Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh, Ambo dek alun dapek lai, baa Rasul dan sahabat beliau menjalankan puaso dan lebaran, nampaknyo kini alah agak manyimpang dari sunnah (mungkin). Wassalam, syb.
Updated, Jumat 21Oktober 2005 Demi Lebaran, Selimut Digadaikan PADANG - Krisis ekonomi yang diperparah kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) semakin menyulitkan kehidupan masyarakat bawah. Untuk memenuhi kebutuhan lebaran, apapun dilakukan, termasuk menggadaikan selimut dan seprei. Adakalanya uang yang diperoleh tidak mencukupi membeli sepatu dan baju baru anak, namun hal itu tetap dilakukan. Belum lagi buat membeli bahan kue dan sirup untuk menyambut kehadiran sanak keluarga yang datang berkunjung. Di Pariaman, misalnya, kantor Pegadaian setempat sejak beberapa pekan terakhir terjadi peningkatan pengunjung untuk menggadai. Tidak hanya perhiasan emas, mobil, sepeda motor dan alat-alat elektronik, bahkan ada yang menggadaikan kain panjang, seprei serta lainnya. Jumlah yang diterima dari Pegadaian beragam, mulai dari jutaan, sampai puluhan ribu. Itu memang memungkinkan. Sebab Pegadaian membuka layanan mulai dari Rp20 ribu sampai jutaan rupiah. Di Padang Panjang, menurut Kacab Pegadaian Nurita Susanti, jumlah orang yang datang untuk menggadai masih relatif kecil. Pihaknya baru menyalurkan Rp156,9 juta. Jumlah itu turun dibanding waktu sebelumnya yang mencapai Rp200 juta. Diakui Nurita, hingga pertengahan puasa banyak warga yang datang menggadai dan menjelang lebaran mereka menebusnya. Barang yang banyak digadaikan umumnya perhiasan, alat-alat rumah tangga dan lainnya. Di Payakumbuh Pegadaian sampai kemarin masih terlihat sepi. Kalaupun ada warga yang datang, jumlahnya belum sebanyak tahun lalu. "Mungkin sepekan menjelang lebaran akan meningkat, " kata Rujadi Kacab Pegadaian setempat. Sama dengan daerah lain, barang-barang yang digadaikan berupa perhiasan, alat-alat rumah tangga dan kendaraan bermotor. Di kota Bukittinggi, suasana Pegadaian juga masih sepi, padahal biasanya menjelang lebaran warga yang datang untuk menggadai ramai. Andra Djunaidy, S.E, Kacab Pegadaian Bukittinggi mengakui masih sepinya transaksi di kantornya dalam seminggu terakhir. Sementara sepekan sebelumnya jumlah warga yang memanfaatkan jasa Pengadaian cukup tinggi, bahkan pada September lalu jumlah transaksi di mencapai Rp2,074 miliar. Hingga pertengahan Oktober ini baru mencapai Rp964 juta. Di Padang, meski jumlah warga yang datang ke Pegadaian ada peningkatan, namun menurut Asisten Menejer Usaha Inti Kantor Pegadaian Wilayah Padang, Dwi Hadi Atmaka menjelaskan, Pegadaian memiliki empat segmentasi pasar bagi masyarakat, terdiri dari golongan A dengan pinjaman berkisar Rp40 ribu sampai Rp150 ribu, golongan B dengan pinjaman yang berkisar dari Rp151 ribu sampai Rp500 ribu, golongan C dengan pinjaman Rp505 ribu sampai Rp20 juta. Sedangkan golongan D dari Rp20 juta ke atas. "Kalau di ibukota provinsi rata-rata pinjamannya berkisar pada golongan B, C dan D. Sedangkan daerah kota kecil dan kabupaten masih terdapat pinjaman pada golongan A," sebutnya. Pada dasarnya peminjam terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari petani, pedagang, karyawan, ibu rumahtangga, sampai kontraktor. "Pada bulan Ramadan dan menjelang lebaran ini, para pedagang dan kontraktor yang kami kategorikan sebagai wiraswasta banyak yang melakukan pinjaman, karena untuk menambah stok mereka menyambut lebaran," jelasnya sambil menambahkan peminjam kategori ini mencapai 65 persen dibandingkan dengan kategori lainnya. Bahkan, mereka tidak segan-segan memberikan agunan berupa emas, sepeda motor bahkan mobil yang mereka miliki. "Setelah lebaran akan diambil kembali," tukasnya. o213/204/203/420/303 - Tim Website http://www.rantaunet.org _____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ____________________________________________________

