Ritus Budaya Warga Kota
Oleh Mohamad Sobary
Kampung yang jauh di mata itu besar pesonanya. Ia memanggil-manggil
kita pulang. Dan, panggilannya mungkin lebih sentimentil daripada
rasionil. Dan, karena itu pula, perhitungan rasional kaum modern yang
menimbang untung rugi dari segi ekonomis, tak berlaku lagi.
Tidak juga ejekan bahwa mudik itu budaya para pembantu. Pembantu atau
bukan, tiap lebaran mesti mudik. Artinya, kita selalu kembali ke udik,
ke asal usul kita. Udik itu jauh dari kota. Letaknya mungkin di kaki
sebuah gunung. Mungkin di seberang sungai tanpa jembatan. Kendaraan
tak mampu menembus ke sana. Kita mungkin harus berjalan kaki sambil
menggotong koper besar, yang penuh simbol kemajuan dan citra sukses di
Jakarta. Atau di kota besar lainnya.
Orang pun bilang, mudik itu sentimen primordial. Kita dianggap belum
menaruh sentimen kita kepada perkara-perkara lebih besar, lebih luas,
lebih universal. Kita masih terpojok atau memojokkan diri di suatu
gugusan budaya setempat, yang sempit dan khusus. Tapi, kita masih tak
juga peduli. Apa pun kata orang tentang kita, ibaratnya anjing boleh
menggonggong dan kafilah akan tetap lalu. Kafilah jalan terus. Bagi
kita, mudik ya mudik. Dan, cuma itu. Artinya mudik tak ada hubungan
dengan kalkukasi ekonomi. Hidup menggelinding begitu saja.
Siapa bilang kita tak boleh sesekali --atau setahun sekali saja--
mentraktir diri sendiri, berfoya-foya dan melupakan apa yang disebut
ekonomi, finansial dan penghematan? Memangnya kalau sudah menghemat
dan hidup dengan kalkulasi ekonomi, rakyat dijamin menjadi
konglomerat? Siapa yang menjamin? Orang lupa, para pemudik --rata-rata
kelas menengah bawah dan kelas bawah, mungkin malah bawahnya bawah--
adalah kelompok-kelompok yang secara ekonomis masih runyam. Mereka
mudah pusing diajak bicara ekonomi. Juga jika diajak menabung, masuk
asuransi, atau hal-hal rasional yang menjadi masa depan lebih baik.
Mereka yang bicara masa depan mungkin kelompok yang hidup ekonominya
sekarang enak, relatif mapan, dan urusannya dengan begitu tak terpusat
pada upaya memenuhi tuntutan perut. Para pemudik kita, mungkin,
kelompok yang hidup sehari-harinya masih direpotkan oleh tuntutan
memenuhi kebutuhan perut tadi.
Mudik, yang merupakan pemborosan, tak dilihat dari segi pemborosan.
Mudik malah menjadi sejenis pembebasan. Mudik memberi mereka
kesempatan melupakan kerunyaman-kerunyaman ekonomis yang di kota, di
tempat kerja yang rusuh, dan menekan menjadi tekanan utama. Maka,
munculnya momentum budaya untuk melupakannya, sambil sekaligus
dibumbui makna-makna sosio-religius yang begitu penting, jelas
disambut dengan gegap gempita.
Begitu gegap gempita mereka menyambut momentum itu, hingga rela mereka
menginap di stasiun, di terminal bus, atau berdesak-desakan di kereta
api atau di dalam bus yang kelewat banyak takaran penumpangnya. Banyak
hal tak rasionil di sana.
Bukan cuma tak rasionil dilihat dari perhitungan ekonomi kota yang
maju, dan modern, tapi juga dari segi keamanan. Bus yang sarat
penumpang digasak saja --oleh sopir yang ingin mengeduk untung
berganda-- maupun oleh para penumpang yang cuma melihat ke satu titik,
mudik, mudik, dan cuma mudik. Perkara keamanan dihitung kelak, kalau
itu sungguh sudah menjadi problem nyata.
