Tinggal di Jakarta, Tetap Jadi Datuk di Kampung Halaman Karatau madang di hulu, babuah babungo balun. Marantau bujang dahulu, di kampuang paguno balun.
Secara garis besar, pepatah itu berisi petuah agar orang Minang selagi muda pergi merantau ke luar kampung. Selagi muda, mereka belum berguna bagi keluarga dan kampung halaman. Jadi, sebaiknya mereka merantau untuk mencari ilmu serta pekerjaan yang kelak dapat berguna sebagai bekal membangun keluarga dan kampung halaman. Tidak heran mengapa sejak dulu atau puluhan bahkan mungkin ratusan tahun yang lalu, masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat, atau biasa disebut orang Minang atau orang Padang telah hidup dengan merantau ke negeri orang. Itulah mengapa mereka dikenal sebagai masyarakat perantau. Tradisi merantau itu telah diwarisi secara turun-temurun dari zaman nenek moyang mereka. "Kalau masih muda kan mereka belum ada gunanya di rumah atau kampung halaman. Jadi, mereka disuruh merantau untuk mencari ilmu dan bekal yang cukup. Kalau sudah punya ilmu serta penghasilan yang baik, barulah mereka disuruh pulang untuk membangun keluarga dan kampung halaman," jelas Ketua Umum Badan Koordinasi Kemasyarakatan dan Kebudayaan Alam Minangkabau (BK3AM), Drs H Syamsir Kadir MBA ketika ditemui Pembaruan, baru-baru ini. Bahkan menurut staf bagian Hubungan Antar Lembaga, Kantor Penghubung Provinsi Sumatera Barat di Jakarta Timur, Herman Tanjung, diprediksi jumlah orang Minang yang tinggal dan hidup di luar kampung halaman lebih banyak dari jumlah mereka yang menetap di Padang. Diperkirakan, jumlah masyarakat Minang yang tinggal di kampung halaman sekitar 4 juta jiwa sedangkan yang merantau sekitar 5 juta jiwa. "Para perantau Minang ini tersebar hampir di seluruh provinsi di Pulau Jawa, Sumatera Utara, Riau, dan Sumatera Selatan. Pokoknya, di seluruh wilayah Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri, seperti Negeri Sembilan (Malaysia). Tapi yang paling banyak berada di Jakarta, diperkirakan hampir mencapai 2 juta jiwa," kata Herman. Meski demikian katanya, kebanyakan orang Minang perantau akan tetap mengaku sebagai orang Padang, meski telah hidup secara turun-menurun di tanah rantau. Tidak terkecuali mereka yang hidup merantau di Jakarta. Bahkan anak yang lahir di tempat perantauan pun akan tetap mengaku sebagai orang Minang. "Misalnya, kalau orang tuanya merantau ke Jakarta, kemudian anak-anaknya lahir di sini, kebanyakan mereka tetap mengaku sebagai orang Padang, bukan sebagai orang Jakarta," imbuhnya Menurut Herman, sebagian besar perantau Minang di Jakarta tetap punya ikatan emosional dan juga ikatan kekerabatan dengan daerah asalnya. Bahkan di antara kalangan elite perantau ini berperan pula sebagai datuk (penghulu), bagi masyarakat di kampung halamannya. "Dengan demikian, meski pun mereka sudah menjadi penduduk dan warga Jakarta, tetapi mereka tetap berfungsi sebagai pemimpin masyarakat (informal leader) bagi anak, kemenakan (keponakan) mereka yang berada di kampung," tuturnya. Sementara itu, menurut Syamsir, meski hidup di rantau tetapi ikatan sosial dan emosional masyarakat Minang sangat kuat, yang dimulai dari unit keluarga, dan terus berkembang menjadi ikatan sesuku, sekampung, dan nagari (desa). Karena kedekatan secara emosional itu, jangan heran kalau orang Padang yang merantau seperti di Jakarta, selalu didatangi oleh keponakan atau keluarga