Saat ini budaya merantau tidak hanya dimiliki orang Minang. 
Suku Batak juga tampaknya lebih banyak yang merantau dari yang masih
tinggal dikampungnya. Selain jadi birokrat lebih banyak lagi yang
bekerja disektor informal. Cukup banyak anggota legislatif dari Suku ini
baik untuk tingkat Propinsi maupun kabupaten di Riau dan Kepri.
Diberbagai pelosok Riau tampak gereja HKBP, bahkan HKBP merupakan
kelompok kristen terbesar di Indonesia. Bahkan dibeberapa kota di Sumbar
penjual sayurnya juga inang-inang.
Walau solidaritas mereka diperantauan rata-rata lebih baik dari orang
Minang, tapi  persentase bantuan yang dikirim kekampung masih dibawah
yang dikirim orang Minang. Bahkan sempat menjadi bahan lelucon kami,
orang Batak baru pulang kampung kalau sudah mau dikubur dan bikin tugu
yang wah dikuburannya. Ini karena tugu kuburan banyak yang pakai keramik
tapi dilain pihak  masih sangat banyak rumah panggung yang dibawahnya
berkeliaran babi menunggu sisa makanan dari tuan rumah 

Kalau orang Bawean tampaknya tujuan rantaunya ke Semenanjung
Melayu/Singapura. Selain itu dari Flores dan Lombok serta daerah lain di
NTT juga cukup tinggi angka migrasinya terutama ke Batam dan Kepri
sebelum meloncat ke tanah Semenanjung.

Aceh semasa DOM kemaren juga banyak sekali  yang terpaksa merantau.
Pangkalan Kerinci ibu kota Kabupaten Pelalawan cukup terkenal sampai
kepelosok Aceh. Tapi banyak diantara mereka yang tidak tahu Pekanbaru
atau Riau yang lain.
Ini karena banyak kesempatan kerja di pelosok-pelosok hutan (HTI)
disana. Imbas lain banyak anggota GAM yang dicokok  maupun tingginya
transaksi ganja disini. Masakan "Mie Aceh" yang terasa agak segar dan
tidak segurih mie di restoran Cina juga mulai banyak peminatnya. Apakah
ini juga pakai bumbu ganja yang memang menjadi bumbu dapur didaerah itu
? 

Kalau soal kurangnya SDM untuk memangku gelar ninik-mamak saya rasa juga
sudah menjadi masaalah ditempat lain di Sumbar ini. Bahkan perantau yang
tidak tahu kondisi kampung karena telah lama bahkan lahir diperantauan,
tapi karena dia agak "the have" banyak yang diangkat jadi penghulu
sekarang. Apakah ini hanya karena banyak kontribusi materilnya saja,
karena dia tidak punya cukup waktu untuk mengurus anak kemenakannya.
Atau bisa juga sebagian tugasnya itu telah didelegasikan pada "penghulu
tungkek" misalnya 


-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of ikra dinnata
Sent: Sunday, November 13, 2005 11:30 AM
To: [email protected]
Subject: [EMAIL PROTECTED] Rumah gadang, Riwayatmu kini

     Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa etos merantau orang
minangkabau sangatlah tinggi, bahkan diperkirakan tertinggi di
Indonesia. Merantau disini dimaksudkan sebagai orang yang pindah atau
migrasi ke luar Sumatra Barat. Dari hasil studi yang pernah dilakukan
oleh  Mohctar Naim 1973,  (Merantau, Minangkabau Voluntary Migration,
University of Singapore),  pada tahun 1961 ada sekitar 32 % orang Minang
berada di luar Sumatra Barat, tapi pada tahun  1971, jumlah itu
meningkat menjadi 44 persen. Berarti hampir separuh orang Minang berada
di luar Sumatra Barat. Jika hal ini benar, maka berarti ada perubahan
cukup besar pada etos merantau orang Minangkabau dibanding suku lainnya
di Indonesia. Sebab menurut sensus tahun 1930, perantau  tertinggi di
Indonesia adalah orang Bawean, 35, 9 %, kemudian Sumatra Utara 14,3 %,
lalu Banjar 14,2 % dan nomor empat suku  Minang 10, 5 %.  Beberapa suku
yang juga punya etos merantau yang kuat adalah Bugis, Manado dan Ambon.


Sewaktu  pulang  kampung beberapa waktu lalu saya cukup terkejut melihat
fenomena yang kini sedang terjadi.  Fenomena itu adalah pertama, rumah
gadang sebagai simbol sistem budaya minang nampaknya akan kehilangan
fungsinya sebagai rumah gadang. Jika dulu rumah kaum itu dihuni banyak
keluarga  keturunan ibu, kini rumah gadang tersebut banyak yang kosong.
Bahkan banyak rumah gadang yang harus mencari penghuni bukan dari
kaumnya, supaya ada yang merawat sebab semua kaumnya merantau.  Memang
banyak kaum yang merenovasi rumah gadangnya, dibangun yang rancak dan
anggun, tapi itu dilakukan bukan untuk ditempati, melainkan hanya
sebagai ornamen, sebagai simbol keluarga. Paling sekali dalam setahun,
saat lebaran mereka berkumpul  di rumah gadang tersebut. Dengan kata
lain rumah gadang akan menjadi museum suatu keluarga.  Fenomena yang
kedua, terutama di daerah agraris seperti solok-selatan,  selain kampung
terasa agak lengang, jumlah perempuan jauh lebih banyak dari laki laki.
Beberapa  keluarga suku atau kaum kesulitan untuk mencari ninik mamak
atau pemimpin kaum yang pandai karena putera putera terbaiknya lebih
banyak dirantau. Padahal ninik mamak sebagai kepala kaum harus berada di
kaumnya. Karena tak ada pilihan lain,  diangkatlah ninik mamak yang
sebenarnya kurang punya wibawa di kaumnya. Dulu posisi itu  diperebutkan
dalam keluarga, karena ninik mamak punya posisi terhormat di
masyarakatnya, tapi kini  banyak yang enggan  memikulnya karena tidak
lagi prestisus. 




Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
____________________________________________________

Kirim email ke