Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh,

Sasuai dalam alqur'an bahaso anak yatim ko adolah tangguang jawab awak
basamo (kalau indak salah), tapikia lo dek awak kalau lah anak awak yang
menjadi yatim dan hiduik sio2 iyo sadiah lo arwah awak mancaliaknyo.

Dikecekan dibawah bahaso di Solok anak2 yatim tsb. Punyo usaho yang
mandiri, iyo paralu lo mungkin pihak pangalola untuak studi dan praktik
ka panti tsb, syukur2 sbg pandidikan dan manjadikan anak2 yang lamah dek
kondisi tsb. Manjadi manusia beriman yang tangguh di kemudian hari.

Sakian, wassalam, syb.



Ribuan Anak Yatim Terabaikan 

PADANG - Sebagian besar dari 110 panti asuhan yang menampung 4.547 orang
anak di Sumbar terancam tutup. Gambaran yang mengerikan itu akibat
kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang berimbas tingginya
kebutuhan. Pepenghuni panti juga tidak mendapat kartu kompensasi BBM. 

Di Kabupeten Agam, sembilan 19 panti asuhan dengan ratusan anak yatim
terancam tutup, apalagi sejak kenaikan harga BBM. 

Ketua Panti Asuhan Putra Muhammadiyah Cabang Sri Antokan Lubuk Basung H.
Dabesri Bara Dt. Bgd. Rajo, S.H., mengatakan, jika pemerintah tidak
arif, tidak hanya panti asuhan yang dikelolanya terancam tutup, juga
yang lainnya. 

Selama ini aliran dana diperoleh dari donatur dan pemerintah, tapi
setelah kenaikan harga BBM. Biaya kebutuhan pangan dan operasional
sekitar Rp11 juta per-bulannya tidak cukup untuk menutupi belanja. 

Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan Agam Drs. Amri Bakar
tidak menutup mata atas kondisi yang menimpa para penghuni panti di
daerahnya. 

Kondisi yang sama juga terjadi di Kota Solok. Mereka sangat terpukul
karena kenaikan harga BBM. Bahkan, salah satu panti asuhan di bawah
Yayasan Panti Asuhan Tunas Bangsa yang diketuai H. Syarifuddin mengaku
belum menerima dana kompensasi BBM bagi para anak asuhnya. "Warga miskin
dapat, kami dari panti asuhan kok terabaikan," ujarnya. 

Di Bukittinggi, sejumlah pengurus panti asuhan juga mengemukakan keluhan
yang sama. 

Ketua YPAC Kasih Bundo Surianto mengatakan, akan memprotes Pemko
Bukittinggi dan BPS karena tidak memasukkan anak asuhnya sebagai pihak
yang berhak menerima dana kompensasi BBM. Sampai saat ini pihaknya belum
pernah didatangi BPS untuk mendata penghuni panti. 

Sebelum kenaikan BBM, pengeluaran pantiyang dikelolanya mencapai Rp7
juta hingga Rp8 juta/bulan, tidak termasuk biaya sekolah anak anak. 

Saat ini YPAC Kasib Bundo menampung 40 anak cacat dan terlantar. Mereka
sedang melanjutkan pendidikan di beberapa sekolah, seperti SD, SMP
maupun melalui sekolah paket A, B, dan C. 

Untuk menutupi biaya, pihaknya terpaksa banting tulang, menghimpun dana
dari masyarakat, kemudian ditambah dengan unit usaha yang dikelola oleh
yayasan, namun masih tetap tidak mencukupi, bahkan guru-guru yang
mengasuh dan mendidik anak panti sudah lebih sembilan bulan belum
menerima honorarium. 

Wakil Ketua Panti Aisyiah Bukittinggi, Harianti Sabirin juga menyatakan
keluhan soal kartu kompensasi untuk anak asuhnya. Saat ini panti Aisyiah
sangat membutuhkan bantuan pemerintah dan masyarakat terutama untuk
biaya rutin, Rp25 juta per-bulan bagi 80 orang anak. 

Dikatakan, bantuan masyarakat dan pemerintah yang diterima selama ini
tidak mencukupi. "Kita berharap dana kompensasi BBM itu juga dapat
diperoleh oleh penghuni panti," ujar Harianti yang didampingi
Bendaharanya Hj. Yulmawati. 

