Mak Darul jo rang Palanta sadonyo,

 

Karano problem teknis, jadi ambo paste sajo berita dari Padeks ko.

Maaf kalau kabanyak an dek sanak nan mamakai plat hitam , jadi agak lamo 
bukanyo.

 

Mak Darul, baa kiro kiro? Putuih dijalan sae atau maju taruih? Atau lai namuah 
karajo kareh dalam hal iko? Atau kito hanyo sebatas gagasan angek angek cik 
ayam?

 

Bukannyo awak indak ado nan dihandalkan ka wisman, tapi sdm kito ndak pernah 
amuah siap jo keadaan iko ( kendala: adaik jo ugamo ??? ). Masih tidak paham, 
jadi ma nan maraso alah paham, agiah tahulah nan alun paham jo caro nan bisa 
ditarimo dek nan alun paham jo keuntungan sarato karugian bidang ko.

 

Sakitu se dulu, klo ado komen dari nan lain, rancak bana

 

Heri (paris)

42

 

Wisata Belum Jadi Andalan
By adminpadekJum'at, 14-Oktober-2005, 05:30:5829 clicksPadang, Padek—Meskipun 
Sumbar sangat kaya dengan potensi wisata, namun kenyataannya sampai saat ini 
sektor pariwisata belum mampu menjadi sumber pendapatan utama baik tingkat 
provinsi maupun kabupaten/kota di Sumbar. Penyebab kegagalan pencapaian target 
pariwisata di Sumbar, di antaranya disebabkan rendahnya tingkat kesadaran 
wisata masyarakat di sekitar objek wisata. Hal ini disebabkan kurangnya 
keterlibatan dan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang manfaat objek wisata. 

Selain itu, dialog-dialog antara pemerintah dengan pelaku pariwisata dan 
masyarakat sendiri juga masih kurang. Demikian terungkap dalam seminar hasil 
penelitian berjudul ”Sadar Wisata dan Pelaksanaan Sapta Pesona di Daerah Tujuan 
Wisata Sumatera Barat” yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan 
(Balitbangda) Sumbar dengan Lembaga Penelitian Unand, yang dipaparkan Ketua Tim 
Penelitian, Aidinil Zetra SIP MA, di Aula Balitbangda Sumbar, kemarin. 

wisata 

Anggota penelitian ini di antaranya Malse Yulivestra SSos, Drs Bakaruddin RA 
MS, Yevita Nurti SSos MSi, Rika Valentina SIP, Irawati SIP dan Roni Eka Putra 
SIP. Hadir dalam seminar tersebut Kepala Balitbangda Sumbar, Dr Ir Rahmat 
Syahni MSc, Ketua ASITA Sumbar, Asnawi Bahar, dan dari Dinas Pariwisata Sumbar, 
Dinas Pariwisata Padang, para pelaku industri wisata Sumbar. 

Pada kesempatan itu, Aidinil mengatakan, rendahnya kesadaran jelas berdampak 
terhadap interaksi yang terjadi antara penduduk dengan wisatawan yang cenderung 
mengarah pada tindakan negatif dan juga berdampak terhadap lemahnya 
perlindungan dan antisipasi dari masyarakat setempat terhadap dampak negatif 
yang ditimbulkan dengan keberadaan objek wisata di daerah mereka. 

Dari sudut kunjungan, kebanyakan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke 
Sumbar berasal dari negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Brunei 
Darussalam dan ada juga yang berasal dari Jerman, Perancis, Jepang dan Belanda. 
Sementara itu, wisatawan nusantara kebanyakan berasal dari Jakarta dan 
Pekanbaru. Perbandingan rasio wisatawan ini 1:169. 

”Hendaknya ini menjadi acuan dalam mengembangkan produk wisata Sumbar. Gambaran 
ini hendaknya dapat menjadi acuan dalam mengembangkan produk wisata Sumbar, 
baik memperbaiki produk yang sudah ada, maupun menambah jenis produk baru,”ujar 
Aidinil. 

