Gelar Pahlawan Nasional buat Bagindo Aziz Chan 

Rabu, 09 November 2005. Media Indonesia
 LEBARAN 1 Syawal 1426 Hijriah menjadi momen kemenangan ganda bagi warga
Kota Padang. Setelah berjuang melawan hawa nafsu selama Ramadan, masih dalam
suasana Lebaran, umat Islam di ibu kota Sumatra Barat (Sumbar) itu mendapat
kabar gembira dari Istana Negara Jakarta.

Pemerintah menetapkan mantan Wali Kota Padang di zaman perjuangan, Bagindo
Azis Chan, sebagai Pahlawan Nasional. Kontan saja, kabar itu disambut haru
dan rasa syukur tidak saja oleh keluarga Azis Chan, tapi juga warga Kota
Padang. Kemenangan usai menunaikan ibadah Ramadan pun makin terasa lengkap.

Hari ini, tepat sehari sebelum bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan,
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan menyerahkan surat ketetapan
presiden kepada keluarga Bagindo Azis Chan dan Wali Kota Padang Fauzi Bahar.

Sejak kemarin, keluarga Bagindo Aziz Chan bersama Fauzi didampingi Gubernur
Sumbar Gamawan Fauzi berada di Jakarta untuk menghadiri penganugerahan gelar
Pahlawan Nasional. Sementara itu, di Padang, warga dan pemerintah kota juga
bersiap menyambut penganugerahan itu secara meriah.

"Begitu mendarat di Bandara Minangkabau besok sore (hari ini), kita akan
arak keluarga Azis Chan hingga ke kediaman wali kota. Setelah itu, pada
Kamis (10/11), untuk memperingati Hari Pahlawan akan digelar napak tilas
perjuangan Bagindo Azis Chan di hutan sebelah timur Kota Padang," kata Humas
Pemerintah Kota Padang Surya Budhi kepada Media, kemarin.

Perjuangan 30 tahun

Budhi mengatakan perjuangan agar Azis Chan diangkat menjadi pahlawan untuk
menjadi teladan bagi generasi sekarang dimulai sejak zaman Wali Kota Padang
Hasan Basri Durin (1972-1982), dilanjutkan Syahrul Udjud dan Zuiyen Rais.

Usulan pengangkatan Bagindo Aziz Chan menjadi Pahlawan Nasional dikabulkan
pemerintah pusat setelah sekitar 30 tahun diperjuangkan oleh empat Wali Kota
Padang.

Azis Chan adalah Wali Kota Padang pada 1946-1947. Ia menggantikan pejabat
sebelumnya, Mr Abu Bakar Djaar. Putra Kuraitaji, Padang Pariaman, yang lahir
pada 30 September 1910 itu sebelumnya aktif dalam pergerakan kemerdekaan.
Azis pernah menjadi pengurus Jong Islamiten Bond yang didirikan Haji Agus
Salim merangkap guru di sekolah pergerakan.

Memang tidak sembarangan orang yang bisa menjadi pejabat di kala perjuangan
melawan penjajah itu. Menjadi pejabat harus siap memimpin perjuangan, siap
berhadapan dengan moncong senjata penjajah yang masih bernafsu menguasai
nusantara. Dan, perjuangan itu dikobarkan tanpa ada fasilitas khusus,
semisal mobil mengilap, pelesir ke luar negeri, apalagi dana taktis layaknya
pejabat zaman kini.

Azis Chan membuktikan diri sebagai pejabat pejuang. Ketika diangkat, tugas
utamanya mempertahankan eksistensi pemerintah RI di Padang secara de facto
maupun de jure. Azis menyanggupi itu. "Pengangkatan ini saya sambut dengan
Allahu Akbar, fiisabiilillah. Hanya Allah Yang Mahamengetahui," ujarnya
ketika itu.

Benar saja. Kolonel Sluyter, pemimpin tentara Belanda di Padang, yang
awalnya mengira kota tersebut sebagai kota aman dan adem, kecele.

Tentara Belanda berulang kali menjadi korban serangan gerilyawan yang hanya
punya granat tangan dan senjata seadanya.

Tepat 17 Agustus 1946, Azis Chan dengan terang-terangan memimpin peringatan
ulang tahun pertama kemerdekaan RI serta mendirikan tugu peringatan di depan
kantor Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Sumbar.

Ia juga dengan tegas menolak batas garis demarkasi yang ditetapkan Belanda
sebagai akibat Perjanjian Linggardjati. "Belanda harus melangkahi mayat saya
sebelum meneruskan niatnya menguasai Kota Padang," serunya lantang ketika
itu.

Belanda agaknya sependapat dengan Azis Chan. Pada 19 Juli 1947, dengan
alasan untuk menyelesaikan batas demarkasi, Azis diajak petinggi tentara
Belanda, Letkol Van Erp ke Simpang Kandis (sekarang Simpang Lapai), Padang.
Namun, sesampai di sana, Azis Chan dipukul dari arah belakang beberapa kali
hingga akhirnya meninggal. Azis Chan gugur. Di tempat darahnya tertumpah,
kini berdiri tugu berbentuk kepalan tangan atau yang dikenal dengan Tugu
Simpang Tinju.

Simpang Tinju mungkin hanya saksi bisu. Tapi, Azis Chan sudah menorehkan
tinta sejarah dengan darahnya. Dia telah membuktikan menjadi pejabat harus
sekaligus jadi pejuang. Siap berkorban harta bahkan jiwa, dan bukan mencari
kaya. (Hendra Makmur/N-2)

 



Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
____________________________________________________

Kirim email ke