Syafrinal Syarien wrote: >Apakah Anda menyatakan Syiah itu kafir dan sesat? Kalau demikian Anda berarti >menuduh Imam Khomeini dan para Mullah lainnya di Iran sebagai orang sesat juga. > Allah 'Azza wa Jalla berfirman (yang artinya):
"Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali." (QS. an-Nisaa' 4:115) Wallahi, jika seseorang menganut keyakinan yang di antaranya ia mencela dan memusuhi para shahabat sedangkan ia mengetahui bahwa para shahabat dipuji oleh Allah dan Rasul-Nya, maka ia adalah orang yang tersesat. Belum lagi jika kita lihat masalah prinsip Bada', Raj'ah dan lainnya. Tidakkah Bapak melihat bahwa antara Islam dan Syi'ah sangat jauh berbeda dalam hal-hal yang prinsip? Berikut contoh perkataan Khomeini yang Bapak bela itu: Khomeini berkata: “Sesungguhnya dengan penuh keberanian aku katakan bahwa jutaan masyarakat Iran di masa sekarang lebih utama dari masyarakat Hijaz (Makkah dan Madinah, pen) di masa Rasulullah , dan lebih utama dari masyarakat Kufah dan Iraq di masa Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib) dan Husein bin ‘Ali.” (Al-Washiyyah Al-Ilahiyyah, hal. 16, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, hal. 192) Khomeini berkata: “Kami bangga bahwa para imam kami adalah para imam yang ma’shum, mulai ‘Ali bin Abu Thalib hingga Penyelamat Umat manusia Al-Imam Al-Mahdi, sang penguasa zaman -baginya dan bagi nenek moyangnya beribu-ribu penghormatan dan salam- yang dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa, ia hidup (pada saat ini) seraya mengawasi perkara-perkara yang ada.” (Al-Washiyyah Al-Ilahiyyah, hal. 5, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/192) Para imam ahlus sunnah bersikap keras terhadap mereka. Berikut saya nukilkan beberapa perkataan para imam ahlus sunnah: Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri ketika ditanya tentang seorang yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar, beliau berkata: “Ia telah kafir kepada Allah.” Kemudian ditanya: “Apakah kita menshalatinya (bila meninggal dunia)?” Beliau berkata: “Tidak, tiada kehormatan (baginya)….” (Siyar A’lamin Nubala, 7/253) Al-Imam Malik ketika ditanya tentang orang-orang Rafidhah beliau berkata: "Jangan kamu berbincang dengan mereka dan jangan pula meriwayatkan dari mereka, karena sungguh mereka itu selalu berdusta." Al-Imam Asy-Syafi'i juga berkata: "Jangan kamu shalat di belakang seorang Rafidhi (Syi'ah), atau di belakang Qadari ataupun di belakang Murji-i." Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku tidak melihat dia (orang yang mencela Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Aisyah) itu orang Islam.” (As-Sunnah, 1/493, karya Al-Khallal) Al-Imam Al-Bukhari berkata: “Bagiku sama saja apakah aku shalat di belakang Jahmi, dan Rafidhi atau di belakang Yahudi dan Nashara (yakni sama-sama tidak boleh -red). Mereka tidak boleh diberi salam, tidak dikunjungi ketika sakit, tidak dinikahkan, tidak dijadikan saksi, dan tidak dimakan sembelihan mereka.” (Khalqu Af’alil ‘Ibad, hal. 125) Al-Imam Abu Zur’ah Ar-Razi berkata: “Jika engkau melihat orang yang mencela salah satu dari shahabat Rasulullah , maka ketahuilah bahwa ia seorang zindiq. Yang demikian itu karena Rasul bagi kita haq, dan Al Qur’an haq, dan sesungguhnya yang menyampaikan Al Qur’an dan As Sunnah adalah para shahabat Rasulullah . Sungguh mereka mencela para saksi kita (para shahabat) dengan tujuan untuk meniadakan Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka (Rafidhah) lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah zanadiqah.” (Al-Kifayah, hal. 49, karya Al-Khathib Al-Baghdadi) Lihat: http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=142 Apakah para imam itu mengambil otoritas Allah? >Jika Anda mengklaim orang lain sesat dengan penafsiran yang Anda anut, maka >berarti Anda mencoba mengambil otoritas yang ada di tangan Tuhan. > > Yang menyatakan sesat bukanlah hawa nafsu saya pribadi namun mereka telah menyelisihi agama ini jauh sekali. Jangan dipahami bahwa saya menyesatkan semua orang yang berbeda pendapat dengan saya. Anggapan serupa itu adalah generalisasi yang naif. Tentang kemuliaan shahabat, Allah 'Azza wa Jalla telah memuji mereka dalam firman-Nya (yang artinya): "Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia." (QS. al-Anfaal 8:74) "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar." (QS. at-Taubah 9:100) Apa yang Bapak katakan terhadap orang yang menentang ayat-ayat tersebut? Saya cukup yakin Bapak termasuk yang menganggap pemahaman yang membolehkan orang membom sesuka hatinya adalah pemahaman yang sesat. Saya juga menolak pemahaman Khawarij seperti itu. Apakah lantas Bapak mengambil otoritas Allah? Justru Bapak yang dengan mudah menuduh orang lain mengambil otoritas Tuhan karena menyelisihi prinsip yang Bapak pegang. Tunjukkanlah bukti jika ingin membela prinsip itu. Betapa enteng Bapak membiarkan pemahaman orang lain namun dengan keras mencela orang yang menyelisihi prinsip Bapak. Dengan kata lain, Bapak lebih rela Rasulullah dan para shahabat beliau dicela ketimbang prinsip Bapak diselisihi. "Terangkanlah kepadaku dengan berdasar pengetahuan jika kamu memang orang-orang yang benar" (QS. al-An'aam 6:143) Dengan tuduhan itu sama saja menuduh sesat. Bahkan berarti Bapak juga menuduh sesat para ulama ahlus sunnah yang menyatakan sestanya Syi'ah. Berarti dapat saya katakan lagi bahwa Bapak ingin mengambil otoritas Allah? Sekian dari saya. Mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan. Hanya kepada Allah-lah kita memohon petunjuk. Allahu Ta'ala a'lam. Wassalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh, -- Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim (l. 1980M/1400H) Website http://www.rantaunet.org _____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ____________________________________________________