Berdasarkan wawancara dengan wisatawan lanjut Aidinil, lama tinggal wisatawan 
di Sumbar rata-rata 4-5 hari. Hal ini termasuk lama dibandingkan dengan 
tahun-tahun sebelumnya. Namun, lama waktu tinggal wisatawan tersebut tidak 
diikuti sejumlah pengeluaran rata-rata wisatawan di daerah tujuan wisata di 
Sumbar. Dengan demikian mestinya jadi tantangan bagi pengelola objek wisata, 
pusat perbelanjaan, pengelola restoran dan rumah makan dalam meningkatkan 
pelayanan. 

Pelaksanaan sapta pesona di daerah tujuan wisata Sumbar masih belum optimal. 
Beberapa aspek sapta pesona masih perlu peningkatan, seperti pelayanan wisata 
yang masih rendah dan pelayanan transportasi wisata, pelayanan keamanan oleh 
polisi wisata, pelayanan informasi oleh Pemda dan Bandara. Ini disebabkan 
keterbatasan jumlah personil polisi wisata, kurangnya koordinasi antara Dinas 
Parsenibud Sumbar dengan Dinas Parsenibud Kota/Kabupaten, pelaku wisata dan 
tokoh masyarakat. Selain itu, juga disebabkan belum efektif dan optimalnya 
upaya penyebarluasan informasi wisata yang dilakukan pemerintah dan pemanfaatan 
sarana informasi. 

Berdasarkan permasalahan yang ditemukan, peneliti merumuskan beberapa 
rekomendasi, di antaranya pemerintah provinsi perlu memberdayakan masyarakat di 
sekitar objek wisata, agar dapat memanfaatkan peluang industri pariwisata untuk 
meningkatkan pendapatannya, sehingga melahirkan interaksi yang positif dengan 
wisatawan, sehingga mengarah ke tindakan-tindakan yang saling membutuhkan. Dan 
juga perlu memfasilitasi masyarakat di sekitar objek wisata dalam memperkuat 
perlindungan diri dengan cara ”rembug warga” bersama-sama dalam menanggulangi 
dampak negatif yang ditimbulkan dari keberadaan objek wisata di daerah mereka. 

Untuk meningkatkan kesadaran wisata, masyarakat di sekitar lokasi objek wisata 
disarankan dilakukan beberapa langkah penting, seperti meningkatkan 
keterlibatan masyarakat di sekitar objek wisata dalam kegiatan pengelolaan dan 
pengembangan objek wisata, memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang 
manfaat dan dampak keberadaan objek wisata di daerah mereka, dan pemerintah 
perlu meningkatkan intensitas dialog dengan masyarakat dan pelaku wisata. 

Karakteristik wisatawan yang berkunjung ke daerah tujuan wisata Sumbar dapat 
dijadikan acuan dalam mengembangkan produk wisata Sumbar, baik memperbaiki 
produk yang sudah ada maupun untuk menambah jenis produk wisata baru. Pemasaran 
produk wisata ini perlu memanfaatkan media massa negara yang menjadi target 
pasar dengan cara mengundang para wartawan mereka berkunjung dan menikmati 
produk wisata yang ada. 

Agar length of stay wisatawan di daerah tujuan wisata Sumbar juga diikuti 
peningkatan jumlah pengeluaran rata-rata wisatawan di daerah tujuan wisata 
Sumbar, maka pengelola objek wisata, pusat perbelanjaan, termasuk pengusaha dan 
pedagang souvenir, pengelola restoran dan rumah makan perlu meningkatkan 
pelayanan dan memberikan kenyamanan berbelanja. 

Untuk peningkatan pelayanan objek wisata, pemerintah perlu melakukan penataan 
dan pembenahan lokasi dengan lingkungan objek wisata dari banjir, bau tidak 
sedap, asap, debu serta sampah. Penataan lahan secara terencana dengan 
pembuatan tapak yang menarik dan melakukan renovasi terhadap bangunan di 
beberapa objek wisata yang sudah tidak layak, seperti pintu gerbang, papan nama 
dan melengkapi objek wisata dengan perpakiran, taman-taman, arena bermain, 
kantor pengelola tiket, toilet, bak sampah, air bersih, pemadam kebakaran, dan 
sistem tata suara yang masih belum lengkap. ”Oleh sebab itu, pemerintah juga 
harus meninjau ulang sistem pengelolaan objek wisata yang belum efektif dan 
efisien di beberapa objek wisata,” ujar Aidinil. 

