Berikut ada sebuah artikel dg sudut pandang yg 'sedikit' berbeda ttg
kenaikan harga BBM Oktober depan, lengkap dg analisis & ulasan yg sgt
menarik. Terlepas dari benar-tidak nya isi tulisan maupun data2 yg
tercantum
di bwh, maupun bias serta sudut pandang kelompok "tertentu" yg diusung oleh
penulis, mudah2an bisa memberikan tambahan pandangan dan, terutama,
pemikiran.

Wassalaam,

Abu Hakim


==========================================================
Mengapa Kita Menolak Rencana Kenaikan BBM awal Oktober tahun 2005
oleh Indra Kusumah, Selasa, 27-Sep-2005
Presiden BEM Unpad (Badan Eksekutif Mhs Univ Padjadjaran, Bandung)


Jawaban atas Pertanyaan yang Sering Diajukan

1. PEMERINTAH MENGATAKAN, AKIBAT KENAIKAN HARGA MINYAK DUNIA, SUBSIDI BBM
YANG MENINGKAT DRASTIS AKAN MENGANCAM DEFISIT ANGGARAN NEGERI KITA.
BENARKAH?
TIDAK BENAR.
Naiknya harga minyak dan gas dunia memang meningkatkan jumlah subsidi BBM.
Tapi, juga meningkatkan pendapatan ekspor Indonesia dari sektor minyak dan
gas. Artinya: naiknya pengeluaran untuk subsidi diimbangi oleh naiknya
pendapatan ekspor migas. Anggaran akan aman karenanya. Menteri ESDM Purnomo
Yusgiantoro mengatakan, pendapatan ekspor migas kita akan meningkat bersama
naiknya harga minyak di pasaran internasional.

2. APAKAH SUBSIDI BBM MELEBIHI PENDAPATAN KITA DARI EKSPOR MIGAS?
TIDAK BENAR.
Pendapatan ekspor migas lebih besar dari subsidi minyak. Menurut Departemen
Energi dan Sumber Daya Mineral, pendapatan ekspor migas kita tahun 2005 ini
mencapai Rp 175 triliun. Tahun 2004 lalu, pendapatan dari sektor migas ini
hanya Rp 122 triliun. Artinya ada kenaikan lebih dari 40%. Sementara itu,
masih menurut departemen yang sama, subsidi BBM yang dihitung dengan harga
minyak dunia sekarang hanya sebesar Rp 135 triliun. Artinya ada surplus
dari
ekspor migas. Dengan kata lain, subsidi tidak akan mengancam defisit
anggaran.

3. BENARKAH SUBSIDI BBM MERUPAKAN PENGELUARAN TERBESAR NEGARA, SEHINGGA
JIKA
DIPERTAHANKAN BAKAL MENGANCAM KEUANGAN NEGARA?
TIDAK BENAR.
Di luar belanja rutin (gaji pegawai, Pembelian barang dan belanja
pembangunan), pengeluaran terbesar pemerintah pusat ditempati oleh
pembayaran utang negara. Pada hakikatnya pembayaran utang ini adalah
subsidi
pemerintah kepada orang-orang kaya pengemplang utang BLBI dsb.

4. BERAPA BESARNYA UTANG PEMERINTAH INDONESIA?
Indonesia merupakan salah satu negeri pengutang terbesar di dunia. Menteri
Keuangan melaporkan pada pertengahan September 2005, utang pemerintah
Indonesia mencapai Rp 1.200 triliun (seribu dua ratus triliun rupiah), atau
52% dari Pendapatan Domestik Bruto. Indonesia juga salah satu negeri yang
paling berat beban utangnya. Sekitar 30-40% pengeluaran pemerintah pusat
beberapa tahun terakhir dipakai untuk membayar cicilan pokok dan bunga
utang
negara. Makin sedikit yang tersisa untuk belanja kesehatan dan pendidikan.
Pembayaran utang akan meningkat dalam tahun-tahun mendatang: dari Rp 108,7
triliun pada 2004 menjadi Rp 118,5 pada 2006 depan.

5. WAKIL PRESIDEN JUSUF KALLA MENGATAKAN, KENAIKAN HARGA MINYAK MERUPAKAN
SATU-SATUNYA JALAN INDONESIA KELUAR DARI KEBANGKRUTAN. BENARKAH PERNYATAAN
ITU?
TIDAK BENAR.
Pencabutan subsidi bukan satu-satunya jalan keluar untuk mencegah
kebangkrutan. Ada alternatif lain:
a. Mengurangi kebocoran belanja rutin, yang selama ini banyak dikorupsi.
Tahun 2003 saja BPK mengumumkan kebocoran APBN mencapai 150 trilyun.
b. Mengurangi pembayaran utang dengan cara meminta pemotongan jumlah utang.
Anehnya pemerintah menolak tawaran moratorium utang