Dua panti lagi di Bukittinggi, yakni Panti Al-Makrif (30 penghuni) dan
panti Budi Bakti juga belum pernah didata oleh BPS. Meski pengelola
panti belum mendapatkan kepastian, apakah mereka termasuk dalam program
yang menerima konpensasi BBM, namun beberapa pegurus panti akan
mepertanyakan hal itu kepada pemerintah maupun BPS. 

Di Padang Panjang, kondisi tiga panti asuhan masih berjalan normal,
masing-masing PSAA Tri Murni (milik pemerintah), Yayasan Aisyah
Muhammadiyah yang menaungi Panti Putra (Tanah Pak Lambiak) dan Panti
Putri. 

Sebanyak 10 panti asuhan di Kabupaten Pesisir juga mengeluhkan sikap
pemerintah dengan tidak masuknya penghuni panti asuhan sebagai penerima
dana kompensasi BBM. Berdasarkan data dari Dinas Sosial dan Keluarga
Berencana Pessel, keseluruhan panti asuhan itu dihuni 377 anak asuh,
yaitu Bapaya Koto Barapak yang memiliki 45 anak asuh, Miftahul Jannah
Lumpo 72 anak asuh, Muhammadyah cabang Bayang 72 anak asuh. Setelah itu
ada Bina Sosial Lakitan dan YPAC Painan yang masing-masing memiliki 45
anak asuh. 

Selanjutnya Restu Ibu Batang Kapeh yang saat ini didiami 21 anak asuh,
Muhammadiyah Pesisir Selatan, Bina Harapan Salido, dan Koto XI Tarusan
yang sama-sama memiliki 20 anak asuh. Terakhir ada PPAC Balai Selasa
yang memiliki 17 anak asuh. 

Kasi BUKS Dinas Sosial dan KB, Djusrizal, mengatakan saat ini tercatat
tiga bantuan makanan yang diperoleh oleh panti asuhan itu, subsisdi APBD
II, subsidi Dekon/APBN, dan subsidi BBM. 

Namun dari subsidi APBD II yang diberikan kepada 10 panti asuhan hanya
atas 180 anak. Jumlah itu berkisar antara 10 hingga 30 anak pada satu
panti, masing-masing anak itu mendapatkan bantuan Rp2.250/hari dan
diterima sekali enam bulan. 

Sedangkan subsidi Dekon/APBD diberikan kepada 85 anak asuh pada tujuh
panti, kecuali PPAC Balai Selasa, Restu Ibu Batang Kapeh dan
Muhammadiyah Pesisir Selatan. Masing-masing anak itu mendapatkan bantuan
Rp1 juta/tahun. Jatah masing-masing panti antara 10 sampai dengan 15
anak. 

Terakhir, subsidi BBM yang diterima 224 anak dari tujuh panti asuhan.
Panti yang tidak menerima masing-masing YPAC Painan, Muhammadiyah
Pesisir Selatan, dan PPAC Balai Selasa, masing-masing anak asuh itu
diberikan bantuan sebesar Rp2.250 per-hari yang pada satu panti berkisar
antara 17 hingga 45 orang. Dana yang dimasukkan ke dalam rekening
yayasan itu harus diambil setiap bulannya. 

Sedangkan Panti asuhan di Kabupaten Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh
kondisinya sekarang juga menyedihkan. Bantuan yang diterima dari donatur
tidak cukup. Mardanis salah seorang pengurus Panti Asuhan Muhammadiyah
Guguak 2 mengakui, sudah menerima bantuan BBM itu sejak tahun lampau
Rp25 juta/tahun. Selain dari BBM, pantinya juga memperoleh bantuan dari
Depsos pusat sebesar Rp15 juta/enam bulan serta dari Darmais sebanyak
Rp4.050.000/tiga bulan. Namun bantuan itu tidak mencukupi bagi 49 anak
asuhnya. Apalagi sejak kenaikan harga BBM, kebutuhan dapur, biaya
transportasi anak ke sekolah meningkat tajam. "Kebutuhan panti setiap
bulannya mencapai Rp9 juta. Pengeluaran sebesar itu jauh lebih besar
dari dana bantuan yang kami terima. Untuk menutupi kekurangan biaya,
kami mengumpulkan infak dan sadekah dari masyarakat," kata Mardanis. 