Kali, sawah, bukit, gunung tegalan pohon mangga, pohon jeruk, pohon
jambu, dan sekolah, masjid tua, surau kecil, balai desa, jalan baru,
gardu baru, puskesmas atau .. atau teman lama, orang tua, nenek,
kakek, paman, pak carik, pak lurah, semua menggumpal dalam ingatan dan
daya tarik mereka --sekali lagi-- kuat. Kepada mereka gairah tertuju.
Dan bahwa demi mereka keselamatan di jalan lupa diperhitungkan.
Apa yang lebih menjadi perhitungan?
Mungkin gairah kembali ke masa lalu. Masa lalu itu mungkin pedih. Dan
mungkin, sepedih apapun derita mereka di kota, dibanding masa lalu
masih tetap lebih baik sekarang. Karena itu masa lalu menjadi indah.
Dan kita sekarang diam-diam bersyukur atas karunia itu.
Masa lalu dikenang, mungkin juga karena indahnya hidup sebagai bocah.
Waktu itu belum ada tanggungjawab, belum ada keharusan ini dan itu
seperti sekarang. Maka keruwetan sehari-hari di kota, bisa ditutup
oleh kenangan akan masa bocah. Indahnya menyemplung di kali, tantangan
mencuri mangga, dan aneka macam kekonyolan sejenis itu.
Motivasi mudik bisa lebih penting, lebih dalam, dan lebih mendasar dan
dugaan-dugaan ini. Motivasi psikologis di balik hiruk-pikuk mudik
mungkin masih banyak yang belum terungkap. Penelitian belum pernah
diadakan. Kita tidak tahu apa persisnya.
Mungkin cuma para pemudik yang tahu. Tapi tak ada juga jaminan bahwa
mereka paham apa yang mereka lakukan. Motivasi bisa mengetuk begitu
saja alam bawah sadar kita. Ketukan itu tak usah dijelaskan panjang
lebar, karena bukankah ketika sudah menggejala sudah menjadi tradisi,
semuanya sudah tampak dan orang pun puas melihat sekedar apa yang
tampak? Dan bukankah sering terjadi, banyak tindakan sosial yang tak
kita pahami, meskipun kita terlibat di dalamnya, bahkan kita aktor
utamanya?
Gagasan mengenai sentimen primordial dan ejekan lain pun lalu terasa
tak relevan. Mudik, dengan begitu, tak ada hubungan dengan sentimen
ini dan itu. Kita, sekali lagi, cuma mudik karena mudik menjadi sebuah
keharusan budaya. Mudik --tak usah dianalisis statusnya-- sudah
menjadi sebuah ritus penting: ritus kebudayaan bagi warga kota yang
sumpek, yang longgar, yang sudah, yang senang atau yang hidup anatara
longgar dan sumpek dan antara susah dan senang.
Dan ritus, yang berarti memberi kesempatan menemukan kembali keutuhan
diri, kelengkapan elemen hidup yang lama terlupakan, lalu sukar
diabaikan. Biaya sosial ekonomisnya mungkin besar. Tapi manfaat
sosialnya mungkin juga besar.
Tapi, sekali lagi, perhitungan untung-rugi itu tak menjadi faktor
penting. Kita, para pemudik, cuma hendak menghindarkan diri dari corak
hidup kota yang mekanistik, rutin, dan menekan. Mudik memang memberi
kita tekanan yang lain. Dan mudik membentuk wajah kerutinan baru. Tapi
tekanan dan aneka kerutinan baru itu --barangkali lantaran barunya--
memberi kita gairah. Kita merasa berhadapan dengan tantangan. Dan kita
tak mau kalah.
Bahkan andaikata kalahpun, kita masih sempat memetik rasa bahagia.
Ritus sudah kita tempuh. Keharusan hidup lengkap telah dicoba
dipenuhi. Pemenuhan itu mungkin membawa kelegaan. Jadi, kita bisa
lega, setidaknya setahun sekali saat mudik, mudik, dan mudik itu.
().
Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
____________________________________________________