6. MENTERI ABURIZAL BAKRIE MENGATAKAN: "PILIH MEMBAKAR RP 60 TRILIUN DI
JALAN, ATAU SEKOLAH DAN RUMAH SAKIT GRATIS". APA ARTI PERNYATAAN ITU?
PERNYATAAN ITU MENYESATKAN. Sekolah dan rumah sakit gratis hanya janji
kosong. Pemerintah tidak akan mengalihkan Rp 60 triliun tadi, jika ada,
untuk belanja pendidikan dan kesehatan. Tahun 2005, belanja sektor
kesehatan
hanya Rp 9,9 triliun, sementara pendidikan Rp 30,8 triliun. Bandingkan
dengan pengeluaran untuk pembayaran utang, sebesar Rp 93,9 triliun. Tidak
hanya pendidikan kesehatan yang makin merana. Pembangunan infrastruktur
seperti jalan, air bersih dan perumahan juga menyusut. Belanja pembangunan
terus merosot, sementara pembayaran utang terus meningkat.

(Dalam Triliun Rupiah)        2004        2005        2006

Belanja Pembangunan           Rp  71,9    Rp 49,6     Rp 45,0
Bayar Utang                   Rp 108,7    Rp 93,9     Rp 118,5


7. BENARKAH SUBSIDI BBM HANYA DINIKMATI ORANG KAYA, YAKNI ORANG-ORANG YANG
MEMAKAI BENSIN, SOLAR DAN LISTRIK LEBIH BANYAK?
TIDAK BENAR.
Baik orang kaya maupun orang miskin menikmati subsidi BBM. Subsidi BBM
adalah subsidi tidak langsung. Artinya bukan bensin, solar atau minyak
tanah
itu sendiri yang mempunyai arti. Subsidi BBM menopang daya beli masyarakat.
Jika subsidi dicabut, daya beli masyarakat akan jatuh. Bahan bakar
merupakan
komponen setiap barang dan jasa yang kita konsumsi (pangan, sandang,
perumahan, obat-obatan, layanan pendidikan). Jika subsidi dihapus, maka
harga pangan, sandang, perumahan, obat dan layanan pendidikan meningkat
drastis. Orang miskin akan semakin sulit menjangkau kebutuhan pokok dan
layanan dasar yang harganya melambung. Dampak kenaikan harga lebih besar
bagi orang miskin ketimbang bagi orang kaya.

8. TAPI, BUKANKAH ORANG KAYA MENGKONSUMSI ENERGI (MINYAK, SOLAR DAN BENSIN)
LEBIH BANYAK KETIMBANG ORANG MISKIN, ARTINYA MEREKA MENERIMA SUBSIDI LEBIH
BANYAK DARI ORANG MISKIN?
BENAR.
Orang kaya memang mengkonsumsi minyak dan energi lebih banyak karena mereka
punya rumah lebih besar (listrik lebih banyak, untuk penerangan, kulkas dan
AC) dan punya mobil yang haus bensin. Itu memang tidak adil. Harus ada cara
untuk mengoreksi ketidakadilan itu. Pencabutan subsidi bukan cara
satu-satunya. Kita tak perlu membakar rumah untuk menangkap tikus.

9. ADAKAH CARA LAIN UNTUK MENGOREKSI KETIDAKADILAN ITU?
ADA.
Ketidakadilan dalam konsumsi minyak bersubsidi bisa dikoreksi dengan
menerapkan pajak yang sangat tinggi pada mobil pribadi, kulkas, AC,
peralatan elektronik dan sebagainya, untuk mengkompensasi tingginya
pemakaian bahan bakar mereka.

10. TAPI, BUKANKAH ORANG MISKIN DIBERI KOMPENSASI?
BENAR. TAPI JUMLAHNYA SANGAT SEDIKIT.
Kompensasi pencabutan subsidi pada Oktober 2005 ini hanya sebesar Rp 4,7
triliun untuk sekitar 15,5 juta keluarga. Bandingkan angka itu dengan
pembayaran utang negara yang mencapai lebih dari Rp 90 triliun.

11. BUKANKAH SUBSIDI BBM MENYEBABKAN PENYELUNDUPAN?
BUKAN.
Penyelundupan disebabkan oleh rendahnya kinerja pemerintah dalam menegakkan
hukum, di samping merajalelanya korupsi. Gaji pegawai pemerintah terus
meningkat, tapi mengurus penyelundupan tidak bisa.

(Dalam Triliun Rupiah)  2004        2005        2006
Belanja Pegawai         Rp 54,2     Rp 61,1     Rp 77,7


12. BUKANKAH HARGA MINYAK DI INDONESIA PALING MURAH?
TIDAK.
Masih ada negara yang jauh lebih murah dibandingkan dengan Indonesia. Saudi
Arabia, Brunei Darussalam dan Venezuela.


Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
____________________________________________________

Kirim email ke