Assalamua'alaikumwarahmatullaahiwabarakaatuhu.
Selamat hari Raya Idul Fitri, 1426 H.
Taqabbalallaahuminnaawaminkum, taqabbalallaahu ta'alaa
yaa kariim, kullu sanatin waantum thayyibuun,
'aamussa'iid fi 'aidil almubaarakaati.
Mohon maaf lahir dan bathin, bila ada kesalahan
sengaja ataupun tidak disengaja. Dan mohon maaf bila
ada email baik di japri ataupun jalum yang tidak
sempat saya balas sampai saat ini.
Sehari sebelum lebaran, tepatnya menjelang berbuka
puasa saya dan beberapa pengurus Dharma wanita di
Kairo melakukan kunjungan kepanti asuhan anak yatim
piatu "Ummu Kultsum". memberikan bantuan baik duit,
makanan ataupun pakaian-pakaian buat anak-anak yatim
piatu tersebut.(maaf kisah ini bukan maksud riya,
naudzubillahimindzalik)
Banyak pelajaran yang saya ambil dari kunjungan
tersebut. Salah satunya bagaimana cara mendidik anak
yatim piatu sehingga mereka kelak setelah berumur
maksimal 18 tahun bisa skill dalam beberapa
hal(mandiri), dan juga saya banyak manfaat dari
management yayasan tersebut.
Besoknya lebaran seharian penuh kita halal bihalal
sesama masyarakat di Mesir, sorenya Bapak Dubes "open
house". Hari kedua Bapak DCM yang open house, malamnya
saya sibuk menyiapkan makanan untuk besok dirumah
karena hari ketiga saya "open house".
Lebaran di Kairo, orang biasa "open house", siapa saja
boleh datang kerumah kita, yang dikenal ataupun tidak
dikenal, dan biasanya kita menyiapkan makanan ringan
seperti kue-kue ringan kacang tojin, kue bawang,
nastar, dllnya banyaklah, juga makanan berat dan ini
yang terpenting, berbagai macam disediakan, mulai dari
gulai, rendang, bakso, soto, sayuran, dan banyaklah,
tetapi tidak semua keluarga open house ini,
tergantung, kalau keluar kota atau sibuk biasanya
tidak open house.
Hari keempat, siangnya saya bersama suami dan
anak-anak keluar kota. Kami Port Said (sekitar 200 km
dari kota Kairo), juga menyeberang kelaut tengah
dengan kapal Feri ke benua Asia(Port Fuad).
Negara Mesir terdiri dari dua bagian benua, Mesir
termasuk bagian dari Benua Afrika(Kairo, Ghiza dan
sekitarnya), juga bagian dari benua Asia(Sinai kearah
Arish dekat bukit Thursina, tempat nabi Musa munajat
dengan Allah Ta'ala dan sekitarnya).
Banyak dintara keluarga dikedutaan pergi ke Luxor. Ada
juga yang ke Hurghada. Alhamdulillah kami sekeluarga
sudah mengunjungi kota tersebut, dan sudah mengunjungi
hampir keseluruhan kota-kota Mesir yang bersejarah
baik sejarah Islam maupun sejarah Fir'aunnya, jadi
pilihan kami cari kota yang tidak terlalu jauh saja.
Jatuhlah pilihan ke kota Port Said itu, karena ada
niatan belanja pakaian musim dingin sekaligus, karena
kota Port said`adalah kota pelabuhan dan kota
perdagangan bebas, duty free, barang-barang disana
jauh lebih murah dibandingkan dengan kota Kairo.
Kami menginap di hotel selama tiga malam empat hari.
Ingin dilanjutkan perjalanan ke Ismailiyah, tetapi
sayangnya suami dapat panggilan telpon bahwa pak Dubes
ada acara dan beliau harus bertugas, sementara saya
sendiri dapat SMS dari teman di Kairo, ada rapat
penting pengurus Dharma Wanita dalam sekian banyak
kegiatan bulan Nofember ini, maka terpaksa kami
buru-buru melajukan mobil, dengan suami menyetir
kecepatan cukup tinggi buat saya empotan jantung, mau
diapakan dalam jangka 4 jam beliau sudah harus nyampai
di Kedutaan di Kairo.
Alhamdulillah sampai juga, walaupun sampai dirumah
sudah ngak tahan perut keroncongan minta diisi,
syukurnya kedai tempat jualan nasi dan lauk pauk dekat
dari rumah, jadi tinggal pesan saja.
Malam selesai beres-beres rumah, saya buka komputer,
lihat email, lumayan banyak. Ada berapa hal yang ingin
saya tanggapi.
Pertama, mengenai "ma'azif", yang ditanyakan pada
saya, apa artinya.
