MakNgah,
Ambo raso indak salah fokus, tapi memang malaweh
pokuih-e. Sabalun-e, pokuih-e tu saujuang kuku, kini
batambah jadi salaweh nyiru. (Tapi nyiru hampia indak
ado kini dijua urang di pasa lai, dek karano bareh
kini alah rancak, indak ado dadak jo atah doh).
Kembali ke masalah sayap lalat (pakai bahaso Indonesia
bia ndak paniang manulih-e).
Saya tidak mengatakan bahwa hadits tsb sahih atau
palsu. Namun mari kita coba melihat
kemungkinan-kemungkinan kenapa disuruh membenamkan
lalat tsb ke dalam air sampai kedua sayapnya terendam
ke dalamnya.
Kemungkinan #1:
Pesan utamanya adalah: lalat itu harus dibunuh. Dan
cara yang paling efektif adalah dengan membenamkan
kedua sayapnya sehingga dia tidak bisa terbang lagi.
Setelah itu Anda bisa mengeluarkan lalat tsb,
membunuhnya lalu buang.
Kemungkinan #2:
Pesan utamanya adalah: kita harus berhemat air. Jangan
gara-gara seekor lalat lalu rusak susu sebelanga.
Artinya kuman yang dibawa lalat itu bisa diabaikan.
Oleh karena itu air yang tercemplungi lalat tsb tidak
perlu dibuang. Cukup benamkan saja lalat itu secara
sempurna, lalu airnya bisa digunakan lagi
Kemungkinan #3:
Membenamkan lalat adalah kebiasaan orang Arab pada
jaman itu. Dan ini mungkin juga dalam rangka menghemat
air tadi.
Kemungkinan #4:
Kata "lalat" di dalam hadits tsb penafsirannya tidak
sama dengan kata "lalat" yang dipahami sekarang. Perlu
diketahui setiap bahasa mengalami pergeseran makna
seiring dengan waktu. Dan 1400 tahun adalah waktu yang
sangat cukup untuk menggeserkan makna satu kata. Saya
kadang heran kenapa ayahanda Nabi bernama Abdullah
(Hamba Allah)? Apakah kata "Allah" tersebut telah ada
di Arab sebelum Islam dibawa Nabi SAW? Kalau sudah
ada, apakah maknanya sama dengan kata "Allah" yang
tercantum dalam Alquran?
Kemungkinan #5:
Di antara kedua sayap lalat tersebut ada yang
mengandung khasiat untuk membasmi/menetralisir kuman.
Masalahnya adalah sebagian besar di antara kita hanya
melihat satu kemungkinan saja dari 5 kemungkinan di
atas. Dan paling banyak mematok keyakinan di
kemungkinan #5. Kenapa kita susah sekali untuk
menganalisis dan menerima kemungkinan lain?
Sementara itu, kemungkinan #5 membawa dampak ilmiah
yang cukup besar jika saja para penganutnya mau
berpikir lebih jauh untuk kemaslahatan manusia. Siapa
tahu di sayap lalat tsb terdapat penetralisir racun
yang bisa mencegah penyakit yang disebabkan lalat spt
diare, disentri. Atau mungkin juga HIV, Kanker, dsb.
Demikian saja, bukan maksud saya untuk menolak atau
menafikan suatu hadits, karena saya tak punya cukup
ilmu untuk itu. Namun saya coba untuk menggugah Anda
untuk berpikir lebih jauh. Tak perlu tunduk atas satu
penafsiran seorang ulama karena ulama lain juga punya
penafsiran yang layak disimak. Terserah mana yang
akhirnya Anda pilih.
Wassalam.
--- Sjamsir Sjarif <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Sahihnyo katigo hadis tu kalau MakNgah edit ka Caro
> Awak:
> "Tutuiklah pariuak dan tampek makanan.
> Jan dipadia rangik lalek atau mancik masuak makanan.
> Kok mati rangik lalek dalam minuman banamkan kasado
> alahe."
>
__________________________________
Yahoo! Mail - PC Magazine Editors' Choice 2005
http://mail.yahoo.com
Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
____________________________________________________