Sementara itu, Kepala Balitbangda Sumbar, Rahmat Syahni mengatakan, hasil 
penelitian ini cukup baik untuk memotret pariwisata saat ini dari sisi sadar 
wisata dan sapta pesona. ”Ke depan, yang penting adalah bagaimana semua stake 
holders baik industri wisata, pemerintah dan masyarakat bersama-sama berusaha 
meningkatkan sadar wisata Sumbar,” ujarnya. (cr6)

darul <[EMAIL PROTECTED]> a écrit :Assalaamu'alaikum W W.

Sanak Heri, hujan ameh dinagari urang, ujan batu dinagari awak, nan nagari awak 
tatap jadi buah pikiran, walau awak masih baujan ameh. Nan sanak Heri keluhkan, 
itu masalah tataruang dan lokalisasi. Jikok sempat di Padang nanti, tolong lah 
pai ka Pulau Cubadak dikampuang ni Ben dan juo di Mentawai, suasana disinan 
alah bebas untuak si turis. Kalau pantai Padang jo Pariaman, kampuang awak iyo 
punyo paga nagari, alokasi tataruang disinan iyo ABSSBK. Kalau indak salah 
ditompaik sanak Dino di Mandalay, turistno selected juo, nan namuah dima bumi 
dipijak disinan langik dijunjuang. Nan sabanano turis tu indak identik jo 
kebebasan doh. Apo alah pernah mansurvey, kalau alah tolong dibagi ambo, bara 
persen nan bebas dan bara persen nan baradat (nan namuah dima bumi dipijak 
disinan langik dijunjuang).

Walau baa juo kami masih nekad menggagas pointers berikuik:

Pelabuhan Muaro, Kota Padang 

1.1. Pelabuhan Rakyat dan Perikanan Rakyat 
2.2. "OLD DOWN TOWN" yang sangat "Laik Jual" 
3.3. Terminal Olah Raga Bahari 
4.4. Alami dengan tanjung yang potensial 
5.5. Sungai dengan jembatan "Siti Nurbaya"-nya sebagai tempat "Social 
Gathering" 
6.6. Penghuni lama sebagai "Anchor Tenants" 
7.7. Belum ada Pelabuhan Wisata Bahari Tingkat Nasional maupun Internasional di 
pantai Barat Pulau Sumatera 

Parawisata

1.1 Alam Sumatera Barat "Pegunungan dan Agro" 
2.2. Alam Bahari : "Sumudera Hindia dengan 19 Pulau yang sangat Potensial" 
3.3. Budaya dan Kesenian Rakyat Minang 
4.4. Sungai Batang ............ yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat "Atraksi 
Air" 
5.5. Seni Boga Minang 
6.6. Kemungkinan Penyelenggaraan Kalender Event Sepanjang Tahun (Lokal Nasional 
dan Internasional) 

Konsep

1. Fungsi

a. Pelabuhan Terminal Kapal Wisata Umum dan Pribadi tingkat Internasional 
b. Pusat Wisata Bahari Sumbar 
c.c. Pusat Konservasi Wilayah Kota Lama 
d.d. Pelabuhan Rakyat Untuk Komoditas tertentu 
e.e. Pusat Penyelenggaraan Kalender Event Sepanjang Tahun, dari tingkat lokal 
sampai Internasional (Wisata, Seni, Budaya, Perdagangan, Olah raga Bahari, 
Agro, 
f. Handicraft,Garmen, Industri, dan lain-lain) 
f.g. Pusat Perdagangan Cinderamata 
g.h. Resort Wisata 
h.i. Pusat Penelitian Ilmiah dan Informasi "Eco-Marine Tourism" 
i.j. Pusat Wisata Air 
j.k.Universitas Parawisata 