" Ma'azif" itu adalah alat musik yang melenakan
sipemainnya dengan keasyikan dengan alat tersebut.Dan
ini alat yang tidak dibolehkan oleh Rasulullah
Shallaallahu'alaihi wasallam,dalam hadist tersebut
"Addub"(apalah istilah Indonesianya), contohnya
seperti alat gendang rebana itu.an ini dibolehkan,
karena ketika itu Rasulullah membiarkan para wanita
bermain alat tersebut dihari lebaran.
Dalil-dalil mengenai hal ini, saya kira sudah cukup
banyak disampaikan oleh dik Ridha.
Kalau pribadi saya ditanya, bagaimana dengan musik
nasyid? Saya jawab, lihat dulu nasyid semacam apa?
Apakah nasyid yang membuat orang terlena untuk
mengingat Allah?
Satu hal, ada yang mengatakan ia bisa mengingat Allah
dengan lagu nasyid? Mungkin yang dimaksudkan adalah
kata-katanya(sya'irnya). Apa salahnya, namun apakah
tidak lebih baik kalau kita membaca AlQuran atau
mendengarkan AlQuran, saya kira hal ini jauh lebih
baik dan dapat pahala.Dan ini bukan berarti kita ngak
boleh mendengarkan nasyid dengan sya'ir-yang baik,
boleh saja.
Terkadang dirumah saya sendiri, ada acara televisi
nyanyian nasyid Arabiyah, saya dengarkan sebatas saya
hanya ingin tahu sya'irnya saja,karena saya tahu
sastra Arab sangat tinggi terutama bila dibawakan
melalui puisi atau nyanyian, disanalah saya banyak
mendapatkan kata-kata Arab yang ganjil-ganjil itu.
Begitupun dengan menonton "musalsal"(sinetron),
disanalah saya mendapatkan banyak kosakata Arab itu
sendiri, yang terkadang tidak saya dapatkan dalam
buku-buku pelajaran saya.Tetapi saya tidak terlena
dengan acara televisi tersebut, saya mendengarkannya
sambil mengerjakan pekerjaan rumah lainnya seperti
menyapu rumah, kasih makan anak, menggosok dan
sebagainya.
Saya justru lebih sering membuka channel AlQuran, itu
ternyata jauh lebih menenangkan hati dan memberikan
semangat diri untuk mengulang hafalan AlQuran kita
kembali. Dan saya tetap membuka channel Al
Jaziirah(berita), acara Barat dan Eropah, hanya
sepintas saja, karena bahasa Inggrisnya saja,
sekaligus melihat perkembangan di Barat dan Eropah
sana bagaimana. Jadi dunia luarpun dapat kita ketahui.
Tidak dunia Islam saja, diluar islam juga perlu kita
ketahui sebagai bahan perbandingan saja.
Dan setiap saya menonton, tidak terfokus mata dan
pikiran pada menonton saja, saya ngak mau waktu saya
habis disana saja, terasa merugi kalau cuman menonton
itu saja, padahal waktu itu bagaikan pedang, bila kamu
tidak bisa cepat menebasnya , pedang itulah yang akan
menebas kamu, yaitu waktu itu akan habis begitu saja
tanpa ada manfaatnya sama sekali.
Kedua : Mengenai Bid'ah. Sebaimana hadist Rasulullah
: " Kullu bid'ah dhalalaalah wakullu dhalaalah
finnaar" . Tidak semua yang tidak pernah dilakukan
oleh Rasulullah atau para sahabatnya dikatakan bid'ah.
Lihat-lihat amalannya. Kalau saja amalan itu diniatkan
atau di tujukan untuk ibadah kepada Allah bukan
muamalat bainannaas(sesama manusia), padahal ibadah
yang ditujukan kepada Allah tersebut tidak ada
dilakukan oleh Rasulullah ataupun para sahabat, jelas
hal ini bid'ah. "Shadaqallaahuladziim", yang biasa
kita ucapkan disaat selesai membaca AlQuran, saya
sempat mendengarkan fatwa dari ulama Saudi(maaf lupa
namanya, karena ditelevisi saya dengarkan), beliau
mengatakan kalau kata : "Shadaqallahuladziim" ini kita
niatkan suatu ibadah kepada Allah dan harus
mengucapkan kata ini, maka bid'ah, karena Rasulullah
tidak pernah melakukannya.
Sementara bila hal tersebut diniatkan sebagai penutup
saja, tidak apa-apa.(Maha benar Allah dengan segala
firmannya, ini terjemahan bebas dalam bahasa
Indonesianya).
Dan ada beberapa hal lain yang tidak sempat saya
tanggapi, saya cukupkan sampai disini dulu, sudah
larut malam.
Wassalamu'alaikumwarhmatullahiwabarakaatuhu.
Rahima.
__________________________________
Yahoo! Mail - PC Magazine Editors' Choice 2005
http://mail.yahoo.com
Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
____________________________________________________