Untuk bacaan disaat palanta sadang sepi, dek urang iyo alah barondoh pondoh
mudiak.


----- Original Message -----
From: "Christovita Wiloto" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, October 28, 2005 5:07 PM
Subject: [marketing_leadership-club] Lebaran, Rekonsiliasi Bangsa


Bisnis Indonesia
Minggu, 30-Oktober-2005


Lebaran, Rekonsiliasi Bangsa

Oleh Christovita Wiloto
Managing Partner PowerPR
www.wiloto.com


Tidak terasa beberapa hari lagi Lebaran akan tiba. Walau langit tetap saja
biru dan awan tetap saja putih, tidak berubah. Namun, Lebaran selalu
disambut dengan sukacita. Biarpun harga BBM tinggi, biaya transpor mudik
melambung tinggi, tetap saja jutaan orang bergerak hiruk pikuk dari tempat
tinggalnya masing-masing menuju kampung halamannya.
Walau hampir semua harga barang-barang melambung tinggi, termasuk sembako,
tetap saja baju baru dibeli, serta kue-kue dan berbagai macam hidangan
disiapkan. Kalau perlu tabungan hasil kerja setahun dikerahkan untuk
membiayai hari penuh bahagia dan syukur itu. Karena setahun sekali seluruh
keluarga dan sanak saudara berkumpul dalam suasana penuh kedamaian, saling
memaafkan.

Bagi para pengusaha, walaupun berbagai biaya naik tinggi, tetap saja
tunjangan hari raya alias THR hukumnya wajib dibayarkan karena itu adalah
hak seluruh karyawan, apalagi dalam kondisi ekonomi sulit saat ini,
kehadiran THR sangat berarti. THR inilah salah satu sumber yang masih bisa
menutupi cash flow seluruh rakyat yang saat ini semakin cekak.

Lebaran adalah tradisi mulia, saat dimana setiap orang saling memaafkan,
saat terjadinya rekonsiliasi individu. Inilah yang membedakan kita dari
bangsa-bangsa lain. Ketika bangsa-bangsa lain sangat individualis, hubungan
kekerabatan kita masih sangat kuat.

Mudik merupakan fenomena mulia. Hubungan anak dengan orang tua atau orang
yang dituakan sangatlah penting. Demikian juga hubungan sesama saudara
sekandung dan kerabat, sangat berarti. Berkumpulnya semua sanak keluarga
sebagai upaya kembali berkonsolidasi, memperbaiki komunikasi.

Bagaimana dengan para pejabat? Nah Lebaran juga merupakan kesempatan untuk
bersilahturahmi dengan seluruh jajaran bawahannya, lingkungan sekitarnya,
baik sesama pejabat, juga dengan semua stakeholder lainnya. Pintu rumah pun
dibuka, open house siapapun yang datang akan disambut dan dijamu dengan
penuh sukacita.

Walau kini menerima parsel coba dihindari oleh para pejabat, namun tetap
ucapan selamat dari semua stakeholder menjadi sesuatu yang memberi motivasi
untuk berkarya dengan lebih baik lagi.

Rekonsiliasi nasional

Lahir kembali sebagai pribadi yang lebih bersih merupakan hakikat yang
hakiki dari Lebaran. Jika kita dapat mengelola dengan baik, maka Lebaran
dapat digunakan sebagai momentum pertobatan nasional.

Pertobatan nasional ini dalam berupa meningkatkan good governance sehingga
setidak-tidaknya dapat mengurangi peringkat Indonesia sebagai salah satu
negara terkorup di dunia.

Di bidang keamanan, pertobatan nasional juga setidak-tidaknya dapat
mengurangi gencarnya jumlah bom yang meledak dan selalu misterius alias
tidak pernah tuntas terungkap itu.

Juga dapat mengurangi jumlah pengerusakan massa terhadap berbagai jenis
gedung-gedung, yang antara lain kantor-kantor RT dan RW yang marak pasca-
dana subsidi BBM.

Pendeknya dapat membuat kinerja bangsa ini lebih positif dan produktif.
Selain itu budaya maaf memaafkan yang juga terintegrasi dalam Lebaran, juga
dapat dikelola sebagai momentum rekonsiliasi nasional.

Rekonsiliasi nasional setidaknya dapat menciptakan berbagai perdamaian di
berbagai titik konflik yang selama ini memanas. Selain itu juga dapat
membuat rekonsiliasi antarelite politik bangsa, agar mengurangi bahkan jika
mungkin berdamai, dan tidak lagi meneruskan intrik-intrik yang kurang
positif dan kontra produktif.

Di tingkat hegomoni ekonomi Indonesia, setidak-tidaknya kekuatan-kekuatan
ekonomi yang selama ini saling bersaing dan menjatuhkan. Akan dapat
melakukan rekonsiliasi ekonomi, sehingga daripada saling "pukul" lebih baik
bersinergi menciptakan Indonesia Incorporated yang bersatu dan kuat untuk
maju memenangkan persaingan global.

Demikian pula di tataran sosial, antarmasyarakat dapat melakukan
rekonsiliasi, sehingga hubungan menjadi lebih harmonis.

Budaya bersilaturahmi yang ada dimasyarakat dapat ditiru oleh para elite
bangsa untuk memperbaiki hubungan lahir batin dalam tataran yang lebih
tinggi.

Maaf memaafkan, memupus kebencian dan kemarahan merupakan hal positif
Lebaran yang perlu dikembangkan juga secara nasional.

Kita semua bisa melakukan hal ini. Jika pemerintah tergerak untuk
melakukannya, tentu hasilnya akan lebih signifikan.

Jadikan Lebaran sebagai momentum konsolidasi dan rekonsiliasi nasional utk
bersama melangkah mencapai Indonesia Raya.

Selamat Idul Fitri, maaf lahir dan batin.





Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
____________________________________________________

Kirim email ke