2.2. Pelabuhan Pelindo II Muaro sebagai "Embrio" Pembangunan dan Pengembangan 
"Pelabuhan Wisata Muaro" 
3.3.Perlu segera disiapkan Master Plan wilayah dan Detail Plan Pelabuhan 
Pelindo II Muaro 
4.4. Segera dibentuk Badan semacam "Muaro Tourism Board" yang independen dan 
bertanggung jawab untuk merencanakan serta melaksanakan semua pembangunan 
5.5. Karakteristik Wilayah : 1. Suasana : Internasional 
2. Nuansa : Bahari 
3. Warna : Sejarah Padang 
4. Dan Budaya : Minangkabau 


Program


1.. 1.Buat Master Plan Wilayah Pelabuhan dan Detail Plan Pelindo II - Muaro 
b.. 2.Bentuk Badan "Muaro Tourism Board" 
c.. 3.Bangun Pelabuhan Pelindo II Muaro 
d.. 4.Siapkan Semua Perangkat Hukum 
e.. 5.Laksanakan Program Sosialisasi, Promosi dan Kegiatan Wisata 
f.. 6.Galang Para "Stake Holders" 
g.. 7.Laksanakan dan Kendalikan Pembangunan Prasarana serta Sarana Wisata 
h.. 8.Monitor Pembinaan "Stake Holders" 
i.. 9.Monitor dan Revisi Bisiness Plan kalau perlu: Monitor dan Revisi Master 
Plan. kalau perlu 
10. "Milestone" 
"2006 " Master Plan dan Pembentukan Muaro Tourism Board 
"2007 " Pembangunan Pelindo II dan Pembangunan Prasarana 
"2008" Regatta 
"2009" Revisi Master Plan 
"2010" Pemantapan Pelaksanaan "Event" sepanjang tahun 

Wassalaamu'alaikum W W.
Darul Makmur

----- Original Message ----- 
From: "Tanjuang Heri" 
To: 

Sent: Tuesday, October 11, 2005 6:11 AM
Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] Strategi pemerintah terhadap kebijakan pariwisata


Mak Darul nan ambo hormati,

Komentar se snek! Sajak 2x bom di Bali, ambo sabananyo alah skeptik bana jo 
perkembangan pariwisata di Ina. Bali mungkin bisa maju taruih pariwisatanyo. 
Bali memang alah tanamo. Ndak mungkin teroris nan maapuihan Bali dari peta 
pariwisata dunia do. Kecuali kalau urang Bali putuih aso!

Tapi di daerah lain, tarutamo Ranah Minang, walau alamnyo ndak kalah dari Bali, 
tapi segi adaik jo ugamo ndak mungkin se rasonyo pariwisata bakambang di nagari 
awak. Nak jungkia baliak lah pelaku wisata mangambangkannyo, pasti jalan 
ditampek se nyo pariwisata Ranah Minang ko.

Baa co itu pesimis bana ambo? Jangankan segi keamanan wisatawan nan dibaco, 
segi kenyamanan sae antah barantahnyo! kekangan adaik jo ugamo nan bakalabiahan 
bana jadi penghalangnyo. Nampaknyo urang awak ndak amuah baraja ka urang lain. 
Mesir, pariwisatanyo lumayan rancak, negara islam pulo lai. Dubai, di 
semananjung Arab pulo, kok bisa inyo punyo pantai tampek bajamua si bule? Baa 
kok bisa inyo mangambangkan pariwisata? Di pantai Padang jo piaman ka dibuek co 
itu? alun lai nampaknyo do. Salain dana, kesiapan masyarakaik awak ndak mungkin 
ado rasonyo! Program pengentasan pekat di Padang bakalabiahan bana tanpa adonyo 
bimbingan, pengarahan. 

Contoh lain, Turki, Maroko nan punyo adaik jo ugamo hampia samo jo awak, baa 
kok inyo maju pariwisatanyo?

Sakitu se dulu Mak Darul, 

heri


Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
____________________________________________________


                
---------------------------------
 Appel audio GRATUIT partout dans le monde avec le nouveau Yahoo! Messenger
 Téléchargez le ici !  
Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
____________________________________________________

Kirim email ke