Kasi Rekesos Kantor Sosial Kabupaten Limapuluh Kota, Azhar, S.H
mengatakan, panti asuhan yang mendapatkan bantuan pemerintah di
antaranya Panti Asuhan Muhammadiyah Cabang Guguak 2, Bustanul Ulum,
Mitra, Nurul Mustaqim dan Panti Tunanetra. Bantuan tersebut, langsung
disalurkan ke rekening masing-masing panti. 

Keluhan juga datang dari Panti Asuhan Aisyiah Putri Koto Tangah, Padang.
Kendati memiliki penyumbang tetap, mencapai 300 orang donatur, tingginya
kenaikan harga BBM sangat mempengaruhi aktivitas di panti itu. 

Murniati, salah seorang pengasuh mengatakan, tingginya kenaikan harga
BBM, telah membuat dana yang diterima dari donatur tersendat. Biasanya,
bantuan yang diterima lancar, namun sekarang sebaliknya. Kendati
demikian, anak-anak panti yang berjumlah 50 orang masih bisa diberi
makan, pakaian dan keperluan sehari-hari termasuk keperluan sekolah.
Tidak hanya itu, 26 anak lainnya yang diasuh di luar panti masih bisa
disubsidi uang sekolah dan pakaian mereka. Termasuk biaya operasional
lainnya dari panti itu dapat tertutupi. 

"Biasanya kalau bulan Ramadan seperti sekarang ini, sudah banyak yang
memberikan bantuan dalam bentuk barang, uang dan sebagainya. Tapi
sekarang agak sedikit yang memberi bantuan," jelasnya. 

Kondisi yang sama juga dirasakan Panti Asuhan Yatim (PAY) PGAI
(Persatuan Guru-guru Agama Islam), Padang. Sejak harga BBM melambung,
pengurus panti itu mengalami kesulitan membiayai pendidikan 40 anak
panti. Panti yang beralamat di Jl. Dr. H. Abdullah Ahmad No.4 itu,
menampung anak yatim, yatim piatu dan anak-anak fakir miskin dari
berbagai provinsi di Indonesia. 

Hingga saat ini, tercatat anak-anak dari Bengkulu, Jambi, Banda Aceh dan
Sumbar sendiri, telah mengecap pendidikan dalam binaan PAY PGAI. "Kami
sangat kesulitan membiayai transportasi mereka, peralatan dan
perlengkapan sekolah dan juga uang jajan," kata Pimpinan PAY PGAI H.
Djulin Suleiman Dt. Sirajo. 

PAY PGAI mendapat bantuan dana dari Yayasan Dharmais, sebesar
Rp1.125.000/bulan. Uang ini baru bisa diambil per tiga bulan, khusus
untuk 25 anak saja. Selain itu, juga menerima bantuan dari Anggaran
Pendapatan Belanja Negara (APBN) Rp10.000.000, yang diterima melalui
Dinas Sosial Provinsi, untuk 20 orang anak. Dari bantuan subsidi
permakanan, setahunnya diterima Rp32.850.000 untuk 40 anak. Jika dibagi,
maka masing-masing anak memperoleh Rp2.250 per hari. Dari donatur tetap,
diterima Rp1.500.000 per bulan, dan dari masyarakat diperoleh uang
Rp5.000.000 per bulan. Pengurus PAY PGAI, mengeluarkan biaya pendidikan
untuk masing-masing anak Rp300.000 per bulan. Berarti, untuk 40 anak
dikeluarkan dana Rp12.000.000 per bulan. 

Untuk menutupi kekurangan, pengurus PAY PGAI sedikit terbantu dengan
penghasilan sewa ambulan Rp2 juta per bulan. Sedangkan usaha toko yang
dirintis pengurus, kurang bisa menghasilkan karena faktor saingan dan
tempat yang kurang strategis. 

Pada bulan puasa ini, pengurus sedikit terbantu dengan undangan berbuka
bersama yang banyak dilakukan para dermawan. Anak-anak panti ada yang
diminta datang, dan ada juga makanannya diantarkan ke panti. 