dari Padang. "Seperti saya, sejak menikah tahun 1971 rumah saya tidak pernah sepi dari keponakan yang ingin numpang tinggal, karena mereka harus melanjutkan studi atau mencari pekerjaan di Jakarta," katanya. Setelah mereka mapan, barulah mereka ke luar rumah dan diganti dengan kehadiran keponakan lainnya. "Mereka pun setelah mapan, juga akan ditumpangi oleh keluarga yang lain. Hal itu sudah biasa dalam kehidupan orang Minang, terutama yang di Jakarta," jelasnya. Di samping itu, karena kedekatan emosional dengan daerahnya itu, kata Syamsir, orang Minang di Jakarta pun biasanya akan saling berkoordinasi dan berkumpul dengan masyarakat sesuku yang sama-sama merantau. Mereka berinteraksi dan saling bertukar pikiran dalam satu kelompok kesukuan, dari yang kecil, seperti arisan keluarga, sampai yang berskala nasional, seperti Gerakan Seribu (Gebu) Minang. Di Jakarta juga terdapat beberapa perkumpulan orang Minang lainnya, seperti Gerakan Sosial Orang Rantau (Gesor), Asosiasi Seniman Minang Indonesia (ASMI), Yayasan Rumah Gadang, BK3AM, Majelis Pembina Adat Alam Minangkabau (MPAAM), Lembaga Kesenian Alam Minangkabau (LKAM), Badan Koordinasi Ikatan Keluarga 50 kota (Bakor 50 Kota), Bakor Ikatan Keluarga (IKK) Agam, Bakor IKK Kota Padang, Bakor IKK Padang Panjang, Bakor IKK Padang Pariaman, Bakor IKK Pasaman, Bakor IKK Solok, dan lain-lain. Hubungan dengan sanak keluarga di kampung pun, kata Herman, tetap terjaga dengan baik. Selain melakukan kontak dengan sanak keluarganya di kampung, para perantau Minang ini juga mempunyai kebiasaan berkirim uang secara teratur untuk saudara-saudaranya yang tingal di kampung halaman. Berdasarkan data yang diperoleh dari Kantor Penghubung Sumbar, jumlah kiriman uang lewat wesel pos saja sejak beberapa tahun terakhir mencapai lebih dari Rp 40 miliar setahun. Bahkan, para perantau yang telah berhasil menjadi pengusaha atau pejabat tinggi seperti di Jakarta, punya kebiasaan pula menyumbangkan uang dalam jumlah besar untuk pembangunan daerah Sumbar. Menurut Syamsir, untuk mempertahankan hidupnya di Jakarta sekitar 60-70 persen para perantau Minang memilih membidangi usaha informal, seperti berdagang atau sopir. Sedangkan sisanya di bidang formal, seperti pegawai. Di Jakarta, keuletan orang Minang dalam berdagang sudah tidak diragukan lagi, terutama sebagai pedagang kaki lima. Banyak di antara mereka juga memilih membuka usaha rumah makan Padang. Hampir di seluruh wilayah di Jakarta mudah ditemui rumah makan Padang, dari mulai sekelas warteg maupun restoran berkelas, seperti rumah makan Sederhana, Salero Bundo, Natrabu, dan lain-lain. Merantau dan berhasil di negeri orang, tak membuat orang Padang lupa pada kampung halaman. Ikatan emosional yang kuat itulah menjadi salah satu keistimewaan orang Padang hingga kini, yang belum tentu dimiliki oleh etnis lain. PEMBARUAN/YUMELDASARI CHANIAGO -----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of Rasyid, Taufiq (taufiqr) Sent: Monday, November 14, 2005 9:04 AM To: [email protected] Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] Rumah gadang, Riwayatmu kini Website http://www.rantaunet.org _____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ____________________________________________________ Website http://www.rantaunet.org _____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ____________________________________________________

