Azyumardi menyebutkan supaya Muhammadiyah jangan berpikir literal 
dalam berijtihad, lho? Apakah maksudnya mengatakan Muhammadiyah 
harus berijtihad dengan akal saja, tanpa mempedulikan Al-Qur'an dan 
Sunnaah yang notabene adalah bahan-bahan literal (tertulis)?

Mestinya kan bukan begitu. Kalau dia mengusulkan wasathiyyah, 
mestinya kedua konteks (literal dan akal) itu harus diakomodir, 
bukannya menafikan salah satu. Perpaduan kedua unsur tersebut itulah 
yang disebut kontekstual, bukannya kontekstual seperti yang 
dipropagandakan orang-orang Islam Liberal yang hanya mengandalkan 
akalnya saja.

Wassalaamu'alaykum wr wb
Muhammad Arfian


--- In [EMAIL PROTECTED], Darwin Bahar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Salafisme Wasathiyyah
>  
> Oleh : Azyumardi Azra
>  
> Republika, Kamis, 13 Oktober 2005
>  
>> Salafisme Washatiyyah ala Muhammadiyah jelas --dan seharusnya-- 
> berkembang tidak literal. Dalam perspektif saya, literalisme 
bahkan 
> tidak cocok dengan salah satu prinsip dasar Muhammadiyah, yaitu 
> pengembangan ijtihad. Secara sederhana, ijtihad berarti 
mengerahkan 
> segenap daya pikiran dan kekuatan intelektual untuk menghasilkan 
> rumusan-rumusan 'baru' dalam berbagai bidang kehidupan; jelas 
tidak 
> terbatas pada bidang fikih, tetapi juga dalam bidang sosial, 
budaya, 
> pendidikan, politik, teknologi, seni, dan seterusnya.
>  





Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
____________________________________________________

Kirim email ke