Pengurus berencana memperbesar daya tampung panti, dengan menambah
beberapa kamar. Untuk itu diperlukan dana Rp150 juta lagi, untuk
melengkapi panti dengan tempat berwuduk, gudang, kamar anak asuh, ruang
keterampilan dan aula. 

Nasib agak baik dialami setidaknya bagi tiga panti asuhan di Kabupaten
Solok. Antara lain, Panti Asuhan Muhammadiyah Padang Belimbing yang
menampung 50 anak. Panti Asuhan Muhammadiyah di Bukik Kili yang 50 anak.
Sementara Panti Asuhan yang menampung anak dalam jumlah besar adalah
Panti Asuhan Nurul Imam di Batu Bagirik, Kecamatan Lembah Gumanti.
Khusus di Nurul Imam ditampung 160 orang anak. 

Layaknya panti asuhan lain, tiap-tiap panti di daerah ini masih
memerlukan bantuan. Belakangan, di tengah hiruk-pikuk dana kompensasi
BBM, keberadaan panti asuhan yang ada belum diperhitungkan sebagai pihak
yang patut mendapatkan bantuan serupa yang dialami masyarakat miskin. 

Rata-rata panti asuhan di Kabupaten Solok, memiliki usaha, sehingga
bantuan dari pihak ketiga tidaklah terlalu dijadikan target utama. Panti
Asuhan Nurul Iman di Batu Bagirik yang dipimpin Darman, misalnya,
memiliki berbagai macam usaha, dengan penghasilan relatif besar tiap
bulannya. Panti itu memiliki usaha peternakan, pertanian, koperasi
fotokopi dan toserba. 

Pengelola panti menyebutkan, kalau ada orang atau pemerintah yang mau
menyumbang, maka pasti akan diterima. Sumbangan ke panti asuhan
merupakan bagian dari pelaksanaan ibadah. Tapi, guna menutupi biaya
operasional, panti sudah memiliki banyak usaha. 

Panti asuhan Nurul Imam, anak yang ditampung di sana, dilatih melakukan
berbagai usaha produktif. Dengan pendidikan itu, anak diharapkan kelak
bisa mandiri berbekal pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki. 

Dinas Sosial Sumbar masih memberikan pembinaan dan dorongan terhadap
panti-panti asuhan, baik dalam bentuk pelatihan maupun pemberian bantuan
dana. Salah satu bentuk bantuan dana dalam operasional panti asuhan
adalah subsidi panti yang diberikan senilai Rp2.250/anak/hari selama
satu tahun. Untuk tahun 2005, subsidi panti yang merupakan dana dari
APBN dialokasikan untuk 110 panti asuhan. Namun, subsidi panti yang
diperuntukkan bagi uang makan anak itu tidak dialokasikan pada semua
anak panti. Paling-paling, dalam 40 anak, yang dapat bantuan hanya 25
anak. Selebihnya, ditanggung oleh yayasan. 

Jumlah sasaran dalam pemberian subsidi tersebut menurut Kepala Dinas
Sosial Sumatra Barat, Amry, S.H., Sabtu (8/10) di Padang, sebanyak 3.864
anak dengan nilai Rp3,413 miliar. Sementara, jumlah anak di Sumbar yang
diasuh di panti asuhan pada tahun 2005 tercatat 4.547 orang. 

Di samping bantuan subsidi, bantuan yang diberikan pemerintah dalam
menjamin kehidupan anak-anak miskin, terlantar atau yatim piatu itu
adalah dengan pemberian bantuan Usaha Ekonomi Produktif (UEP). Untuk
tahun 2005, UEP diberikan kepada 24 panti asuhan dengan nilai
masing-masing Rp10 juta. Dengan dana UEP, pengurus panti dengan
memberdayakan anak-anak yang ada di sana dapat mengembangkan usaha
seperti Wartel, agrobisnis dan lain-lain. 

"Kalau UEP berhasil, maka bisa dimanfaatkan untuk pengembangan panti ke
depan. Atau, dijadikan tambahan modal untuk usaha produktif lainnya,"
ujar Amry. 

- Tim 
 


Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
____________________________________________________

Kirim email ke