rawan dg penduduk nya yg sebagaian besar masih belum 
beragama.
Personal pemerintahan yg greedy, lupa akan pertimbanga demikian, lalau 
terjadi lah apa yg terjadi saat ini.

Di perlutan Mentawai itu, utk diving itu kan mereka membuat basa di lautan, 
dikapal2.
Jadi susah juga utk mengontrolnya.  Lalu merek amenjalar ke daratan.  Mereka 
memang pintar dan orang kitaterlena tentunya dg fasilitas yg menguntungkan 
pribadai nya.
Akie nyo bagari kito ko iyo akan tagadaai tentunyo, kalau presiden kito indak 
tegas.  Mudah2an beliau lai mamikiekan tanah ayie. spt chiri nan terlihat 
saat ko.
We will see!

Salam dan maaf, 
 Nurbaini McKosky
(sorry iko indak ba-edit do)


In a message dated 9/27/2005 3:29:47 AM Eastern Standard Time, 
[EMAIL PROTECTED] writes:
Satu hal yang menarik dari apa yamg ditulis koran Jawapos hari ini , yakni 
mengenai cara menjual wisata etnis menjadi objek wisata yang menarik di Vietnam 
, disamping itu biar termasuk suku terasing ternyata mereka sudah familiar 
dengan bahasa asing dan IT ( e-mail dan internet ) . Dan hal ini patut bisa 
dicontoh dan sebetulnya bisa diterapkan dan dikembangkan di daerah Sumatera dan 
jalan kearah sana sudah dirintis dan dipromosikan oleh Dinas Pariwisata Sumbar 
dengan memperkenalkan Bumi Sikerei ( kepulauan  Mentawai ) kepada wisatawan 
mancanegara . 

Selasa, 27 Sept 2005 (Jawapost)

M. ALI MAHRUS, Sapa-Vietnam



Sama-sama memiliki banyak suku terasing, Indonesia perlu belajar ke Vietnam. 
Di negeri semenanjung Indochina itu, keunikan mereka justru dikemas menjadi 
objek wisata menarik.

BERKUNJUNG ke Sapa yang berada di ketinggian 2.700 meter di atas permukaan 
laut itu memang melelahkan. Sebab, dari Hanoi, ibu kota Vietnam, hanya satu 
alat 
transportasi yang bisa langsung menuju ke sana; kereta api. 

Dari stasiun kota Hanoi, butuh waktu sebelas jam untuk sampai di stasiun Lao 
Cai (berbatasan dengan kota Hekou, China). Lalu, untuk sampai ke Sapa, dari 
Lao Cai masih dilanjutkan dengan berkendara mobil selama 1,5 jam. 

Selama perjalanan dari Lao Cai ke Sapa, kita akan takjub terhadap pemandangan 
alam nan menawan. Gunung-gunung tinggi menjulang dan puluhan air terjun 
terlihat dari kejauhan. Hamparan jurang-jurang berselimut kabut juga menarik 
perhatian siapa pun yang melewatinya. 

Sapa yang berlokasi di wilayah utara Vietnam itu sebetulnya bisa disebut kota 
kecil baru. Sebab, wilayahnya terpencil dan berada di puncak pegunungan. Kota 
tersebut baru "dibentuk" pada era 1990-an oleh investor asing (sebagian besar 
dari Prancis dan Belanda) yang bekerja sama dengan pengusaha dan pemerintah 
Vietnam. 

Alam yang indah ditambah keanekaragaman suku yang mendiami lereng-lereng 
gunung membuat Sapa menjadi tempat tujuan wisata yang menarik. Hasilnya luar 
biasa. Dari catatan di Sapa Tourism Center, pada 2002, pengunjung tempat itu 
mencapai 70 ribu wisatawan. Padahal sebelumnya, pada 1996, turis yang 
berkunjung 
hanya 20 ribu. 

Di puncak gunung yang hanya seluas kira-kira 23 hektare itu kini berdiri 
puluhan hotel kecil bertingkat, bar, kafe, pasar tradisional, dan lain-lain. 
Kehidupan sehari-hari suku terasing di tempat tinggal asli mereka menjadi 
suguhan 
yang bisa dilihat dari Sapa. 

Di Sapa, tersedia rental sepeda motor trail atau mobil jenis off road dan 
tukang ojek yang setiap saat mau mengantar para turis untuk langsung 
mengunjungi 
kampung-kampung penduduk lokal. Mereka tinggal di lereng-lereng gunung yang 
indah dan sangat alami. Di kampung tersebut, turis bisa membeli cendera mata 
khas apa saja yang mereka inginkan. 

Kawasan Sapa saat ini didiami sekitar 50 suku berbeda. Yang paling dominan 
Suku Dao dan H’Mong. Yang bisa membedakan mereka dari suku mana adalah pakaian 
dan aksesori yang mereka kenakan. 

Pakaian yang mereka kenakan sangat khas. Baju dari serat kayu warna warni 
hasil rajutan tangan dikombinasi dengan anting-anting serta gelang tembaga 
bergemerincing di tangan dan kaki. Jika diamati lebih detail, wajah, pakaian, 
serta 
aksesori yang mereka pakai agak mirip dengan Suku Dayak di pedalaman 
Kalimantan. 


Jadi, jangan heran, begitu menginjakkan kaki di Sapa, para turis akan disapa 
penduduk (utamanya anak-anak) suku asli dengan bahasa Inggris yang lancar. Di 
pucuk gunung itu, warnet-warnet juga bertebaran. Anak-anak dengan dandanan 
etnis sedang mengirim email atau sekadar bermain games adalah pemandangan yang 
biasa.

Banyak anak Suku Hmong dan Dao sudah begitu familiar dengan internet. Karena 
itu, setiap turis asing yang mereka kenal selalu mereka mintai alamat, nomor 
telepon, serta alamat email. "Kami ingin berteman dengan banyak orang," kata 
Ker, remaja 18 tahun dari Suku Dao. 

Pagi hari, para penduduk suku asli tersebut selalu berbondong-bondong mencari 
nafkah dengan menyerbu kawasan Sapa. Rata-rata mereka berjalan kaki puluhan 
km, bahkan ada yang sambil menggendong anak kecil di pundak. Pemerintah 
membangun pasar tradisional serta bedak-bedak (kios-kios) di lapangan terbuka 
agar 
mereka bisa menggelar barang dagangannya Banyak sekali barang yang mereka jual, 
dari kain rajutan tangan asli, gelang, anting, hingga obat kuat dari akar dan 
binatang buas. 

Selain mendapat uang, dari sosialisasi dengan para wisatawan itu, para warga 
suku terasing tersebut mulai belajar hidup lebih teratur. Misalnya, mandi 
teratur, makan teratur, serta tidak jorok! Tapi, yang lebih penting lagi, 
dengan 
makin banyaknya turis asing yang masuk, devisa yang diterima Vietnam pun terus 
meningkat. 

Sebetulnya Indonesia juga memiliki banyak suku pedalaman yang bisa "dijual" 
kepada turis. Tinggal bagaimana mengelolanya. Mau belajar ke Vietnam? (*) 

 
Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
____________________________________________________

Kirim email ke